Tim SAR Berhasil Menemukan Dua Pramugari di Jurang 500 Meter
Tim SAR akhirnya berhasil menemukan dua pramugari yang terjebak di dalam jurang sedalam 500 meter di Gunung Bulusaraung. Kedua korban, yaitu Florencia Lolita Wibisono dan Esther Aprilita Sianipar, ditemukan setelah proses pencarian yang sangat melelahkan dan penuh tantangan.
Kepala Basarnas Marsekal Madya (Marsdya) TNI Mohammad Syafii menyatakan bahwa tim SAR akan terus berupaya untuk membawa pulang seluruh korban dari lokasi kecelakaan pesawat ATR 42-500. Ia menekankan komitmen pihaknya dalam menjalankan tugas kemanusiaan meskipun medan yang sulit dan cuaca tidak menentu menjadi hambatan.
Proses pencarian dilakukan dengan kerja sama antara Basarnas, TNI, Polri, serta para relawan pendaki setempat. Di tengah tebing-tebing curam dan vegetasi hutan yang rapat, tim evakuasi harus menggunakan peralatan khusus untuk mengangkat jenazah dari dasar jurang. Penemuan ini memberikan harapan bagi keluarga korban yang telah menantikan kepastian selama beberapa hari.
Profil Sosok Florencia Lolita Wibisono
Florencia Lolita Wibisono, atau yang akrab disapa Ollen, adalah seorang pramugari dengan pengalaman bertahun-tahun di dunia penerbangan. Saat ini, ia berusia 32 tahun dan telah bekerja sebagai awak kabin selama 14 tahun. Pengalamannya membuatnya disegani oleh rekan-rekannya. Ollen juga memiliki peran sebagai trainer, di mana ia melatih para pramugari muda agar siap menghadapi situasi darurat.
Ollen baru bergabung dengan maskapai Air Indonesia Transport tiga bulan lalu. Meski masih baru, ia langsung dipercaya karena reputasinya yang baik. Keluarga mengenang Ollen sebagai sosok yang tegas namun sangat penyayang. Kepergiannya meninggalkan rasa kehilangan besar bagi keluarganya, terutama bagi lima kakaknya yang selama ini mendukung kariernya.
Profil Sosok Esther Aprilita Sianipar
Esther Aprilita Sianipar adalah seorang pramugari tangguh yang berasal dari daerah Batak. Ia dikenal sebagai putri dari pasangan Adi Sianipar dan J Siburian. Esther memiliki karier di dunia penerbangan selama kurang lebih 6 hingga 7 tahun. Selama masa kerjanya, ia telah menjelajahi berbagai rute domestik maupun internasional.
Esther adalah anak sulung dari tiga bersaudara dan sering dianggap sebagai contoh bagi adik-adiknya. Ia dikenal sangat disiplin dan memiliki etos kerja yang tinggi. Keberhasilannya menjadi pramugari menjadi inspirasi besar bagi keluarga besar Sianipar.
Pada hari Jumat (16/1/2026), sehari sebelum kecelakaan, Esther sempat mengirim pesan singkat kepada orang tuanya. Namun, pada hari Sabtu, ponselnya tidak aktif dan pesan dari ayahnya tidak dibalas. Hal ini menjadi pertanda awal terjadinya musibah tersebut.
Proses Identifikasi dan Evakuasi
Setelah penemuan kedua korban, proses identifikasi terus dilakukan oleh pihak berwenang. Identitas spesifik mengenai siapa yang pertama kali dievakuasi belum dirilis secara detail ke publik untuk menghormati proses identifikasi medis. Namun, keberadaan mereka di titik jatuhnya pesawat telah dikonfirmasi.
Dalam konferensi pers di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menegaskan komitmen tim untuk membawa pulang seluruh korban. Ia menyampaikan apresiasi atas kerja keras tim SAR yang bekerja di bawah cuaca yang tidak menentu.
Kini, keluarga korban hanya bisa menanti di Bandara Sultan Hasanuddin dengan harapan proses identifikasi berjalan lancar. Mereka ingin segera membawa korban pulang untuk terakhir kalinya ke rumah duka.
