Respons Menteri Keuangan terhadap Isu Resesi Ekonomi Indonesia

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memberikan respons tegas terhadap klaim sejumlah ekonom yang menyebut ekonomi Indonesia telah memasuki fase resesi. Ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi nasional masih dalam posisi solid dan tidak mengalami penurunan signifikan.

Pemerintah menilai bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat meskipun ada ketegangan geopolitik global, khususnya konflik antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat. Dalam sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026), Purbaya menyampaikan bahwa isu resesi tidak sesuai dengan realitas yang terjadi di lapangan.

Kinerja APBN dan Indikator Ekonomi yang Positif

Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Februari 2026 menunjukkan pertumbuhan pendapatan negara yang stabil. Pendapatan negara mencapai Rp358 triliun atau sekitar 11,4 persen dari target tahunan, meningkat 12,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penerimaan pajak bahkan melonjak hingga 30,4 persen.

Di sisi lain, belanja negara mencapai Rp493,8 triliun atau sekitar 12,8 persen dari pagu anggaran. Angka ini meningkat 41,9 persen secara tahunan. Defisit APBN tercatat sebesar Rp135,7 triliun atau sekitar 0,53 persen terhadap PDB, yang dinilai masih dalam batas aman.

Indeks Manufaktur dan Daya Beli Masyarakat

Indeks manufaktur Indonesia atau Purchasing Managers’ Index (PMI) pada Februari 2026 tercatat mencapai 53,8, angka tertinggi dalam dua tahun terakhir. Capaian ini menunjukkan sektor manufaktur sedang dalam fase ekspansi. PMI di atas angka 50 menandakan pertumbuhan positif di sektor tersebut.

Daya beli masyarakat juga menunjukkan tren penguatan. Mandiri Spending Index pada Februari tercatat meningkat hingga 360,7 persen. Sementara itu, penjualan mobil nasional mengalami pertumbuhan dua digit, yakni mencapai 12 persen.

Inflasi dan Stabilitas Ekonomi

Tingkat inflasi tahunan (year on year) pada Februari 2026 tercatat 4,76 persen. Namun, Purbaya menilai angka tersebut dipengaruhi faktor sementara seperti efek basis rendah akibat program diskon listrik pada tahun sebelumnya. Jika faktor tersebut tidak diperhitungkan, inflasi diperkirakan hanya sekitar 2,59 persen, masih berada di bawah target pemerintah.

Penempatan kas pemerintah sebesar Rp200 triliun di sistem perbankan disebut berhasil menjaga likuiditas sehingga suku bunga kredit turun menjadi 8,8 persen pada Januari 2026.

Kritik dari Rocky Gerung

Sebelumnya, Rocky Gerung menilai Indonesia perlu lebih waspada terhadap dampak konflik internasional yang sedang berlangsung. Menurutnya, perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran merupakan faktor global yang penuh ketidakpastian dan dapat berdampak serius pada perekonomian.

Rocky juga mengkritik optimisme yang sebelumnya disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya. Menurutnya, optimisme tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di lapangan. Ia menegaskan bahwa indikator makroekonomi tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat secara langsung.

Kritik di Media Sosial

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku mendapat kritik keras dari warganet di media sosial, terutama di platform TikTok. Kritik tersebut muncul setelah nilai tukar rupiah melemah hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS.

Meski mendapat kritik, Purbaya menegaskan bahwa pelemahan rupiah masih relatif lebih baik dibandingkan mata uang beberapa negara lain di kawasan. Berdasarkan data pemerintah, depresiasi rupiah sejak konflik Amerika Serikat–Israel melawan Iran hanya mencapai sekitar 0,3 persen.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version