Dalam dunia terjemahan, karya sastra prosa sering kali dianggap sebagai bangunan narasi yang kompleks. Jika dibandingkan dengan konsep bangunan, Google Translate dapat diibaratkan sebagai pemasok bahan bangunan seperti semen, pasir, hebel atau bata ringan (AAC). Sementara itu, manusia penerjemah berperan sebagai arsitek dan desainer interior yang menyusun bahan-bahan tersebut menjadi rumah yang indah dan nyaman.
Analogi ini sangat relevan karena bahasa tidak hanya sekadar deretan kata-kata. Di dalamnya terkandung struktur, estetika, dan rasa. Hal-hal inilah yang masih menjadi domain kompetensi manusia penerjemah. Meskipun Google Translate sangat membantu dalam mengatasi kendala bahasa, peran manusia penerjemah tetap diperlukan, terutama untuk materi terjemahan yang membutuhkan akurasi tinggi. Kesalahan kecil dalam penerjemahan bisa berdampak fatal, baik dalam dokumen medis, hukum, maupun karya sastra.
Kesalahan menerjemahkan dokumen medis, misalnya, bisa menyebabkan cedera serius atau bahkan kematian. Dalam dokumen hukum, kesalahan bisa mengakibatkan pembatalan kontrak atau masalah hukum lanjutan. Sedangkan dalam karya sastra, kesalahan bisa merusak estetika dan makna yang ingin disampaikan.
Pergeseran Karakterisasi
Kesalahan dalam penerjemahan kata-kata yang memiliki akurasi tinggi dalam karya sastra prosa tidak hanya berupa salah pilih kata, tapi bisa memicu efek domino yang menghancurkan seluruh struktur cerita. Salah satu efek negatifnya adalah pergeseran karakterisasi, yaitu perubahan sifat atau sikap tokoh dalam karya sastra.
Contohnya, kata “ambitious” dalam bahasa Inggris memiliki konotasi positif, menggambarkan seseorang yang memiliki dorongan kuat untuk mencapai tujuan. Namun dalam bahasa Indonesia, kata “ambisius” sering kali dikaitkan dengan konotasi negatif, seperti ambisi berlebihan atau sikap machiavellian. Ini bisa menyebabkan pergeseran karakterisasi tokoh dalam karya sastra.
Demikian pula dengan penggunaan pronomina “you” dalam bahasa Inggris, yang bisa diterjemahkan menjadi “kau”, “kamu”, atau “Anda”. Pemilihan pronomina ini sangat penting karena menentukan nada percakapan dan hubungan antar tokoh. Kesalahan pemilihan bisa membuat dialog terdengar formal atau tidak alami, sehingga menghilangkan kesan emosional yang ingin disampaikan.
Metafora dan Simbolisme
Google Translate masih kurang fasih dalam menerjemahkan metafora, simbolisme, idiom, dan personifikasi. Contohnya, frasa “break a leg” yang artinya “semoga sukses” sering diterjemahkan secara harfiah menjadi “patahkan satu kaki”, yang tidak sesuai dengan konteks aslinya.
Selain itu, frasa verba seperti “call on” dan “flip out” juga sering diartikan secara literal, padahal maknanya berbeda. Misalnya, “call on” sebenarnya berarti “mengunjungi atau meminta bantuan”, bukan “menelepon”.
Metafora seperti “He is a shining star in our team” sering diterjemahkan secara literal, sehingga hasilnya terasa kaku dan kurang natural. Manusia penerjemah diperlukan untuk mengolah terjemahan agar lebih sesuai dengan konteks budaya dan estetika bahasa target.
Simbolisme budaya spesifik juga sering kali terlewat oleh mesin penerjemah. Misalnya, kalimat “The cold winter of her heart began to thaw” sering diterjemahkan secara harfiah, sehingga keindahan simbolisme hilang.
Adaptasi Budaya
Untuk menjaga keaslian dan keindahan karya sastra, manusia penerjemah perlu melakukan adaptasi budaya. Misalnya, lelucon, referensi lokal, dan idiom harus disesuaikan agar bisa dipahami oleh audiens bahasa target.
Contohnya, kalimat “Why did the scarecrow win an award?” yang berisi lelucon tentang orang-orangan sawah, harus diadaptasi agar bisa dinikmati oleh pembaca Indonesia. Demikian pula dengan referensi budaya populer, seperti mengganti “Elvis” dengan tokoh ikonik Indonesia agar lebih mudah dipahami.
Machine Translation Post-Editing (MTPE)
Proses Machine Translation Post-Editing (MTPE) melibatkan manusia penerjemah untuk memperbaiki hasil terjemahan mesin agar lebih alami dan estetis. Contohnya, kalimat “The sun dipped below the horizon, painting the sky in hues of bruised violet and burning gold” bisa diterjemahkan menjadi “Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala, menyapu langit dengan semburat ungu pekat dan pijar keemasan.”
Manusia penerjemah tidak hanya memperbaiki struktur kalimat, tetapi juga memastikan bahwa terjemahan tetap mempertahankan nuansa estetika dan makna yang ingin disampaikan.
