Kebakaran Hebat di Banyu Urip, Surabaya
Kebakaran hebat terjadi di sebuah rumah yang juga berfungan sebagai bengkel reparasi motor listrik dan toko kelontong di kawasan Banyu Urip, Surabaya. Kejadian tersebut terjadi pada Senin (25/5/2026) sekitar pukul 22.30 WIB. Api diduga dipicu oleh korsleting alat pengisi daya baterai lithium motor listrik yang sempat menimbulkan ledakan dan merembet cepat.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya mengerahkan 14 unit truk untuk memadamkan api. Petugas berhasil menjinakkan api pokok pada pukul 23.30 WIB, dan dilanjutkan dengan proses pembasahan hingga benar-benar tuntas pada Selasa (26/5/2026) pukul 01.00 WIB dini hari.
Detik-Detik MARP Menyelamatkan Neneknya
Sebuah tragedi kebakaran pilu melanda permukiman padat di Jalan Banyu Kidul Gang Molin, Banyu Urip, Sawahan, Surabaya, pada malam hari. Insiden ini menyisakan kisah kepahlawanan yang mengharukan sekaligus menyayat hati dari seorang pelajar kelas satu SMP berinisial MARP.
Bocah yang dikenal supel tersebut ditemukan tewas setelah secara sadar mempertaruhkan nyawanya sendiri demi mengevakuasi sang nenek tercinta, SU, yang sudah renta dan tak sanggup berjalan. Kedua orang korban yang terjebak dalam kebakaran maut ini ditemukan di lokasi yang berbeda. Sang nenek, SU, ditemukan berada di dalam kamar mandi lantai dasar, sementara sang cucu, MARP, terjebak di salah satu kamar kosan yang terletak di lantai dua rumah.
Menurut penuturan tetangga korban, Dwi Prastyo, kobaran api pertama kali diketahui berasal dari area teras rumah. Area tersebut selama ini dimanfaatkan sebagai bengkel reparasi motor listrik, sekaligus gudang penyimpanan pasokan barang dagangan untuk toko kelontong milik keluarga.
MARP memiliki kesempatan besar untuk langsung menyelamatkan diri dari kobaran api dengan cara menaiki tangga akses menuju ruangan kosan di lantai dua. Namun, bocah tersebut lebih memilih untuk menyelamatkan sang nenek ketimbang memikirkan nyawanya sendiri.
Di tengah situasi mencekam di ruang tengah, MARP menggendong dan menuntun sang nenek menuju ke dalam toilet. Langkah itu diambil dengan harapan sang nenek bisa tetap aman selama api berkobar di luar.
Sosok Cucu yang Supel dan Berbakti
Selama hidup bertetangga, Dwi Prastyo menyaksikan sendiri betapa MARP sangat menyayangi dan berbakti kepada neneknya. Di mata warga sekitar, MARP juga dikenal sebagai sosok remaja yang sopan, supel, dan gemar membantu orang tua serta neneknya mengelola toko kelontong di samping teras rumah mereka.
Namun takdir berkata lain, aksi penyelamatan itu berakhir memilukan. Kedua penghuni rumah tersebut ditemukan meninggal dunia di dalam rumah mereka sendiri. Sang nenek ditemukan terkapar tak bernyawa di dalam toilet, sedangkan sang cucu ditemukan di area kosan lantai dua.
Dwi Prastyo menduga, MARP sempat kebingungan untuk menyelamatkan dirinya sendiri setelah berhasil mengevakuasi sang nenek ke dalam toilet. Korban kemudian memutuskan berlari menaiki tangga menuju lantai dua yang difungsikan sebagai kos-kosan. Nahas, di lantai atas tersebut, MARP justru terjebak asap dan kobaran api hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Diduga Akibat Korsleting Charger Motor Listrik
Berdasarkan pemeriksaan awal, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya, Laksita Rini, menduga pemicu utama kebakaran berasal dari korsleting pada perangkat pengisian daya (charger) baterai motor listrik. Korsleting pada baterai berbasis lithium yang sedang diisi dayanya itu diduga menimbulkan percikan api yang kemudian disertai dengan ledakan besar, sehingga api merambat dengan sangat cepat.
Laksita Rini juga mengonfirmasi adanya dua penghuni rumah yang meninggal dunia akibat terjebak di dalam bangunan, yakni nenek SU dan cucunya, MARP. Posisi akhir jenazah nenek SU ditemukan petugas di dalam toilet, sedangkan jenazah cucunya berada di lantai dua.
