Kehadiran Gus Baha di Aceh: Mengingatkan Kembali Pesan Islam yang Universal
Kehadiran KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha, seorang ulama dari Jawa, yang berdakwah dan diundang hadir di Aceh pada Rabu 11 Februari lalu, menyampaikan pesan simbolik yang sangat kuat. Bukan semata karena nama besar Gus Baha atau kapasitas keilmuannya, melainkan karena momentum sosial dan kultural yang menyertainya akhir-akhir ini. Di tengah sebagian narasi sempit yang pernah berkembang, terutama pada masa konflik hingga peristiwa bencana, yang melabeli “Jawa” secara negatif oleh segelintir kelompok, kehadiran Gus Baha justru mematahkan stigma itu dengan cara yang sunyi, elegan, dan bermartabat.
Dakwah Gus Baha diterima bukan karena asal-usul etnis, bukan pula karena afiliasi politik atau simbol kekuasaan, melainkan karena kedalaman ilmu, ketulusan sikap, dan akhlak keulamaan. Inilah pesan pertama yang terasa kuat bahwa dalam Islam, yang diakui bukan dari mana seseorang berasal, tetapi apa yang ia bawa untuk kebaikan umat. Pesan ini terasa relevan, bukan hanya bagi masyarakat Aceh, tetapi bagi umat Islam Indonesia secara umum yang kerap tergoda menjadikan identitas sebagai alat pembeda, bahkan pembatas.
Sejarah Islam Nusantara yang Menunjukkan Keterhubungan
Padahal, jika menoleh ke belakang, sejarah Islam Nusantara justru menunjukkan hal sebaliknya. Aceh dan Jawa tidak pernah berdiri saling berhadap-hadapan, melainkan terhubung erat dalam jaringan keilmuan dan dakwah yang panjang. Prof. Azyumardi Azra, melalui penelitiannya tentang ulama Jawi, menunjukkan bahwa sejak abad ke-17, ulama dari berbagai wilayah Aceh, Jawa, Minangkabau, dan Bugis bertemu di Haramain dan membangun tradisi keilmuan lintas etnis dan geografis. Mereka tidak membawa identitas daerah untuk dipertentangkan, tetapi membawa ilmu untuk disebarkan.
Dalam konteks ini, Islam di Nusantara tumbuh bukan dari eksklusivisme daerah, melainkan dari pertukaran ilmu, sanad keilmuan, dan persaudaraan iman. Aceh menjadi pintu awal, Jawa (di dalamnya ada etnik Betawi, Sunda, dan Madura) menjadi salah satu ladang persemaian, dan wilayah lain menjadi mata rantai penting yang saling menguatkan. Tidak ada satu daerah pun yang berhak memonopoli kemuliaan Islam, sebagaimana tidak ada satu etnis pun yang berhak mengklaim Islam sebagai miliknya.
Kehadiran Gus Baha: Menghidupkan Kembali Memori Sejarah
Apa yang dilakukan Gus Baha di Aceh sejatinya adalah menghidupkan kembali memori sejarah itu. Bahwa Islam tidak mengenal dikotomi Jawa-Aceh, pusat-pinggiran, mayoritas-minoritas. Yang diakui dalam Islam adalah ilmu, adab, dan kejujuran intelektual. Dalam konteks inilah, dakwah Gus Baha menjadi koreksi yang halus namun tegas terhadap narasi kebencian berbasis etnis, narasi yang sejatinya tidak memiliki akar dalam tradisi Islam maupun dalam sejarah Aceh itu sendiri.
Tidak Perlu Jumawa
Menarik menyimak hingga tuntas halaqah Maghrib di Masjid Raya Baiturrahman bersama Gus Baha. Dari banyak nasihat dan uraian ilmu yang disampaikan, ada satu bagian yang menggelitik sekaligus menyentuh. Ketika ia merendahkan diri dengan mengatakan bahwa kehadirannya ke Aceh bukan untuk “memberi ceramah”, melainkan sekadar memenuhi undangan sebagai bentuk penghormatan kepada Aceh. Ia menyebut Aceh sebagai wilayah yang hampir semua penulis sejarah sepakat sebagai tempat awal penyebaran Islam di Nusantara.
Namun, sebagaimana ciri khas Gus Baha, pujian itu segera diimbangi dengan peringatan yang lembut. Ia mengingatkan agar kebanggaan itu tidak berubah menjadi kejumawaan. Islam memang pertama kali menyebar dari Aceh, tetapi yang membawa Islam ke Aceh bukan orang Aceh sendiri. Pernyataan ini disampaikan dengan nada guyon, membuat jamaah tersenyum dan tertawa, namun maknanya dalam dan menohok. Jangan biarkan sejarah menjadi alat untuk meninggikan diri.
Kebijaksanaan dalam Penyampaian Pesan
“Banggalah, bagaimana pun itu di bumi Aceh,” kurang lebih demikian pesan Gus Baha, “tetapi tidak perlu ditulis dengan rasa ingin menang sendiri.” Sejarah, dalam pandangan Gus Baha, bukan panggung untuk membesarkan ego kolektif, melainkan cermin untuk belajar kerendahan hati. Di sinilah letak kebijaksanaannya. Memelihara kebanggaan tanpa membiarkannya berubah menjadi klaim keunggulan.
Untuk memperjelas pesannya, Gus Baha kemudian mengurai sejarah Islam dengan cara yang sangat manusiawi. Islam besar di Madinah, tetapi yang membesarkannya adalah kaum Muhajirin dari Mekkah. Orang Mekkah tidak perlu jumawa, karena Nabi Muhammad saw sendiri tidak menyukai kebanggaan berbasis asal-usul. Dalam literatur klasik yang sering dikaji Gus Baha, Nabi Muhammad saw adalah keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, seorang nabi yang berasal dari wilayah Mesopotamia, melalui jalur Ismail.
Pesan yang Relevan dalam Konteks Aceh
Uraian ini bukan untuk membangun klaim rasial atau etnis, melainkan untuk menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah milik seluruh manusia, bukan milik satu suku atau bangsa. Dalam diri Nabi terdapat jejak banyak wilayah dan latar. Darah Arab, keterhubungan dengan Mesir melalui Siti Hajar, serta kehidupan pedesaan melalui Halimatus Sa’diyah yang menyusuinya. Bahkan daging yang tumbuh pada tubuh Nabi berasal dari air susu seorang perempuan Baduy dari kampung.
Dengan bahasa sederhana, Gus Baha ingin mengatakan bahwa Allah sengaja mendesain kehidupan Nabi Muhammad agar tidak satu pun kelompok merasa paling berhak mengklaim beliau. Orang kota boleh bangga, orang desa pun berhak bangga. Bangsa Arab boleh mencintai Nabi, tetapi non-Arab pun memiliki kedekatan yang sama. Semua disatukan bukan oleh darah, melainkan oleh iman dan akhlak.
Refleksi dan Tanggung Jawab Moral
Pesan ini kembali relevan ketika ditarik ke konteks Aceh. Orang Aceh boleh bangga menjadi orang Aceh, dan memang sepantasnya demikian karena Aceh memiliki peran historis yang sangat besar dalam sejarah Islam Nusantara. Namun, Gus Baha mengingatkan agar kebanggaan itu berhenti pada rasa syukur, bukan berkembang menjadi alat untuk menilai atau merendahkan yang lain. “Jangan lagi ditanya orangnya dari mana,” kira-kira demikian maknanya, “pokoknya Islam itu datang dan berkembang di Aceh.”
Di titik inilah refleksi menjadi penting. Sebab, di berbagai tempat, bukan hanya Aceh, klaim keunggulan etnis sering kali menyusup ke dalam cara beragama. Seolah-olah Islam menjadi lebih sah ketika dibungkus identitas tertentu, atau lebih murni ketika dilekatkan pada sejarah lokal tertentu. Padahal, sejarah Islam justru mengajarkan sebaliknya. Islam tumbuh subur ketika ia terbuka, rendah hati, dan memberi ruang bagi perbedaan.
Kesimpulan: Islam yang Melapangkan, Bukan Mempersempit
Aceh adalah bumi pilihan Allah Ta’ala untuk menjadi pintu awal penyebaran Islam di Nusantara. Itu sebuah kehormatan besar. Namun, kehormatan itu justru menuntut tanggung jawab moral yang lebih tinggi. Menjadi teladan dalam keluasan pandang, kedalaman ilmu, dan keluhuran akhlak. Sebagaimana pesan Gus Baha, kemuliaan tidak terletak pada siapa yang paling awal, tetapi pada siapa yang paling mampu menjaga rahmat.
Pada akhirnya, ceramah Gus Baha di Aceh bukan sekadar pengajian. Melainkan pengingat kolektif, bagi orang Aceh, orang Jawa, Sunda, Batak, dan etnik lainnya di Nusantara dan umat Islam pada umumnya, bahwa Islam tidak pernah datang untuk mempersempit, melainkan untuk melapangkan. Islam tidak turun untuk menguatkan tembok identitas, tetapi untuk meruntuhkannya dengan kasih sayang dan kebijaksanaan.
