Kebiasaan Pemain Sepak Bola Menggunakan Headphone Sebelum Pertandingan
Di berbagai lini lapangan sepak bola, kebiasaan pemain mengenakan headset atau headphone sebelum pertandingan kini menjadi bagian dari budaya pop modern. Tidak hanya sekadar gaya, kebiasaan ini memiliki tujuan penting dalam membantu para atlet membangun fokus, ketenangan mental, serta meningkatkan energi sebelum tampil di lapangan.
Dalam lorong stadion, di dalam bus tim, bahkan beberapa menit sebelum kick-off dimulai, banyak pemain memilih untuk tenggelam dalam musik mereka sendiri. Ruang personal yang tercipta dari headphone membantu mereka mengisolasi diri dari tekanan, kebisingan stadion, hingga komentar negatif yang bisa memengaruhi mental bertanding.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di dunia olahraga. Budaya menikmati audio kini menjelma menjadi gaya hidup baru, termasuk di Surabaya yang mulai ramai dengan komunitas audiophile dan pengalaman mendengarkan audio premium secara komunal.
Mengapa Pesepak Bola Selalu Memakai Headphone Sebelum Bertanding?
Para pemain sepak bola membutuhkan kondisi mental yang stabil sebelum bertanding, dan musik menjadi salah satu cara paling efektif untuk mencapainya. Headphone membantu mereka masuk ke “zona fokus” sebelum peluit pertama dibunyikan. Musik dengan tempo tertentu terbukti mampu memengaruhi suasana hati dan meningkatkan adrenalin. Karena itu, banyak pemain memiliki playlist khusus yang hanya diputar sebelum pertandingan dimulai.
Bintang Persib Bandung, Marc Klok, pernah mengungkapkan kebiasaan pribadinya saat masih membela Persija Jakarta. Dia memilih mendengarkan lagu tertentu agar lebih rileks sekaligus bersemangat sebelum masuk lapangan. “Saya memiliki tiga lagu yang paling sering saya dengarkan. Lagu-lagu tersebut adalah Trophies dari Drake, Soweto Blues milik Juls, dan Djadja yang dinyanyikan Aya Nakamura,” ujarnya.
Lagu-lagu tersebut membuatnya rileks dan bergairah. Ketika mendengarkan lagu itu, energi dan fokusnya meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa musik bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga alat bantu psikologis bagi pemain sepak bola.
Selain membantu fokus, headphone juga menjadi alat untuk menghalau kebisingan. Dalam atmosfer stadion yang penuh tekanan, para pemain membutuhkan ruang tenang agar kondisi emosional mereka tetap stabil sebelum bertanding. Tak sedikit pemain yang juga menggunakan headphone untuk menghindari gangguan eksternal, mulai dari teriakan penonton hingga pertanyaan wartawan saat berjalan menuju ruang ganti. Rutinitas ini membantu mereka menjaga konsentrasi tetap utuh.
Budaya Audio Premium Kini Masuk ke Gaya Hidup Anak Muda
Tren menikmati kualitas audio kini berkembang jauh melampaui kebutuhan mendengarkan musik biasa seperti yang sering kita temui di olahraga sepak bola. Earphone dan headphone mulai diperlakukan layaknya fashion item sekaligus perangkat personal dengan fungsi berbeda-beda.
Direktur IMS, Wira Sutedja, menilai penggunaan perangkat audio saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Bahkan, banyak orang memiliki beberapa perangkat audio sekaligus sesuai kebutuhan aktivitas mereka. “Earphone atau headphone saat ini posisinya sudah seperti sepatu, di mana orang rata-rata memiliki 2 hingga 6 unit karena kebutuhannya berbeda-beda,” ujar Wira Sutedja.
Menurutnya, perangkat audio untuk bersantai di rumah tentu berbeda dengan earphone yang digunakan saat nongkrong di coffee shop atau bepergian. Setiap kategori memiliki karakteristik suara dan fungsi tersendiri. “Setiap barang memiliki kategorinya masing-masing. Kebutuhan studio memerlukan karakteristik suara yang flat. Kebutuhan penerbangan headphone khusus di bandara atau pesawat dibuat bukan untuk sekadar mendengar suara, melainkan khusus menghalau bising dari luar,” jelasnya.
Wira juga mengingatkan penggunaan earphone tidak bisa sembarangan. Cara pemasangan yang salah dapat membuat telinga terasa sakit dan mendorong pengguna menaikkan volume secara berlebihan. “Earphone itu tidak sekadar langsung dimasukkan atau dicetok begitu saja ke dalam kuping. Ada cara pakai yang benar agar tidak menimbulkan rasa sakit,” ujarnya.
Fenomena Audio Premium Kini Hadir dalam Pengalaman Interaktif
Fenomena audio premium kini juga hadir dalam bentuk pengalaman interaktif yang lebih sosial dan komunal. Salah satunya lewat acara “Sennheiser Treasure Hunt” yang digelar di Orpheus Listening Bar, Tambaksari, Surabaya, Sabtu (16/5/2026). Acara yang digelar DeSound dan Soundignity itu mengusung konsep listening experience di ruang intim khas listening bar.
Pengunjung tidak hanya melihat produk audio, tetapi juga diajak merasakan langsung karakter suara dari berbagai perangkat. Konsep “Treasure Hunt” membuat pengalaman mencoba perangkat audio terasa lebih menarik dan tidak kaku seperti pameran teknologi biasa. Pengunjung diajak berburu pengalaman suara terbaik sambil berinteraksi dengan komunitas.
Content Creator Soundignity, Sebastian, menyebut antusiasme masyarakat Surabaya terhadap dunia audio premium terus meningkat. Komunitas audiophile lokal dinilai tumbuh cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. “Sangat antusias, memiliki potensi yang bagus, dan peminatnya banyak,” ujarnya.
Dia menilai pengalaman mendengarkan langsung menjadi hal penting dalam dunia audio premium. Sebab kualitas suara tidak cukup dijelaskan lewat spesifikasi teknis semata. “Spesifikasi produk, karena kualitas audio adalah hal yang harus dirasakan langsung lewat indra pendengaran, mirip seperti menilai tone warna pada kamera,” jelasnya.
Tren Audiophile dan Audio Vintage Mulai Bangkit Lagi
Menariknya, tren audio premium saat ini tidak hanya didorong oleh perangkat modern. Produk audio vintage seperti kaset dan CD juga mulai kembali diminati oleh kalangan muda. Sebastian menyebut fenomena itu mirip seperti perputaran tren fashion yang terus berulang. Generasi baru mulai mencari pengalaman mendengarkan musik yang lebih personal dan autentik dibanding streaming digital biasa.
“Komunitas audiophile di Surabaya tumbuh cukup subur. Peminat earphone kabel terus meningkat dari hari ke hari. Selain itu, tren produk audio vintage seperti kaset dan CD juga sedang naik daun kembali,” ujarnya.
Kebangkitan budaya audio ini menunjukkan perubahan cara masyarakat menikmati musik. Mendengarkan lagu kini bukan lagi sekadar aktivitas latar belakang, melainkan pengalaman emosional yang dinikmati secara serius. Fenomena yang awalnya akrab di lorong stadion sepak bola kini menjelma menjadi bagian dari gaya hidup urban.
Dari pemain sepak bola hingga anak muda di listening bar, headphone bukan lagi sekadar alat dengar, tetapi medium untuk mencari fokus, kenyamanan, sekaligus identitas diri.
