Pemulangan Jemaah Haji Indonesia Dimulai 1 Juni 2026
Pemulangan gelombang pertama jemaah haji Indonesia dijadwalkan dimulai pada 1 Juni 2026 melalui Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah. Hari ini menjadi awal dari proses pemulangan secara bertahap. Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengingatkan aturan barang bawaan yang harus dipatuhi oleh jemaah haji.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara, Abdul Basir, menjelaskan aturan barang bawaan jemaah yang diperbolehkan. Menurutnya, setiap jemaah hanya diperbolehkan membawa tiga jenis barang:
- Koper besar dengan berat maksimal 32 kilogram
- Koper kabin maksimal 7 kilogram
- Tas paspor
Jatah Air Zamzam
Ia mengingatkan agar jemaah tidak membawa barang-barang yang dilarang masuk ke pesawat, terutama air Zamzam yang sering menjadi temuan saat pemeriksaan keamanan. Lantas, bagaimana jemaah mendapatkan air zamzam? “Jemaah sudah mendapatkan hak air Zamzam sebanyak lima liter yang akan diterima di Tanah Air. Karena itu kami meminta agar tidak membawa air Zamzam ke dalam koper besar maupun koper kabin,” ujarnya.
Selain air Zamzam, benda tajam seperti pisau dan gunting juga tidak diperbolehkan masuk ke area penerbangan. Barang-barang tersebut akan diminta untuk ditinggalkan sebelum jemaah masuk ke pemeriksaan keamanan. PPIH juga memberikan perhatian khusus kepada jemaah pengguna kursi roda. Seluruh kursi roda diminta sudah dikemas atau di-wrapping sejak berada di Makkah agar dapat diangkut bersama bagasi pesawat.
“Kami meminta kursi roda sudah dikemas sebelum sampai di bandara. Kalau belum, ada risiko kursi roda tertinggal karena maskapai tidak menerima kursi roda yang belum dikemas sesuai prosedur,” jelasnya.
Jemaah Haji Masuk Bandara Enam Jam Sebelum Terbang
Menurut Basir, sesuai regulasi penerbangan, jemaah sudah dapat memasuki area bandara enam jam sebelum jadwal keberangkatan. Sementara proses pemeriksaan imigrasi dan keamanan dimulai sekitar empat jam sebelum pesawat lepas landas. Waktu tersebut diperlukan mengingat setiap kloter terdiri dari ratusan jemaah yang harus menjalani pemeriksaan dokumen dan barang secara bergantian.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan fase pemulangan tidak hanya bergantung pada kesiapan petugas, tetapi juga kedisiplinan jemaah dalam mematuhi aturan yang telah ditetapkan. “Kami berharap seluruh jemaah tertib dan mengikuti ketentuan yang ada. Ini demi kenyamanan bersama dan agar proses pemulangan berjalan lancar tanpa kendala yang dapat menyebabkan keterlambatan penerbangan,” katanya.
Alur Pemulangan Jemaah di Bandara
Untuk mengantisipasi kendala, petugas telah menyiapkan alur pelayanan yang detail. Setibanya di bandara, jemaah akan dibantu menurunkan barang bawaan dari bus. Petugas juga akan memeriksa kendaraan guna memastikan tidak ada barang milik jemaah yang tertinggal.
Selanjutnya, jemaah akan diarahkan ke ruang tunggu sebelum memasuki area imigrasi dan boarding gate. Di lokasi tersebut, petugas akan kembali memberikan sosialisasi terkait barang bawaan serta membantu jemaah merapikan perlengkapan mereka. Guna mendukung proses tersebut, melakukan berbagai persiapan matang, mulai dari koordinasi internal hingga sinergi dengan berbagai pihak terkait di Arab Saudi.
Abdul Basir, mengatakan seluruh unsur pelayanan telah bergerak sejak jauh hari guna memastikan proses pemulangan ratusan ribu jemaah Indonesia ke Tanah Air dengan aman, tertib, dan tepat waktu. “Kita sudah persiapan cukup matang. Koordinasi internal sudah kita lakukan. Koordinasi eksternal dengan maskapai penerbangan, otoritas bandara, dan pihak yang menangani bagasi juga sudah dilakukan. Menjelang kedatangan jemaah di bandara nanti akan ada koordinasi terakhir untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana,” kata Abdul Basir.
Menurutnya, fase pemulangan merupakan operasi besar yang melibatkan banyak pihak dan membutuhkan kedisiplinan tinggi dari seluruh jemaah. Setiap kloter harus melewati serangkaian tahapan mulai dari keberangkatan dari hotel, perjalanan menuju bandara, pemeriksaan keamanan, proses imigrasi, hingga naik ke pesawat.
