Kisah Penjual Cincau di Sumenep yang Raup Omzet Fantastis Selama Ramadan
Di tengah kegembiraan bulan suci Ramadan, banyak pelaku usaha kecil menengah mengalami peningkatan omzet. Salah satunya adalah Ibu Hosni, seorang penjual cincau di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Usaha keluarganya ini telah berjalan selama beberapa generasi dan menjadi salah satu yang tertua di daerah tersebut.
Peningkatan Penjualan yang Signifikan
Hosni, wanita berusia 62 tahun, menjual cincau dari rumahnya di Desa Paberasan, Kecamatan Kota. Dalam sehari, ia mampu menjual lebih dari 100 kaleng logam ukuran 20 liter selama Ramadan. Ini jauh lebih tinggi dibandingkan hari biasa, di mana rata-rata hanya 5-10 kaleng per hari.
Produksi dilakukan dari pagi hingga siang untuk memenuhi pesanan pedagang takjil dan minuman berbuka. Meski permintaan meningkat drastis, harga tidak berubah. Cincau tetap dijual Rp 5.000 per potong untuk pembelian eceran, sedangkan harga per kaleng ukuran 20 liter dipatok Rp 55.000-Rp 60.000.
Dengan harga terendah dan penjualan paling tinggi di hari-hari biasa, Hosni hanya menghasilkan omzet sebesar Rp 550.000 per hari. Namun, selama Ramadan, omzet tersebut melambung hingga lebih dari Rp 5,5 juta per hari.
Alasan Tidak Menaikkan Harga
Meskipun produksi meningkat dan tenaga kerja bertambah, Hosni sengaja tidak menaikkan harga. Ia khawatir jika harga naik, pembeli akan keberatan dan tidak kembali lagi.
Di tingkat pedagang, cincau tersebut kembali dijual dengan harga sekitar Rp 70.000-Rp 80.000 per kaleng. Selama Ramadan, produk ini umumnya digunakan sebagai campuran es buah dan minuman segar yang banyak dicari saat berbuka puasa.
Akibat permintaan yang naik drastis, waktu produksi pun menjadi lebih lama. Jika hari biasa hanya dibantu satu orang, selama Ramadhan, Hosni menambah hingga tiga pekerja demi mempercepat proses produksi.
Usaha Keluarga yang Berjalan Lama
Usaha cincau ini sudah berjalan lama dan menjadi salah satu yang tertua di Sumenep. Hosni menyebut, bisnis cincau itu telah memasuki generasi ketiga dalam keluarganya. Dulu orangtua mereka yang mulai, sekarang ia lanjutkan, dan nanti anak-anak juga sudah mulai belajar.
Menurut Hosni, Ramadan selalu menjadi momentum peningkatan omzet. Namun, ia memilih menjaga kualitas dan harga tetap stabil agar pelanggan tetap bertahan setelah bulan puasa berakhir.
Kisah Lain: Sukses Penjual Kolak di Jakarta
Selain Hosni, ada juga Tri (48), penjual kolak yang viral di media sosial. Lapak kaki lima Tri berada di Jalan Raya Mangga Besar, Taman Sari, Jakarta Barat. Hanya dalam waktu tiga jam, ratusan porsi kolak ludes diserbu pembeli setiap sore selama bulan Ramadhan.
Lapak dibuka pukul 15.00 WIB. Tak lama berselang, puluhan warga sudah mengantre dan rela berdesakan demi mendapatkan takjil tersebut. Tri bersama empat pegawainya tampak cekatan menimba kuah manis dan aneka isian dari belasan panci besar ke dalam kantong plastik.
Bahkan sebelum azan Maghrib berkumandang, seluruh dagangan sudah habis terjual. “Kalau mulai dari jam 3 sore sudah standby di sini. Biasanya jam 5 atau paling lambat setengah 6 sudah habis,” ujar Tri saat ditemui di lokasi.
Alasan Kolak Laku Keras
Kesuksesan kolak racikan Tri bukan tanpa alasan. Ia menawarkan porsi besar dengan isian yang lengkap. Satu bungkus kolak dijual Rp 20.000 dan bisa dinikmati dua hingga tiga orang sekaligus.
Selain porsi, ia menekankan kualitas bahan sebagai kunci utama. Menurutnya, pelanggan setia kembali membeli karena rasa dan kualitas yang terjaga. Total ada sembilan jenis isian yang bisa dipilih pembeli dalam satu porsi, yakni biji salak, pisang, labu, ubi, singkong, kolang-kaling, pacar cina, sagu rangi, dan tape.
Tantangan Kenaikan Harga Bahan Baku
Meski penjualan meningkat saat Ramadan, Tri mengaku menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku, terutama gula merah. “Tahun ini gula merah naik signifikan. Dari Rp 180.000 jadi Rp 220.000-an per dus isi 10 kilogram. Naiknya hampir Rp 40.000,” ungkapnya.
Kendati demikian, ia memilih tidak menaikkan harga secara drastis atau mengurangi porsi. “Dulu tiga tahun lalu Rp 18.000, sekarang Rp 20.000. Naiknya bertahap saja,” katanya.
Kolak viral Mangga Besar ini hanya dijual selama bulan Ramadan. Tri menilai minat pembeli terhadap kolak di luar bulan puasa tidak sebesar saat Ramadan. “Kalau hari biasa rasanya kurang pas jual kolak,” ujarnya.
Di luar Ramadan, Tri dan keluarganya berjualan menu lain di lokasi berbeda. Ia sendiri menjual es doger di Karawang, sementara anggota keluarga lain tersebar di beberapa titik. “Tapi begitu Ramadan, kami kumpul di sini jual kolak bareng-bareng,” kata Tri.
Ia berharap kolak racikannya tetap menjadi pilihan warga yang berburu takjil di kawasan Mangga Besar setiap Ramadan.
