Kehidupan Pasangan Lansia yang Berjualan Bensin di Madiun

Di ujung sebuah gang di Jalan Bali, Kota Madiun, Jawa Timur, terdapat sebuah gerobak kayu berwarna kuning yang menjadi tempat usaha pasangan suami istri lansia. Suminem (66) dan Jumikun (68) menjual bensin jenis pertalite dengan cara memasukkan botol-botol kecil ke dalam gerobak mereka.

Suminem duduk di samping kiri gerobak, di atas tikar bekas pamflet. Ia juga membawa peralatan seperti bantal dan selimut agar bisa merebahkan badannya saat menunggu pembeli datang. Untuk mengusir keheningan malam, ia memutar tembang-tembang Jawa dari radio tua miliknya. Selain itu, ia juga membawa tasbih yang digantung pada salah satu gagang pendorong gerobak.

Sementara itu, Jumikun, suami Suminem, rebahan di dalam becak tuanya yang terparkir di pinggir Jalan Bali. Ia sesekali menghisap rokok keretek untuk menghilangkan kebosanan.

Sebelum berjualan di Jalan Bali, pasangan ini pernah menjual bensin di Jalan Dr. Sutomo. Namun, karena kalah bersaing dengan penjual lain, mereka akhirnya pindah ke Jalan Bali.

“Dulu pernah jualan di sana (Jalan Dr. Sutomo). Tapi sekarang saya jualan di sini sama suami saya,” kata Suminem, Minggu (11/1/2026) malam.

Suminem dan Jumikun sudah berjualan bensin sejak tahun 2002. Mereka memilih bidang ini karena dinilai mudah dan tidak memerlukan banyak keterampilan. Dari hasil penjualan tersebut, mereka mampu bertahan tinggal di Kota Madiun meski hanya tinggal di rumah sewa sederhana milik PT KAI. Lantaran dianggap tidak mampu, Suminem hanya membayar uang sewa sebesar Rp 100.000 setahun.

Dalam sehari, Suminem dapat meraup untung berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 60.000. Namun, ia tidak bisa menjual bensin dalam waktu yang lama. Di pinggir Jalan Bali, mereka berjualan mulai pukul 15.00 hingga 22.00 WIB setiap harinya. Saat hujan, Suminem selalu membawa mantel agar air tidak membasahi pakaian dan celananya.

Satu botol pertalite ukuran satu liter dijual Rp 12.000, sedangkan ukuran satu setengah liter dijual Rp 20.000. Dari hasil penjualan tersebut, Suminem masih mampu membelanjakan kebutuhan harian seperti makan dan minum. Mereka tinggal berdua di rumah kecil kontrakan, karena belum dikaruniai keturunan hingga usia lansia.

Bagi Suminem, meskipun penghasilannya kecil, berjualan bensin lebih mulia daripada harus hidup sebagai peminta-minta. Kedua lansia ini merasa malu dan pantang menjadi peminta-minta untuk bertahan hidup di kota.

“Daripada nganggur kami berjualan bensin saja supaya ada pemasukan. Kami malu bila harus meminta-minta kepada saudara untuk mencukupi kebutuhan kami,” katanya.

Menurut Suminem, sebenarnya dirinya dan suaminya disuruh ikut keponakan di wilayah Kabupaten Madiun. Namun, ia merasa tidak enak karena akan merepotkan banyak orang.

“Mau gimana lagi. Saudara saya pada sibuk masak kami menjadi peminta-minta. Saya terima apa adanya dan selalu bersyukur dengan apa yang kami dapatkan. Dan kalau banyak bersyukur ternyata banyak juga yang membantu kami,” tutur Suminem.

Ia pun bersyukur meski dengan berjualan bensin dirinya masih bisa bertahan hidup dalam kondisi sehat di Kota Madiun.

Pengalaman Ditipu Uang Palsu

Berjualan bahan bakar minyak bukan tanpa risiko. Suminem bercerita bahwa dirinya pernah ditipu oleh warga yang nakal dengan membayar menggunakan uang palsu.

“Seingat saya sudah dua kali saya dikasih uang palsu. Tetapi saya bersyukur ada warga lain yang mau mengganti karena kasihan dengan saya,” jelas Suminem.

Suminem sering mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa beras dan uang tunai. Hanya saja, bantuan tersebut tidak bisa digunakan dalam waktu jangka panjang. Untuk bertahan di Kota Madiun, kendati sudah lansia, Suminem tetap bersikukuh bekerja berjualan bensin demi mempertahankan hidup di kota.

Sementara itu, Jumikun, suami Suminem sebenarnya biasa menarik becak. Namun sejak keberadaan ojek online (ojol) semakin banyak, warga tak mau lagi menggunakan jasa penarik becak. Jumikun pun sepi order.

“Yah palingan sebulan baru dapat sekali. Kalau harian sudah tidak ada lagi yang mau naik becak,” jelas Jumikun.

Lantaran sepi order becak, Jumikun kini lebih fokus membantu istrinya berjualan bensin. Apalagi saat ini dirinya bersama istrinya sudah berusia lansia. Ia mengkhawatirkan bila terjadi apa-apa pada istrinya saat berjualan bensin sendirian.

“Saya di sini menemani istri saya berjualan bensin sambil menunggu kalau ada warga yang mau naik becak,” kata Jumikun.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version