Fenomena Subuh Jumat di Masjid HM Takdir Hasan Saleh
Pada subuh Jumat, 27 Februari 2026, hujan kembali turun. Suara iqamat dari menara masjid seantero Parangtambung bersahut-sahutan, meskipun tidak seragam dalam waktu. Ada lima suara yang cukup menonjol. Yang paling nyaring terdengar di pemukiman jamaah Masjid HM Takdir Hasan Saleh justru berasal dari masjid tetangga. Suara dari Masjid di Jalan Daeng Tata III lebih menguasai telinga warga Kompleks Griya Tata Asri, Villa Tata Asri, dan Gading Asri. Padahal ketiga kompleks ini terletak di Jalan Daeng Tata IV. Suara dari Masjid Babussalihin di Jalan Daeng Tata V lebih nyaring menyeruak ke rumah-rumah warga di tiga komplek klaster tersebut.
Setiap subuh Jumat, suara yang diperdengarkan selalu berbeda. Dari Masjid Jalan Daeng III, imam membacakan Surat Al-Sajadah disertai sujud tilawah. Sementara dari Masjid Babussalihin, kadang ada dan kadang tidak. Ustad Suardi yang memimpin Shalat Jamaah Subuh di Masjid HM Takdir Hasan Saleh pada pagi Jumat selalu netral dan konsisten seperti biasanya.
Shalat Subuh di Jumat kedua Ramadhan di Masjid HM Takdir Hasan Saleh diperkuat dua setengah shaf jamaah. Jumlah itu sedikit kurang dari peserta jamaah Shalat Isya dan Tarawih beberapa jam sebelumnya. Takbiratul Ihram Ustad Suardi Palasa diikuti lebih dari tiga shaf jamaah laki-laki dan dua shaf lebih jamaah perempuan, Kamis malam. Jamaah laki-laki dan perempuan dibatasi oleh tirai berupa dinding kayu semi permanen.
Itu adalah peserta awal. Peserta yang baru saja mengikuti tausiah Kiai Muda Fathullah Abdullah, alumnus Pendidikan Ulama Tarjih Unismuh Makassar. Peserta sekitar 30 menit sebelumnya menikmati penampilan Master of Ceremony (MC), Faika Nurhusna, yang mulai dipercaya mengisi peran-peran ritual di mimbar Masjid HM Takdir Hasan Saleh bersama Andi Alvsyahri, Mutia Salsabila, Adri, dan Andi Vita.
Tapi, pada Takbiratul Ihram Shalat Witir, jemaah bagian depan tersisa kurang dari dua shaf. Sebagian jamaah laki-laki, khususnya anak-anak dan remaja, sudah berpindah ke teras masjid dan di jalan kompleks. Anak-anak sibuk main tembak-tembak, sebelum Ustad Suardi menutup ritual malam dengan doa witir.
Tapi jamaah di balik tirai tak bergeming. Jamaah di shaf perempuan tak berkurang. Perempuan lebih setia dari awal hingga akhir. “Kami di jamaah perempuan tidak ada yang keluar sebelum selesai Doa Witir,” kata Faika. Mutia Salsabila tersenyum membenarkan Faika. “Iyya, gang. Kita itu tidak keluar-keluar sebelum selesai,” ujar Andi Alvisyahri. Tidak ada nada bangga. Tidak ada klaim moral. Itu disampaikan sebagai fakta. Seolah sesuatu yang sudah biasa.
Masjid dan Etika Bertahan
Fenomena ini menarik bukan untuk dibaca sebagai siapa lebih taat. Melainkan sebagai pola. Habitus. Cara tubuh, waktu, dan tanggung jawab sosial bekerja dalam ruang ibadah. Bagi banyak jamaah laki-laki, masjid adalah ruang singgah di antara pekerjaan, kewajiban keluarga, dan kelelahan harian. Tarawih dijalani, witir diupayakan, tapi tubuh punya batas. Anak-anak mengikuti ritme itu. Mereka membuktikan bahwa masjid juga ruang bermain, bukan hanya ruang diam.
Sementara bagi jamaah perempuan, terutama ibu-ibu dan remaja putri, kehadiran di masjid justru menjadi ruang jeda yang jarang mereka miliki. Di rumah, mereka adalah pengelola ritme: dapur, anak, sahur, buka puasa. Di masjid, mereka menjadi jamaah sepenuhnya. Tidak terpotong peran. Kesetiaan hingga akhir bukan soal ketahanan fisik semata, melainkan soal makna ruang.
Di titik ini, masjid tidak bekerja sebagai ruang terapi instan. Ia tidak menyembuhkan lelah. Tidak menghapus kantuk. Tidak memulihkan tubuh yang sudah diperas seharian. Masjid bekerja secara non-terapeutik: menahan. Menjaga agar kelelahan tidak berubah menjadi sikap acuh. Agar rutinitas ibadah tidak runtuh oleh tuntutan hari.
Ini tampak bukan hanya dalam shaf, tetapi juga dalam detail kecil: anak-anak yang tetap datang meski kemudian bermain; jamaah yang pulang lebih awal tanpa dipermalukan; perempuan yang bertahan tanpa merasa lebih benar. Tidak ada yang saling mengasingkan. Yang ada adalah saling memberi ruang.
Ritual, Niat, dan Kebiasaan
Tulisan Prof Dr Abdul Rauf M Amin MA di kolom Mutiara Ramadhan Tribun Timur (Jumat, 27 Februari 2026) menjadi penanda penting dalam membaca Habitus Ramadhan. Termasuk menelisik kebiasaan jamaah di masjid. Bukan semata karena bobot keilmuannya, tetapi karena Prof Rauf mengajak kita menata kembali cara memaknai ibadah dalam keseharian.
Dengan bertolak dari hadis “Innamal a‘malu binniyat” yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab, Prof Rauf tidak berhenti pada perdebatan sah–tidak sah. Ia menukik ke wilayah orientasi kehendak Allah. Contoh-contoh yang diajukan Prof Rauf seperti jihad demi popularitas, sedekah demi elektabilitas, wakaf untuk menghindari warisan, lembaga pendidikan demi profit itu sangat nyata. Menunjukkan satu pola: amal sah secara teks, tetapi menyimpang secara tujuan.
Dalam bahasa sosiologi agama, contoh-contoh itu bisa dibaca sebagai formalisasi kesalehan. Di mana simbol dan prosedur berjalan, tetapi orientasi moralnya bergeser. Masyarakat digital memang sudah beda. Mereka kompetitif secara simbolik. Mereka dipenuhi logika performa. Mereka dijejali pencitraan religius. Dalam situasi itu, niat tidak lagi netral. Niat kadang ditarik ke ruang publik, dipertontonkan, bahkan dikomodifikasi.
Haji/umrah sudah menjadi branding personal. Filantropi menjadi alat politik. Dakwah jadi sarana ekspansi pengaruh. Fenomena ini bukan sekadar problem etika individual, tetapi gejala struktural dari budaya performatif. Budaya digital. Niat bukan lagi isu privat-spiritual semata, tetapi sudah menjadi persoalan arah peradaban.
Melalui tulisan itu, Prof Rauf mengingatkan bahwa niat bukan sekadar pernyataan verbal, melainkan orientasi batin yang tercermin dalam dampak sosial. Dia membawa niat keluar dari wilayah psikologis sempit, menuju akibat nyata, kemaslahatan dominan, dan pencegahan mafsadah. Dengan kata lain, niat diuji bukan hanya oleh hati pelaku, tapi oleh arah dan jejak sosial amal itu. Dampak.
Di titik itu, posisi masjid menentukan. Masjid bukan lapangan kampanye. Masjid bukan panggung pertunjukan. Di masjid, orang bisa hadir tanpa harus ‘tampil’ atau menunjukkan diri.” Masjid jadi tempat di mana tidak ada yang perlu pamer atau bersaing. Di sini, kehadiran tidak soal dilihat atau dinilai, tapi dijalani sendiri-sendiri. Ritual berulang di masjid sebagai resistensi terhadap budaya pencitraan.
Dan, Ramadhan adalah musimnya. Ramadhan 2026 di Masjid HM Takdir Hasan Saleh tidak dirayakan dengan gegap gempita. Ia dijalani. Perlahan. Berulang. Kadang bolong. Kadang penuh. Di situ anak-anak belajar bahwa masjid bukan ruang steril. Remaja belajar mengambil peran. Perempuan menemukan ruang bertahan. Laki-laki belajar menegosiasikan tubuh dan komitmen.
Dan mungkin, justru dalam kesetiaan yang sunyi, penyusutan yang wajar, serta kebiasaan yang terus diulang itu, masjid sedang bekerja paling efektif. Bukan membentuk manusia ideal, masjid menjaga manusia yang lelah agar tetap terhubung. Itulah habitus Ramadhan. Bukan spektakuler. Tapi hidup.
