Ramadan: Momentum Refleksi dan Perubahan Sosial

Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum refleksi untuk mengoreksi pola hidup dan sistem sosial yang membentuknya. Pesan ini disampaikan oleh Ustadz Achmad Saifullah Syahid saat mengisi Majelis Ilmu Ngaji Bareng pada bulan Ramadan 1447 H di Mushola Al-Fath, Jagalan, Kepatihan, Kecamatan Jombang.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Achmad menyoroti kecenderungan ceramah dan kampanye keagamaan yang lebih banyak menekankan perubahan individu. Ia menyatakan bahwa umat sering diajak mengurangi porsi makan, tidak boros, menahan hawa nafsu, serta memperbanyak sedekah. Meskipun pendekatan ini tidak salah, ia menilai bahwa perubahan sering berhenti pada diri pribadi. Beban perubahan seolah hanya ada di individu.

Ia mengingatkan bahwa kritik serupa pernah disampaikan oleh pemikir pendidikan asal Brasil, Paulo Freire, yang menilai pendidikan tak cukup hanya menanamkan nilai tanpa menyentuh struktur yang melahirkan persoalan. Dalam konteks Ramadan, menurutnya, semangat spiritual perlu diperluas hingga menyasar sistem sosial-ekonomi yang memengaruui perilaku konsumsi.

Kritik pada Pendekatan Individualistik

Ustadz Achmad menjelaskan bahwa lonjakan konsumsi saat berbuka puasa bukan semata-mata persoalan lemahnya pengendalian diri. Ia melihatnya sebagai gejala dari arsitektur sosial yang membuat rasa “cukup” sulit dicapai. Sistem distribusi pangan yang timpang, industri makanan yang bertumpu pada perputaran limbah, hingga budaya kerja yang menyita hampir seluruh waktu produktif manusia, dinilai turut berkontribusi terhadap pola konsumsi berlebihan.

“Banyak orang berbuka sambil tetap terhubung dengan pekerjaan di sela rapat daring, di jalan, atau sambil membalas pesan atasan. Waktu magrib menjadi satu-satunya momen yang terasa milik pribadi,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadikan waktu berbuka sebagai katarsis emosional setelah seharian berada dalam tekanan target dan deadline. Ledakan konsumsi pun kerap menjadi pelampiasan psikologis akibat kurangnya ruang jeda dan otonomi dalam keseharian.

Padahal, secara substantif, puasa merupakan latihan mengelola waktu dan hasrat. Ia mengajarkan penundaan kepuasan serta pengaturan ulang ritme hidup.

Berbuka sebagai Katarsis Emosional

“Ramadan seharusnya menjadi momentum merebut kembali kendali atas waktu, bukan sekadar menahan lapar,” katanya.

Karena itu, ia mengajak jamaah untuk tidak berhenti pada kritik moral individu. Kesalehan personal tetap penting, tetapi perlu berkembang menjadi kesadaran kolektif untuk memperbaiki sistem. Ia mencontohkan, zakat tidak hanya dipahami sebagai bantuan musiman, melainkan dapat diarahkan menjadi program pemberdayaan ekonomi berkelanjutan. Pembagian takjil pun bisa dirancang berdasarkan pemetaan kebutuhan riil masyarakat serta upaya mengurangi limbah makanan.

“Buka puasa bersama jangan hanya menjadi festival konsumsi, tetapi juga ruang refleksi tentang keadilan sosial dan kebijakan pangan,” ungkapnya.

Tantangan Ramadan dan Energi Solidaritas

Di akhir pengajian, Ustadz Achmad menegaskan bahwa tantangan Ramadan bukan hanya melawan godaan pasar atau hawa nafsu, tetapi juga melawan cara pandang yang memaknai persoalan sosial sebagai semata-mata masalah moral pribadi. Menurutnya, Ramadan menyimpan energi solidaritas dan redistribusi ekonomi dalam skala besar. Jika energi itu hanya dihabiskan untuk perbaikan diri tanpa menyentuh struktur, maka Ramadan akan terus berulang sebagai ritual tahunan tanpa perubahan signifikan.

“Ramadan memiliki potensi revolusioner. Ia bisa menjadi prototipe masyarakat alternatif yang lebih adil, jika kita mau melangkah lebih jauh,” pungkas Ustadz Achmad.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version