Pengakuan Anwar Satibi tentang Kematian Anaknya NS
Anwar Satibi, yang dikenal dengan panggilan Awang (38 tahun), mengungkapkan kisah tragis yang melibatkan istrinya, TR (46 tahun), seorang ibu tiri yang diduga menyiksa anaknya NS (12 tahun) hingga meninggal dunia di Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi. Dalam wawancaranya, Anwar menjelaskan bahwa dirinya memilih TR sebagai pasangan hidup bukan karena penampilan fisiknya, tetapi karena latar belakang pendidikan yang baik.
“Yang membuat saya percaya istri saya orang berpendidikan itu, dia sarjana dan bekerja sebagai pegawai,” ujar Anwar dalam video yang diunggah di YouTube TV One, Minggu (22/2/2026).
Menurut Anwar, saat ia ingin menikah, ia sempat memiliki pilihan calon istri yang lebih muda dan cantik. Namun, ia memilih TR meski usianya lebih tua karena pertimbangan pendidikan anak-anaknya.
“Dulu ada tiga orang cewek muda-muda yang mau sama saya, cantik-cantik. Tapi yang lebih tua saya nikahi. Karena apa? Saya memprioritaskan pendidikan anak saya. Gak tahu bakal seperti ini, ya Allah,” tambahnya.
Saat korban NS masih duduk di bangku SD, Anwar mengatakan bahwa anaknya pernah mengadu kepadanya. NS sering dikunci di dalam rumah dan tidak boleh keluar. Namun, Anwar percaya pada cara mendidik TR, sang ibu tiri.
“Memang tipikal istri saya itu selalu mengatakan bahwa anak saya tidak boleh main. Malah sering dikunci dengan alasan biar disiplin,” katanya.
Anwar juga mengatakan bahwa NS pernah mengadu kepadanya tentang perilaku ibu tirinya. Namun, karena percaya kepada TR yang dianggap berpendidikan, Anwar tidak langsung curiga.
“Dulu setahun lalu, NS masih di SD, sering ngadu ke saya. Tapi saya positif-positif aja. Mungkin ini didikan istri saya agar anak saya lebih disiplin,” jelasnya.
Pengakuan Ibu Tiri vs Dokter
Ketika NS mengalami lemas dan memiliki luka bakar di tubuh, Anwar bertanya kepada istrinya. TR mengklaim bahwa luka tersebut disebabkan oleh demam.
“Istri saya bilang, ‘NS kan sakit panas, kalau sakit panas katanya suka begitu kulitnya, suka kayak kesiram air panas ngelembung katanya gitu’,” cerita Anwar.
Setelah NS dilarikan ke rumah sakit pada Kamis (19/2/2026) pagi, dokter memberikan jawaban yang memperkuat kecurigaan Anwar. Dokter mengatakan bahwa luka bakar yang dialami NS tidak biasa.
“Dokter itu pun menegaskan ke saya, ‘pak, kami tidak menuduh ya, tapi kalau sakit panas seperti apapun tidak seperti ini. Kami medis, Pak. Kami tahu ini luka bakar. Tapi kami tidak menuduh ya,'” kata Anwar.
Sayangnya, nyawa NS tidak tertolong dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Korban Jalani Autopsi
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara, Kombes Pol Carles Siagian, menjelaskan bahwa korban mengalami luka bakar di beberapa bagian tubuh, termasuk lengan, kaki, punggung, bibir, dan hidung, serta paru-paru sedikit membengkak.
“Penyebab kematian masih belum bisa disimpulkan karena dari luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian,” ujar Carles dalam pernyataannya.
Masih ada pemeriksaan laboratorium yang dilakukan untuk mengetahui apakah ada zat-zat lain di dalam organ korban.
“Sudah dilakukan pemeriksaan mendalam, pembukaan organ-organ, diautopsi, dan kita melakukan pemeriksaan laboratorium, sudah dikirim ke Jakarta, kami sedang menunggu hasil untuk mengetahui apakah ada zat-zat lain di dalam organ korban,” tambahnya.





