Perjalanan Hidup Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo
Perjalanan hidup Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo, Husin Ali, adalah kisah perjuangan yang penuh dengan ketekunan dan kegigihan. Lahir dari keluarga sederhana sebagai anak buruh tani dan guru mengaji, ia menapaki pendidikan dengan bekerja keras sejak kecil, mulai dari menyabit rumput hingga menarik bendi.
Meski menghadapi keterbatasan ekonomi, ia berhasil meraih gelar Doktor (S3) Antropologi di Universitas Hasanuddin serta aktif di berbagai organisasi besar seperti HMI. Mengawali karier sebagai guru, Husin secara bertahap menduduki berbagai posisi strategis di lingkungan Pemerintah Kota Gorontalo.
Perjuangan Masa Kecil
Sejak kecil, Husin sudah terbiasa hidup dalam kesederhanaan. Ia bahkan mengaku tidak pernah membayangkan bisa berada di posisi seperti sekarang. “Saya ini tidak lahir tiba-tiba langsung jadi seperti sekarang. Semua ada prosesnya,” ujarnya dalam sebuah podcast.
Ia mengisahkan, masa kecilnya diwarnai dengan perjuangan orang tua dalam memenuhi kebutuhan hidup. Ayahnya harus berjuang keras, bahkan berjalan kaki untuk mencari pinjaman demi biaya sekolah anak-anaknya. Hal itu dilakukan hanya demi anaknya bisa sekolah. Sementara ibunya, selain mengajar mengaji, juga terus mendorongnya untuk tetap bersekolah. Setiap denyut napas ibunya selalu mengucapkan doa-doa untuk keberhasilan sang putra di masa depan.
Nilai-nilai itu yang kemudian tertanam kuat dalam dirinya. Bahkan sang ibu selalu mengingatkan agar Husin selalu menunaikan salat, yang kemudian ia lakukan hingga saat ini.
Saat duduk di bangku sekolah dasar, Husin dikenal sebagai siswa berprestasi. Ia hampir selalu meraih peringkat satu di kelas. Namun, di balik prestasi itu, kehidupan sehari-harinya tidak mudah. Ada napas panjang dan perjuangan yang dilalui dengan tabah serta kegigihan.
Memasuki Jenjang Sekolah Menengah
Memasuki jenjang SMP, ia mulai bekerja untuk membantu dirinya sendiri. Ia menyabit rumput di sawah, lalu menjualnya untuk mendapatkan uang. “Satu karung itu Rp250. Itu saya pakai untuk beli nasi kuning di sekolah,” katanya sembari mengingat dengan jelas perjuangan dulu itu.
Tidak hanya itu, ia juga menjadi joki gerobak dan membantu merawat kuda milik orang lain. Upah yang didapat memang kecil, namun sangat berarti untuk keberlangsungan pendidikannya. Jika tidak ada penghasilan, ia mencari pekerjaan di tempat lain. “Yang penting bisa makan dan tetap sekolah, itu yang penting,” ungkapnya.
Memasuki masa SMK, ujian hidup semakin berat. Ia sempat berada di persimpangan jalan. Ayahnya kala itu menyarankan agar ia berhenti sekolah karena kondisi ekonomi. Namun, ibunya bersikeras berbeda. “Ibu saya bilang, sekolah. Katanya, kita punya Allah,” kata Husin sembari mulai meneteskan air mata.
Kalimat itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMK Negeri 1 Gorontalo jurusan Administrasi Perkantoran dan lulus pada tahun 1999. Selama bersekolah, ia tetap bekerja membawa bendi untuk mencari penghasilan tambahan. Rutinitasnya padat: pagi sekolah, malam bekerja. “Pulang bisa jam 2 atau 3 malam, tapi semua itu saya jalani dengan ikhlas dan penuh keyakinan,” katanya.
Karier Birokrasi
Karier profesional Husin Ali dimulai sebagai Staf Ahli di Dewan Perwakilan Daerah RI pada tahun 2004 hingga 2006. Ia kemudian bekerja sebagai Credit Marketing Officer di PT Adira Dinamika Multi Finance Gorontalo pada 2006 hingga 2008. Setelah itu, ia memilih kembali ke dunia pendidikan sebagai guru di SMP Negeri 14 Gorontalo (2009–2010), lalu di SMK Negeri 3 Gorontalo (2010–2015).
Kariernya di birokrasi dimulai saat ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Seksi Sekolah Menengah Pertama pada Dinas Pendidikan Kota Gorontalo. Selanjutnya, ia menjabat Kepala Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana pada Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar (2017–2021). Lalu, ia dipercaya menjadi Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar pada Dinas Pendidikan Kota Gorontalo (2021–2023).
Pada November 2023, ia menjabat sebagai Kepala Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Sekretariat Daerah Kota Gorontalo. Hingga akhirnya, melalui proses seleksi terbuka, ia dipercaya menjadi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo.
Dalam perjalanannya, Husin juga aktif dalam kegiatan kepemiluan. Ia pernah menjadi anggota KPPS tahun 2024, anggota PPK tahun 2009, hingga Ketua PPK Kecamatan Dungingi pada tahun 2014. Ia juga pernah menjadi Sekretaris Tim Seleksi KPU di sejumlah daerah di Provinsi Gorontalo pada tahun 2023.
Selain itu, ia aktif dalam berbagai organisasi yang membentuk cara pandang dan mentalnya. Saat ini, Husin masih menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Organisasi MD KAHMI Kota Gorontalo periode 2023–2028, Wakil Sekretaris PWNU Provinsi Gorontalo periode 2024–2029, serta Wasek Tanfiziyah PWNU Provinsi Gorontalo.
Ia juga dipercaya sebagai Ketua Harian KONI Kota Gorontalo periode 2026–2030 dan Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Gorontalo masa bakti 2025–2030.
Di balik semua pencapaian itu, Husin tidak melupakan peran keluarga. Ia menikah dengan Rahmawaty Karim, S.Pd., dan dikaruniai dua anak, yakni Marhamah Gita Puteri H. Ali dan Nuh Syafaaturrohman H. Ali. Menurutnya, perjalanan hidup yang ia jalani tidak lepas dari doa orang tua, terutama ibunya.
“Kalau saya ingat semua itu, saya tahu ini bukan karena saya hebat. Tapi karena doa ibu,” ujarnya hingga air matanya tak terbendung.
Kini, sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo, ia memimpin sekitar 1.600 sumber daya manusia, mulai dari guru, kepala sekolah, pengawas, hingga tenaga kependidikan. Ia menyadari tanggung jawab yang diemban tidak ringan.
“Yang kita pimpin ini guru dan tenaga kependidikan, personal yang ditugasi membentuk karakter dan keilmuan calon penerus masa depan negeri ini,” ujarnya.
