Ringkasan Berita:
- Greg Barton menceritakan kedekatan personal dan profesionalnya dengan almarhum Gus Dur sejak tahun 1988
- Peneliti asal Australia tersebut menulis biografi Gus Dur sebagai jendela untuk memahami Islam di Indonesia
- Barton menyaksikan transisi demokrasi Indonesia dan perjalanan politik Gus Dur hingga menjadi presiden
Infomalangraya.net Prof. Greg Barton merupakan salah satu peneliti asing yang memiliki hubungan panjang dengan Nahdlatul Ulama (NU).
Peneliti asal Australia itu telah puluhan tahun mengamati perkembangan NU dan memiliki kedekatan personal dengan almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Barton pertama kali bertemu Gus Dur pada 1988.
Saat itu, ia tengah mengerjakan disertasi doktoral mengenai gerakan pembaruan pemikiran Islam di Indonesia.
“Saya baru mulai proses pekerjaan bidang S3, disertasi doktoral saya. Saya kepengin tahu tentang perkembangan yang disebut gerakan pembaruan pemikiran Islam.” ceritanya di sela-sela acara Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambahberas, Jombang, Jawa Timur.
Dalam penelitian tersebut, Barton memberikan perhatian kepada sejumlah tokoh, termasuk Gus Dur, Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, dan Ahmad Wahib.
“Saya fokus pada Gus Dur sama Cak Nur, sama Pak Johan.”
Pertemuannya dengan Gus Dur berlangsung di kantor PBNU.
Barton mengatakan, keterbukaan Gus Dur membuat hubungan mereka dengan cepat menjadi dekat.
“Saya langsung ke kantornya Gus di PBNU, minta sempat untuk wawancara. Justru karena beliau begitu murah hati, rasanya langsung jadi akrab. Diterima baik Gus Dur maupun keluarganya, baik saya maupun istri saya sama anak kami.”
Barton menyelesaikan disertasinya pada 1994.
Namun, kedekatannya dengan Gus Dur terus berlanjut.
Setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya, Barton berpikir bahwa Gus Dur perlu memiliki biografi yang dapat memperkenalkan pemikiran dan perjalanan hidupnya kepada publik yang lebih luas.
“Saya berpikir, selesai S3, ada baik kalau ada seseorang yang menulis biografi Gus Dur karena riwayat Gus Dur memang penting, tapi juga dunianya, termasuk NU dan umat Islam di Indonesia.”
Barton melihat biografi Gus Dur bukan hanya sebagai catatan perjalanan seorang tokoh, tetapi juga sebagai cara untuk memahami Indonesia dan Islam di Indonesia.
“Kesan saya, kalau ada biografi Gus Dur bisa menjadi semacam jendela untuk Indonesia, Islam di Indonesia, dan juga Islam dalam konteks global.”
Menurut Barton, Gus Dur mendukung gagasan tersebut tanpa memberikan persyaratan khusus.
“Syukurnya Gus mendukung. Tidak ada persyaratan. Beliau langsung mendukung.”
Barton mulai mengerjakan biografi Gus Dur sekitar 1997.
Namun, ketika Gus Dur kembali mengalami stroke pada 1998, ia menyadari bahwa pekerjaan tersebut harus diprioritaskan.
“Awal 1998 beliau kena stroke lagi, jadi saya menjadi sadar harus buru-buru. Ini memang harus menjadi prioritas.”
Menyaksikan Gus Dur Menjadi Presiden
Perubahan politik Indonesia pada 1998 kemudian memberikan Barton kesempatan untuk mengikuti lebih dekat perjalanan politik Gus Dur.
Setelah Presiden Soeharto lengser dan digantikan BJ Habibie, ruang demokrasi di Indonesia mulai terbuka. Barton melihat Gus Dur menjadi salah satu tokoh yang aktif dalam perkembangan tersebut.
“Habibie menjadi seorang reformis yang luar biasa dan membuka jalan supaya ada partai politik, supaya lagi ada pemilu, lagi ada pilpres.”
Barton mengatakan, situasi tersebut membuatnya semakin beruntung karena dapat menyaksikan perkembangan politik sekaligus mewawancarai Gus Dur.
“Gus sangat aktif. Jadi saya sangat beruntung bisa wawancara lebih lagi dengan Gus Dur, tapi juga bisa menyaksikan perkembangan politik, perkembangan demokrasi dan democratic transition.”
Barton bahkan mengaku sempat tidak percaya ketika Gus Dur mengatakan dirinya mungkin akan menjadi presiden.
“Gus bilang, sebentar lagi mungkin akan jadi presiden. Saya agaknya tidak percaya. Tapi beliau sudah yakin dan memang terjadi begitu.”
Setelah Gus Dur menjadi presiden pada 1999, Barton tetap melanjutkan proses wawancaranya.
“Beliau bilang, pada waktu saya pindah ke istana, sama-sama di Wisma Negara, saya bisa santai di sana, bisa meneruskan proses wawancara. Dan memang terjadi begitu pada akhir tahun 1999, sepanjang tahun 2000, sampai awal 2001.”
Barton juga beberapa kali mengikuti perjalanan Gus Dur ke luar negeri, termasuk ke Australia.
“Saya ikut beberapa kali, tidak semua kali. Saya sama Yeni bilang sama Gus Dur, baik kalau mampir ke Australia. Kami sudah lama tidak ada seorang presiden Indonesia mampir ke Australia secara resmi.”
Muktamar Cipasung dan Pengalaman Barton Bersama NU
Hubungan dengan Gus Dur menjadi pintu bagi Barton untuk mengenal NU secara lebih dekat. Ia mengaku telah beberapa kali menghadiri Muktamar NU.
“Tidak selalu, tapi pertama kali di Cipasung, di Tasikmalaya, tahun 1994.”
Barton mengingat Muktamar Cipasung sebagai salah satu pengalaman penting dalam melihat kekuatan demokrasi di tubuh NU.
“Ini merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya karena ini merupakan buktinya bahwa NU memang bersuara. Kalau kerja sama, bisa ada sumbangan pada proses reformasi politik.”
Menurutnya, saat itu Indonesia memang belum sepenuhnya demokratis, tetapi proses menuju demokrasi sudah mulai terlihat.
“Pada saat itu belum ada demokrasi, tapi sudah mulai prosesnya. Itu sudah merupakan test, uji cobanya. Dan saya kira itu boleh dikatakan merupakan titik penting proses reformasi.”
NU Dinilai Semakin Progresif
Setelah mengikuti NU selama puluhan tahun, Barton melihat organisasi tersebut telah mengalami perubahan besar.
“NU sekarang menjadi organisasi, tetap organisasi tradisional. Tapi Nahdliyin itu sudah menjadi kebanyakan orang kota, bukan saja orang desa-desa, dan juga ada banyak yang lulusan universitas menjadi profesional.”
Menurut Barton, transformasi pendidikan telah mengubah karakter warga NU.
“Sudah matang dan sudah berbuah sehingga ada transformasi para anggotanya. Sehingga walaupun tetap pakai istilah tradisional, Islam tradisional, tetapi lebih mungkin lebih benar kalau dibilang ini merupakan yang progresif, yang melihat ke depan, yang percaya pada reformasi, percaya pada hak asasi manusia.”
Barton menilai NU memiliki kekuatan dalam pemikiran Islam karena banyak ulama NU menguasai khazanah keilmuan klasik sekaligus mampu menggabungkannya dengan pemikiran modern.
“NU punya lebih banyak ulama daripada Muhammadiyah. Itu orang cendekiawan yang betul-betul menguasai ilmu klasik dan bisa menggabungkan pemahaman ilmu klasik Islam itu dengan cara berpikir yang modern.”
Namun, Barton mengatakan NU masih memiliki kelemahan dalam hal organisasi dan efisiensi.
“Tapi sayang sekali kalau efisiensi dan organisasi masih ada kelemahan dan masih bisa belajar dari Muhammadiyah.”
Ia menilai persaingan antara NU dan Muhammadiyah justru dapat memberikan dampak positif.
“Saya kira ini merupakan provokasi untuk NU dan memang ada manfaat. NU terus berkembang justru karena ada persaingan yang sangat produktif sama Muhammadiyah.”
Soroti Peran Perempuan
Salah satu catatan Barton terhadap NU adalah masih terbatasnya ruang kepemimpinan bagi perempuan.
Ia menilai organisasi perempuan NU sudah sangat aktif, tetapi kontribusi tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan kesempatan untuk berada dalam posisi kepemimpinan.
“Belum selesai prosesnya. Pada pembukaan kemarin ada beberapa pemimpin yang bicara, tapi tidak seorang perempuan yang bicara. Ya, sayang sekali.”
Barton mengatakan perempuan NU sebenarnya telah menunjukkan kapasitasnya dalam berbagai forum.
“Tapi di sesi diskusi, sedikitnya ada anggota atau hadirin perempuan dan suaranya sangat artikulatif, tapi belum diberi peluang untuk kepemimpinan NU yang lengkap.”
Jangan Sampai NU Jadi Organisasi Orang Tua
Selain perempuan, Barton berharap NU memberi ruang lebih besar kepada generasi muda.
Menurutnya, persoalan regenerasi sangat menentukan masa depan organisasi.
“Harapan saya, siapapun yang dipilih sebagai Rais Aam, sebagai Ketua Umum, akan fokus pada angkatan yang sedang bangkit, angkatan pemuda-pemudi, memberi kesempatan untuk yang lebih muda di dalam NU.”
Ia mengingatkan NU agar tidak kehilangan generasi penerus.
“Jangan sayang sekali kalau NU menjadi organisasi orang tua saja. Tidak ada masa depan tanpa pemudanya.”
Barton menegaskan bahwa kesempatan tersebut juga harus diberikan kepada perempuan muda.
“Bukan saja pria, tapi juga perempuan.”
Menurutnya, generasi muda akan menghadapi berbagai tantangan besar di masa depan.
“Banyak tantangan di dunia ini, di Republik Indonesia ini. Ada tantangan dari perubahan iklim, ada tantangan perjalanan demokrasi, ada tantangan demokrasi dan pendidikan dan perkembangan ekonomi.”
Karena itu, NU perlu memberikan ruang agar generasi muda dapat ikut menentukan arah organisasi.
“Kalau NU bisa memberi peluang untuk anak muda itu memberi sumbangan, saya kira akan mencapai potensinya.”
Dalam konteks Muktamar ke-35 NU, Barton berharap proses pemilihan kepemimpinan NU berlangsung transparan.
“Harapan saya proses berjalan dengan baik dalam cara yang transparan sehingga orang tetap percaya pada sistem demokrasi yang ada di dalam NU.”
Barton mengakui memiliki kedekatan lebih dengan Gus Yahya karena telah mengenal gagasan dan pemikirannya.
“Terus terang saya punya berat sebelah karena saya lebih berkenalan sama Gus Yahya. Jadi saya sudah familiar sama idenya.”
Ia menilai Gus Yahya memiliki gagasan yang sejalan dengan pemikiran Gus Dur.
“Bagi saya, beliau merupakan pemimpin yang berusaha menerapkan ide-idenya Gus Dur.”
Namun, Barton menegaskan bahwa dukungannya merupakan pandangan pribadi.
“Tapi itu persepsi saya. Kalau calon yang lain, saya belum begitu familiar sama idenya, sama kebijakannya.”
Ia kembali menekankan pentingnya proses demokrasi yang transparan.
“Saya tidak mau memberi harus jadi begitu. Tapi harapan saya proses demokratik itu akan berjalan dengan transparan.”
Barton juga berharap tidak muncul kesan adanya intervensi dari pihak luar ataupun politik uang.
“Sayang sekali kalau ada kesan bahwa orang luar campur tangan. Sayang sekali kalau ada kesan ada money politic. Sayang sekali. Mudah-mudahan tidak akan jadi begitu.”
Puluhan tahun berinteraksi dengan NU membuat Barton memiliki pengalaman unik sebagai seorang peneliti asing sekaligus seorang Kristen.
Ia mengaku mendapatkan penerimaan yang hangat dari lingkungan NU.
“Saya sudah diterima sebagai tamu istimewa, walaupun boleh asing, kebetulan dari umat Kristen, tapi diterima dengan ramah dan murah hati oleh NU sebagai organisasi.” tutupnya.
Informasi lengkap dan berita menarik lainnya di Infomalangraya.net
