Warga Kapalo Koto Merayakan Lebaran di Hunian Sementara

Di tengah keheningan dan keterbatasan, warga Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah. Namun, perayaan kali ini jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Banjir bandang yang melanda pada akhir tahun 2025 menghancurkan rumah dan sawah mereka, sehingga membuat warga harus tinggal di Hunian Sementara (Huntara) Mandiri.

Tradisi lebaran yang biasanya penuh dengan persiapan dan kegembiraan kini berubah menjadi penantian panjang. Tidak ada kue-kue yang tersusun rapi atau dekorasi yang menarik. Para penyintas banjir bandang ini harus menjalani hari raya dalam kondisi yang tidak ideal, sambil menghadapi ketidakpastian ekonomi yang semakin mengkhawatirkan.

Perubahan yang Mendalam

Rahmadanis, salah satu penghuni Huntara Mandiri, mengungkapkan bahwa lebaran kali ini sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ia tidak bisa mempersiapkan kue atau mendekorasi rumah seperti dulu. “Lebaran tahun ini tidak ada buat kue. Tidak ada persiapan yang besar, sangat jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya,” katanya.

Dahulu, ia selalu sibuk mendekorasi rumah dan menata setiap sudut agar nyaman untuk tamu. Namun, semua itu kini terkubur bersama puing-puing rumahnya yang hancur. Banjir bandang tidak hanya merusak bangunan fisik, tetapi juga menyapu bersih sawah-sawah yang menjadi tumpuan ekonomi keluarganya. Sawah yang dulunya hijau kini tertutup material lumpur dan bebatuan, tak lagi bisa ditanami.

Kehilangan sawah menjadi pukulan telak bagi warga. Rahmadanis mengaku dirundung kecemasan luar biasa memikirkan bagaimana ia harus menyambung hidup setelah masa tanggap darurat benar-benar usai. Ketidakpastian juga menyelimuti perihal bantuan. Meski saat ini bantuan dari pemerintah dan berbagai pihak masih mengalir, ia sadar bahwa ia tidak bisa selamanya menggantungkan nasib pada uluran tangan orang lain.

Harapan untuk Masa Depan

Fitri Afriyani, penghuni Huntara lainnya, juga merasakan kisah pilu serupa. Baginya, kehidupan seolah sedang mempermainkannya dengan cara yang paling tidak terduga. Ia tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa ia akan melewatkan momen lebaran di dalam sebuah hunian sementara yang serba terbatas.

Fitri memandang bahwa apa yang menimpa dirinya dan warga Kapalo Koto adalah ujian berat dari Yang Maha Kuasa. Ia mencoba tegar, meski setiap sudut Huntara selalu mengingatkannya pada kehidupan mapan yang hilang dalam sekejap mata akibat amukan alam. “Kehidupan ini memang tidak bisa ditebak. Saya tidak mengira lebaran tahun ini harus di Huntara. Tapi ini cobaan Tuhan, kami harus sabar dan harus bangkit kembali,” kata Fitri.

Di tengah segala keterbatasan itu, secercah harapan masih tersisa di hati para penyintas. Satu-satunya doa yang paling sering dipanjatkan saat ini adalah segera selesainya pembangunan Hunian Tetap (Huntap) yang dijanjikan oleh pemerintah. Bagi Fitri dan warga lainnya, pindah ke Huntap adalah langkah awal untuk memulai kembali hidup yang sempat terhenti.

Harapan untuk kembali memiliki atap yang permanen menjadi satu-satunya motivasi mereka untuk terus bertahan. Mereka mendambakan sebuah tempat di mana mereka bisa kembali menata gorden, menyusun kue, dan menyambut hari raya dengan senyum yang tulus, bukan senyum yang dipaksakan.

Kesadaran dan Kebersamaan

Tanpa hiruk pikuk perayaan, lebaran kali ini menjadi momentum bagi warga Pauh untuk saling menguatkan pundak, sembari menanti janji pemulihan yang nyata dari para pemangku kebijakan. Di tengah kesedihan dan keterbatasan, warga Kapalo Koto tetap berharap bahwa suatu hari nanti mereka bisa kembali merasakan kehidupan yang normal dan sejahtera.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version