Keluhan Pedagang Lokal Terhadap Peredaran Daging Sapi dari Luar Daerah
Peredaran daging sapi yang berasal dari luar daerah, khususnya dari wilayah Krian, Sidoarjo, di Pasar Legi Jombang menjadi sorotan utama bagi para pedagang dan jagal lokal. Mereka mengeluhkan adanya persaingan harga yang tidak seimbang akibat penjualan daging dengan harga lebih murah dibandingkan daging hasil pemotongan di Rumah Potong Hewan (RPH) Jombang.
Persoalan Harga dan Persaingan Usaha
Menurut informasi yang diperoleh, pedagang luar daerah menjual daging sapi dengan harga berkisar antara Rp92 ribu hingga Rp95 ribu per kilogram. Sementara itu, harga patokan dari RPH Jombang mencapai sekitar Rp100 ribu per kilogram. Perbedaan harga ini menimbulkan kesulitan bagi pedagang lokal yang terpaksa bersaing dalam pasar yang tidak seimbang.
Para pedagang setempat mengakui bahwa pembeli cenderung memilih daging dari luar daerah karena harganya lebih murah. Hal ini berdampak pada penurunan omzet harian mereka. Ulfa (51), salah satu pedagang daging di Pasar Legi, mengatakan bahwa sebelumnya ia mampu menjual sekitar 45 kilogram per hari, tetapi kini sulit mencapai angka tersebut. Ia bahkan harus menambah pinjaman kepada pemasok untuk tetap bisa berjualan.
Pengawasan dan Evaluasi dari Dinas Peternakan
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Jombang, Moch. Saleh, menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap keluhan para pedagang. Meski kewenangan Dinas Peternakan lebih difokuskan pada aspek teknis seperti pengawasan penyembelihan hewan dan kesehatan daging, Saleh menegaskan bahwa instansinya akan tetap menampung aspirasi pedagang dan melakukan koordinasi dengan pihak terkait.
Saleh menjelaskan bahwa semua laporan yang masuk akan dievaluasi secara menyeluruh. Hasil evaluasi tersebut nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan koordinasi dengan aparat penegak hukum dan instansi terkait.
Peningkatan Volume Pengiriman Daging
Selain soal harga, para pedagang juga mengkhawatirkan peningkatan volume pengiriman daging dari luar daerah. Menurut Ketua Jagal Jombang, Yono, sebelumnya distribusi hanya dilakukan dalam jumlah kecil menggunakan sepeda motor. Namun, kini pengiriman disebut mencapai tiga unit kendaraan pikap dalam sekali masuk ke wilayah Jombang.
Yono menyoroti bahwa daging yang beredar tersebut tidak dipotong di RPH Jombang sehingga tidak memberikan kontribusi pendapatan bagi daerah. Ia mengaku selama beberapa tahun terakhir rutin menyetorkan kontribusi kepada pemerintah daerah melalui aktivitas pemotongan di RPH, dengan nilai mencapai sekitar Rp10 juta setiap bulan.
Harapan Pedagang untuk Penertiban
Pedagang lokal berharap instansi terkait dapat segera mengambil langkah pengaturan agar distribusi daging lebih tertib. Mereka meminta adanya penataan pasokan melalui RPH Jombang supaya harga di tingkat pasar lebih seimbang dan tidak merugikan pedagang lokal.
“Kami sudah menyampaikan keluhan ini melalui ketua kami, Pak Yono. Harapan kami ada solusi yang adil untuk semua pedagang,” ujar Ulfa.
