Teror Pocong di Bojonegoro: Fakta yang Sebenarnya

Warga Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengalami keresahan setelah beredar foto pocong di wilayah mereka. Foto tersebut disebut-sebut menunjukkan sosok pocong gentayangan di permukiman warga Desa Gunungsari RT 12. Peristiwa ini memicu spekulasi dan kekhawatiran masyarakat, terutama karena penyebaran foto di media sosial.

Banyak orang mulai menghindari jalan poros desa yang diduga menjadi tempat kemunculan pocong. Hal ini membuat pihak kepolisian turun tangan untuk mengecek dan mengungkap fakta sebenarnya. Hasil penelusuran polisi menunjukkan bahwa informasi tentang adanya teror pocong di wilayah Desa Gunungsari adalah hoax atau berita palsu.

“Hasil pengecekan yang kami lakukan, informasi tentang adanya teror pocong di wilayah Desa Gunungsari dipastikan tidak benar atau hoaks,” ujar Kapolsek Baureno, AKP H Sholeh. Foto pocong yang viral ternyata merupakan hasil editan dari seorang warga berinisial D. Ia sengaja membuat foto tersebut dan mempostingnya di media sosial dengan narasi tentang pocong gentayangan di Bojonegoro.

Foto yang diunggah tersebut dipercaya oleh banyak orang, sehingga memicu keresahan di tengah masyarakat. Untuk itu, AKP Sholeh mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menyebarkan informasi melalui media sosial. Setiap orang juga diminta untuk tidak mudah menelan mentah-mentah informasi tanpa mengecek kebenarannya.

“Saya mohon maaf kepada seluruh masyarakat, khususnya warga Kecamatan Baureno, karena telah menyebarkan foto hoax tentang pocong di Desa Gunungsari,” ucap D. Polisi juga menegaskan bahwa situasi di wilayah Kecamatan Baureno saat ini terpantau aman dan kondusif. Pihaknya akan meningkatkan patroli malam di beberapa titik untuk memastikan situasi tetap terkendali.

Teror Pocong di Bondowoso

Selain di Bojonegoro, isu serupa juga terjadi di Bondowoso. Warga Dusun Poler, Desa Sumbertengah, Kecamatan Binakal, dihebohkan dengan foto pocong di halaman depan rumah warga. Hasil penelusuran polisi menunjukkan bahwa foto tersebut juga merupakan hoax.

“Foto pocong itu hoax yang di Sumbertengah,” ungkap Kasi Humas Polres Bondowoso, Iptu Bobby Dwi Siswanto. Foto tersebut merupakan hasil editan dari seorang warga berinisial MS. MS mengaku bahwa dirinya baru belajar mengedit foto dan menyimpan foto tersebut di ponsel pribadinya. Namun, keesokan harinya, istrinya menemukan foto tersebut di ponselnya dan langsung mengirim foto tersebut kepada kakaknya tanpa sepengetahuannya. Oleh sang kakak, foto pocong tersebut akhirnya dijadikan status di media sosial dan menjadi viral.

Polisi mengimbau warga agar tidak mudah terprovokasi dengan kabar yang belum dipastikan kebenarannya. “Intinya berita itu hoax dan himbauan kepada masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi berita yang belum benar adanya,” pungkasnya.

Tanggapan Psikolog

Isu tentang teror pocong gentayangan di Bojonegoro maupun Bondowoso, serta di beberapa daerah lainnya, baru-baru ini meresahkan banyak orang. Meski pelaku penyebar hoax telah ditindaklanjuti, isu ini masih terus berulang.

Psikolog sekaligus Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Rose Mini Agoes Salim, memberikan tanggapannya atas fenomena sosial yang terjadi. Menurutnya, masyarakat perlu dibekali cara berpikir kritis serta literasi digital agar situasi ini tidak kembali terulang.

“Berpikir kritis itu adalah kemampuan orang menerima informasi tapi bisa menganalisanya apakah informasi ini patut diterima, tolak atau ditangguhkan dulu,” ujar Rose. Ia berpesan agar masyarakat tidak langsung menyebarluaskan informasi tanpa berpikir lebih dalam mengenai kebenaran informasi tersebut.

Menurut Rose, berita hoax dibuat sensasional untuk menarik perhatian publik dan memancing emosi masyarakat. Masyarakat perlu mendapatkan edukasi untuk menelaah setiap informasi yang diterima sebelum disebarluaskan.

Pandangan Sosiolog

Senada dengan Rose, seorang Sosiolog, Rakhmat Hidayat, juga memberikan pandangan serupa. Menurutnya, teror mistis yang menghantui masyarakat tidak cukup berhenti pada pemberian klarifikasi.

“Langkah menghadapi fenomena seperti ini tidak cukup hanya dengan membubarkan atau memberikan klarifikasi,” kata Rakhmat. Ia berpendapat bahwa masyarakat seharusnya tidak boleh langsung menyebarkan informasi tanpa verifikasi dan harus membiasakan untuk mengecek fakta.

Fenomena teror pocong gentayangan dan isu mistis ini tak luput dari budaya sensasionalisme di media sosial yang masih tinggi. Oleh sebab itu, diharapkan masyarakat dapat mengelola rasa takut dan berpikir secara rasional agar tidak menimbulkan kepanikan massal.

“Aparat perlu bergerak cepat memberikan klarifikasi resmi, menjaga komunikasi terbuka dengan warga, melakukan patroli agar rasa aman terjaga, serta menindak oknum yang sengaja membuat keresahan publik,” ujar dia.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

© 2026 Info Malang Raya. All rights reserved.

Exit mobile version