Transformasi Digital di Sektor Perbankan
Transformasi digital terus menjadi fokus utama industri perbankan. Berbagai bank berupaya memperkuat infrastruktur teknologi melalui pengeluaran modal (capital expenditure) yang signifikan. Selain itu, mereka juga mengembangkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan meningkatkan keamanan siber dalam menghadapi peningkatan transaksi digital dan ancaman kejahatan siber.
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) telah merealisasikan sebagian besar target penyerapan belanja modal teknologi informasi (TI) pada semester I-2026. Direktur Information Technology BTN Tan Jacky Chen menyatakan bahwa hingga akhir Juni 2026 realisasi capex TI mencapai sekitar 85%-90% dari target yang direncanakan.
“Realisasi capex TI hingga akhir Juni 2026 mencapai sekitar 85%-90% dari target penyerapan yang direncanakan sampai dengan Juni,” ujar Jacky kepada Infomalangraya.net.co.id.
Penyerapan anggaran akan terus meningkat pada semester II seiring penyelesaian berbagai proyek strategis yang masih dalam tahap implementasi. “Penyerapan ini akan terus meningkat seiring penyelesaian tahapan implementasi dan pemenuhan milestone berbagai proyek strategis yang sebagian besar berada pada semester kedua tahun ini,” tambahnya.
Sebagai informasi, BTN meningkatkan anggaran belanja modal TI sekitar 10% dibandingkan tahun lalu. Pada 2025, BTN mengalokasikan capex TI sebesar Rp 1 triliun, sehingga anggaran tahun ini diperkirakan mencapai sekitar Rp 1,1 triliun.
Menurut Jacky, realisasi belanja modal tersebut digunakan untuk mendukung berbagai proyek strategis, mulai dari penguatan infrastruktur teknologi, pengembangan aplikasi dan layanan digital berbasis AI, modernisasi platform operasional hingga peningkatan keamanan sistem.
“Realisasi capex IT digunakan untuk mendukung berbagai inisiatif strategis, antara lain penguatan infrastruktur teknologi, pengembangan aplikasi dan layanan digital, termasuk AI, modernisasi platform pendukung operasional, serta peningkatan keamanan dan keandalan sistem,” jelasnya.
Penyerapan anggaran belum mencapai 100% karena karakteristik proyek teknologi yang menggunakan skema pembayaran berdasarkan penyelesaian tahapan pekerjaan (milestone). Selain transformasi digital, BTN juga memperkuat investasi pada keamanan siber. Perseroan meningkatkan kemampuan deteksi transaksi mencurigakan, memperkuat perlindungan infrastruktur dan aplikasi, serta meningkatkan kapabilitas Security Operations Center (SOC) agar mampu merespons ancaman siber secara lebih cepat.
“Keamanan digital merupakan salah satu prioritas utama BTN. Tahun ini kami terus memperkuat keamanan secara menyeluruh, baik dari sisi teknologi, proses maupun kesiapan sumber daya manusia,” kata Jacky.
BTN juga terus mengedukasi nasabah mengenai berbagai modus penipuan digital. Menurut Jacky, perlindungan yang efektif membutuhkan kolaborasi antara sistem keamanan bank dan kewaspadaan nasabah.
Investasi Teknologi di KB Bank dan BSI
Selain BTN, PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) mengalokasikan capex TI sebesar Rp 200 miliar pada tahun ini sebagai bagian dari transformasi digital perseroan. Direktur Keuangan KB Bank Jang Hyuk Im menjelaskan bahwa dana tersebut terutama digunakan untuk mendukung pengembangan Next Generation Banking System (NGBS) yang menjadi salah satu proyek strategis perusahaan.
“Memang untuk capex di tahun ini sendiri untuk IT sekitar Rp 200 miliar,” ujarnya.
Implementasi NGBS sebenarnya telah rampung pada tahun lalu dengan nilai investasi sekitar Rp 1,2 triliun. Tahun ini, pengembangan sistem tersebut masih menjadi salah satu indikator kinerja utama atau key performance indicator (KPI).
Direktur Wholesale KB Bank Widodo Suryadi menambahkan bahwa digitalisasi menjadi salah satu pilar utama transformasi perusahaan. Menurutnya, teknologi tidak dimaksudkan menggantikan hubungan bank dengan nasabah, melainkan meningkatkan kualitas layanan.
“Dengan dukungan penuh dari KB Financial Group, kami akan terus memperkuat bisnis korporasi dan ritel, mengembangkan kapasitas digital, serta menghadirkan solusi keuangan yang relevan bagi nasabah korporasi, UMKM maupun individu,” ujar Widodo.
Di sisi lain, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menjalankan modernisasi sistem teknologi informasi melalui program investasi multiyears. Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan bahwa total investasi teknologi informasi sepanjang periode 2023-2026 mencapai sekitar Rp 7 triliun.
“IT memang kita menggunakan capex dari 2023 sampai dengan 2026 itu sekitar Rp 7 triliun. Jadi selama empat tahun dan itu dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan sistem,” ujar Wisnu.
Salah satu proyek terbesar yang telah diselesaikan adalah migrasi sistem core banking dari R10 ke R24. Modernisasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional hingga sekitar 80%, mempercepat proses close of business (COB), serta memperbesar kapasitas sistem untuk mendukung pertumbuhan bisnis digital.
Modernisasi juga mencakup pengembangan berbagai layanan digital seperti BSI Mobile, BYOND, BSI Net, BSI Agen, QRIS, Electronic Data Capture (EDC), Data Center, Merchant, Bullion, hingga layanan Custody. Saat ini, tingkat ketersediaan seluruh kanal digital BSI telah mencapai 99,99%, sehingga transaksi melalui kanal digital maupun kantor cabang dapat berjalan lancar.
“Modernisasi sistem IT sudah sesuai dengan anggaran capex multiyears yang telah direncanakan dan disesuaikan dengan proyeksi peningkatan kapasitas bisnis,” katanya.
Ia menambahkan bahwa seluruh proses transformasi dilakukan secara bertahap melalui berbagai tahap uji coba (rehearsal) dengan pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Danantara untuk memastikan implementasi berlangsung aman dan terkendali.
Berdasarkan paparan kinerja perseroan, hingga kuartal I-2026 BSI telah merealisasikan belanja modal teknologi digital sebesar sekitar Rp 121 miliar.
