Penyelidikan Kecelakaan KRL di Bekasi Timur

Pihak kepolisian masih mendalami penyebab kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur, Jawa Barat. Sopir taksi online yang dikemudikan oleh RRP telah beberapa kali diperiksa terkait insiden tersebut. Dalam pemeriksaan awal, RRP mengaku bahwa mobil listrik yang dikemudikannya tiba-tiba berhenti saat melintas di perlintasan sebidang rel kereta api.

Di sisi lain, pihak manajemen Green SM menyebut kendaraan tersebut seharusnya sudah masuk depo untuk menjalani perawatan rutin. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa mobil tersebut telah menempuh perjalanan hingga 24.000 kilometer, jauh melebihi batas jarak yang ditentukan.

Pengakuan Sopir dan Tindakan yang Diambil

RRP mengaku mobil mendadak mati saat berada di atas rel kereta. Saat mencoba menyalakan kembali kendaraan, sopir justru kesulitan keluar dari dalam mobil. “Pada saat sopir ingin keluar membuka pintu, tetapi tidak bisa. Transmisi berpindah ke parkir. Pada saat yang bersangkutan mencoba untuk mematikan kendaraan, membuka, baru bisa menurunkan kaca mobil dari taksi online,” tutur Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya.

RRP akhirnya keluar melalui jendela dengan bantuan warga sekitar. Polisi juga memeriksa pihak manajemen Green SM, termasuk Manajer Rekrutmen Sopir RS, saksi bagian pelatihan MI, Manajer Kontrol Perbaikan dan Maintenance BM, serta saksi dari Departemen Manager Operasional Bekasi SF.

Masalah Perawatan Kendaraan

Berdasarkan keterangan para saksi, mobil yang dikemudikan RRP sebenarnya sudah waktunya masuk depo untuk pemeriksaan dan perawatan berkala. Menurut aturan internal perusahaan, setiap kendaraan wajib menjalani maintenance setelah menempuh jarak 15.000 kilometer. “Kami juga menyampaikan bahwa terkait informasi dari depot manajer operasional, taksi tersebut harusnya per 15.000 KM itu sudah harus masuk ke depot untuk melaksanakan maintenance ataupun perawatan,” kata Budi.

Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan mobil tersebut telah menempuh perjalanan hingga 24.000 kilometer. Polisi kini mendalami apakah keterlambatan perawatan berkaitan dengan matinya mobil di tengah rel kereta. “Nah, kami masih mendalami akibat mati mobil listrik ini di perlintasan sebidang kereta api, apakah termasuk dampak dari belum dilakukan maintenance? Nah, ini masih kami lakukan pengkajian,” ujar Budi.

Pendalaman Sistem Persinyalan Kereta Api

Selain itu, polisi bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan PT KAI juga mendalami sistem persinyalan kereta api di lokasi kejadian. Hingga hampir dua pekan setelah kejadian, polisi telah memeriksa 39 orang. Mereka terdiri dari 11 korban, delapan saksi di lokasi kejadian, delapan saksi operasional perkeretaapian, empat saksi dari pihak Green SM, tiga saksi dari Pemerintah Kota Bekasi, dua saksi dalam laporan polisi, satu pelapor, serta pihak pengemudi dan operasional kendaraan.

“Pemeriksaan lanjutan difokuskan tentang unsur teknis perkeretaapian, instansi terkait, serta pihak yang berkaitan dengan operasional kendaraan taksi online,” kata Budi.

Status Korban dan Penyidikan

Dari total 90 korban luka yang sempat dirawat, sebanyak 78 orang telah dipulangkan. Masih ada 12 korban yang menjalani perawatan di tujuh rumah sakit di Bekasi dan Jakarta. Kasus kecelakaan yang melibatkan KRL, KA Argo Bromo Anggrek, dan taksi Green SM kini telah naik ke tahap penyidikan.

“Ini sudah naik tingkat tahap penyidikan. Sudah dilakukan cek TKP, pemeriksaan saksi, pengumpulan barang bukti, serta pendalaman CCTV,” ujar Budi di Silang Timur Monumen Nasional, Kamis (30/4/2026).

Meski demikian, sopir taksi berinisial RRP masih berstatus saksi dan belum ditahan. Polisi masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik untuk memastikan penyebab berhentinya mobil listrik di perlintasan sebidang Jalan Ampera, Bekasi Timur.

“Kalau namanya saksi itu belum dilakukan penahanan, kami luruskan. Jadi kalau namanya saksi, kami masih membutuhkan yang bersangkutan untuk beberapa keterangan,” kata Budi.

Kronologi Kecelakaan

Kecelakaan terjadi pada Senin (27/4/2026) sekitar pukul 20.52 WIB di emplasemen Stasiun Bekasi Timur, tepatnya di KM 28+920. Peristiwa melibatkan KRL jurusan Cikarang nomor PLB 5568A dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi.

Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan kecelakaan diduga dipicu insiden taksi Green SM di pelintasan sebidang sekitar 200 meter dari stasiun. “Kejadian ini dimulai dengan adanya temperan taksi hijau di JPL 85. Sehingga ini yang kami curigai itu membuat sistem perkeretaapian di daerah stasiun emplasemen Bekasi Timur ini agak terganggu,” ujar Bobby saat ditemui di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026).

Sebanyak 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat. Sementara itu, 16 penumpang KRL Cikarang Line meninggal dunia dan 90 lainnya mengalami luka-luka.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version