Penjelasan Mengenai Fenomena “Godzilla El Nino” dan Dampaknya
Istilah “Godzilla El Nino” yang sedang viral di media sosial menarik perhatian masyarakat luas. Fenomena ini memicu kekhawatiran terkait dampak yang akan terjadi. Dalam wawancara khusus dengan program Ngobrol Virtual (Ngovi) Tribun Timur, Senin (6/4/2026), Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV, Rizky Yudha Pahlawan, menjelaskan secara lengkap mengenai fenomena ini, mulai dari definisi hingga langkah mitigasi.
Apa Perbedaan “Godzilla El Nino” dengan El Nino Biasa?
Fenomena “Godzilla El Nino” tidak berasal dari BMKG, melainkan dari teman-teman BRIN yang melihat adanya potensi fenomena El Nino bersamaan dengan Indian Ocean Dipole positif. Dua fenomena ini dinarasikan sebagai “El Nino Godzilla”. Fenomena ini menunjukkan potensi pengurangan curah hujan yang signifikan di Indonesia selama musim kemarau.
Secara terminologi klimatologi, istilah “Godzilla El Nino” belum ada. Yang ada hanya El Nino kategori lemah, moderat, kuat, maupun sangat kuat. Istilah ini digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat.
Apakah Istilah Ini Menyesatkan?
Perlu disikapi dengan bijak karena istilah “Godzilla” terkesan ekstrem. Lebih amannya, Indonesia diprediksi akan mengalami El Nino dengan kategori lemah di tahun ini.
Bagaimana Gambaran El Nino Tahun 2026?
El Nino terjadi beberapa tahun sekali. Dari historis, kategori kuat terjadi pada 2023-2024, yang berdampak besar pada pasokan air dan listrik. Kategori sangat kuat terjadi pada 2015-2016. Untuk tahun 2026, BMKG memprediksi sekitar 50 sampai 60 persen di semester kedua, mulai Juli sampai akhir tahun, akan terjadi El Nino dengan kategori lemah hingga moderat. Masih di bawah tahun 2023.
Kapan Puncak Fenomena Ini Terjadi?
Puncak El Nino diperkirakan terjadi sekitar Agustus–September, bersamaan dengan puncak musim kemarau di Sulawesi Selatan, khususnya bagian barat dan selatan. Potensi pengurangan curah hujan akan sangat signifikan, dan suhu udara juga diprediksi lebih panas dari biasanya.
Mengapa Cuaca Masih Tidak Menentu?
Saat ini kita memasuki periode pancaroba, peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Biasanya satu bulan sebelum kemarau, kita masuk fase ini. Polanya pagi hingga siang panas terik, kemudian sore hingga malam hari berpotensi hujan yang bervariasi, dengan intensitas ringan hingga lebat.
Bagaimana Kombinasi El Nino dengan Indian Ocean Dipole?
Ada dua faktor global yang mempengaruhi cuaca di Indonesia: El Nino–La Nina di Samudra Pasifik dan Indian Ocean Dipole di Samudra Hindia. Untuk Sulawesi Selatan, pengaruhnya dari El Nino dan La Nina.
Apakah Suhu Bisa Mencapai 38 Derajat Celcius?
Prediksi kami, suhu bisa saja menyentuh 37 atau 38 derajat Celcius, tetapi tidak berlangsung lama. Biasanya hanya satu atau dua hari, kemudian mereda, lalu bisa muncul lagi beberapa pekan kemudian.
Wilayah Mana yang Paling Rentan Terdampak Kekeringan?
Wilayah seperti Takalar, Jeneponto, dan Gowa bagian selatan diprediksi lebih dulu masuk musim kemarau. Musim kemarau di bawah normal, artinya curah hujannya lebih rendah dibanding rata-rata 30 tahunan. Sulsel perlu mewaspadai pengurangan curah hujan pada kemarau ini.
Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan
BMKG setiap hari merilis hotspot, titik panas di wilayah Indonesia, termasuk Sulsel. Wilayah yang lama tidak hujan seperti Wajo, Bone, Jeneponto, dan Bantaeng berpotensi terjadi kebakaran hutan dan lahan. Ini perlu diwaspadai, karena berpotensi menyebabkan kebakaran.
Indikator Sederhana untuk Mengenali Darurat
Jika suatu wilayah tidak diguyur hujan selama 30 hari, masyarakat sudah harus waspada potensi kekeringan meteorologis. Upaya mengurangi dampak tidak turunnya hujan tersebut perlu dilakukan.
Sisi Positif dari Fenomena El Nino
Ada sisi positif dari El Nino. Petani garam tradisional, seperti di Jeneponto dan Pangkep, diproyeksikan akan diuntungkan karena curah hujan berkurang. Produksinya lebih meningkat. Selain itu, nelayan tangkap di wilayah pesisir juga diuntungkan karena upwelling, yaitu naiknya nutrien dari dasar laut sehingga ikan lebih banyak di permukaan.
Langkah Mitigasi yang Bisa Dilakukan
Sebelum memasuki semester kedua, pemerintah daerah maupun masyarakat bisa melakukan mitigasi. Di sektor pertanian, petani bisa memilih varietas tanaman yang tahan kekeringan. Di sektor energi, air yang masih ada bisa disimpan, seperti melalui PLTA. Di sektor sumber daya air, waduk perlu direvitalisasi. Untuk masyarakat, penting menjaga kesehatan, mencukupi asupan air, dan menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Masyarakat
Yang sering terjadi adalah pembakaran, baik sampah, daun kering, maupun membuang puntung rokok sembarangan. Ini sangat berbahaya karena kondisi kering dan angin kencang membuat api cepat menyebar. Ini perlu diwaspadai oleh masyarakat, baik di perkotaan maupun pedesaan.
Tips Menjaga Kesehatan Saat Cuaca Panas
Pastikan asupan air minimal dua liter per hari terpenuhi agar terhindar dari dehidrasi. Gunakan pelindung seperti topi, jaket, atau tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan.
Cara Mengakses Informasi Resmi BMKG
BMKG telah menyediakan berbagai moda diseminasi, baik berbasis aplikasi ataupun website. Masyarakat bisa mengunduh aplikasi Info BMKG di Play Store atau App Store. Di aplikasi itu sudah sangat lengkap. Selain itu bisa mengakses website bmkg.go.id dan mengikuti media sosial @bmkgulsel dan saluran WhatsApp BMKG.
Pesan untuk Masyarakat
Di periode peralihan ini, bulan April, cuaca akan cepat berubah dari cerah hingga hujan. Ini bisa mempengaruhi kesehatan. Kami menghimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan, mencukupi asupan air dan gizi, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari.
