PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mengalami peningkatan signifikan dalam pendapatan selama kuartal II 2026, terutama akibat banyaknya libur panjang yang terjadi. Namun, ada indikasi bahwa sentimen positif ini akan berkurang pada semester kedua tahun tersebut.
Dalam perayaan Hari Raya Iduladha 1447H yang jatuh pada tanggal 26-27 Mei 2026, volume lalu lintas (lalin) keluar wilayah Jabotabek mencapai 321.039 kendaraan. Angka ini meningkat sebesar 19,62% dibandingkan dengan lalin normal sekitar 268.392 kendaraan. Peningkatan ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih aktif melakukan perjalanan saat libur panjang.
Untuk menghadapi potensi penurunan jumlah libur panjang di semester II 2026, JSMR berkomitmen untuk menjaga target kinerja tahun ini melalui strategi yang terencana dan konsisten. Dari sisi pendapatan usaha, perusahaan memastikan Standar Pelayanan Minimal (SPM) jalan tol tetap terpenuhi agar pelayanan optimal kepada pengguna jalan. Selain itu, upaya penyesuaian tarif jalan tol juga dilakukan sesuai rencana.
Direktur Utama JSMR, Rivan A. Purwantono, menyampaikan bahwa perusahaan juga berkomitmen menjaga EBITDA agar tetap tumbuh dengan alokasi anggaran yang efektif dan efisien. Hal ini dilakukan untuk menjalankan program kerja yang tepat guna dan memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Sampai kuartal I 2026, JSMR telah merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar 20% dari anggaran tahun ini. Penyerapan capex berjalan secara linier sesuai dengan kemajuan fisik pembangunan di lapangan. Dana tersebut dialokasikan khusus untuk mempercepat penyelesaian lima proyek tol strategis nasional, yaitu:
- Tol Jogja-Solo
- Jalan Tol Jogja-Bawen
- Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi
- Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan
- Jalan Tol Akses Patimban
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menyatakan bahwa Jasa Marga memproyeksikan sekitar 1,09 juta kendaraan keluar Jabotabek selama periode libur Iduladha dan Hari Lahir Pancasila. Angka ini naik sekitar 8,9% dibandingkan kondisi normal. Meskipun momentum libur ini bisa menjadi tambahan katalis pendapatan tol, namun sifatnya lebih musiman dan belum tentu menjadi pendorong utama sepanjang tahun.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai bahwa banyaknya libur panjang di kuartal II 2026 dapat berkontribusi positif terhadap kinerja JSMR. Namun, peningkatannya tidak akan terlalu signifikan karena kinerja di kuartal I 2026 sudah solid. Momentum libur panjang yang tersebar merata di semester I membantu distribusi volume lalin, sehingga kuartal II nanti tidak akan jauh berbeda dari kuartal I.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyatakan bahwa libur panjang menjadi katalis positif langsung ke kinerja JSMR. Historisnya, trafik tol di libur panjang melonjak antara 15%-25%, terutama di ruas Trans Jawa dan Jakarta-Cikampek. Efeknya musiman, sehingga di luar periode libur trafik kembali ke level normal, namun cukup untuk mendorong pendapatan kuartal II secara material.
Kinerja JSMR di sisa tahun 2026 dinilai masih prospektif meskipun pertumbuhannya cenderung moderat. Menurut Ekky, secara operasional, kinerja JSMR di tahun ini masih ditopang oleh trafik kendaraan, penyesuaian tarif tol, dan kontribusi ruas baru. Pendapatan usaha JSMR tumbuh 10,4% year on year menjadi sekitar Rp5,1 triliun pada kuartal I-2026, dengan EBITDA margin kuat di kisaran 66,1%. Ini menunjukkan bisnis inti jalan tol masih cukup sehat, meskipun dari sisi laba bersih masih ada tekanan dari beban keuangan.
Menumpuknya hari libur di awal tahun membuat kontribusi trafik lebih kuat di semester I, sehingga pada semester II pertumbuhannya mungkin lebih normal. Namun, hal ini tidak otomatis membuat kinerja JSMR turun. Sebab, pendapatan utama tetap berasal dari mobilitas harian, aktivitas logistik, dan perjalanan masyarakat. Margin JSMR juga masih bisa terjaga apabila trafik kendaraan stabil dan penyesuaian tarif tol bisa terserap dengan baik.
Ekky merekomendasikan buy on weakness untuk JSMR dengan target harga terdekat Rp 3.300 per saham dan target lanjutan Rp 3.650 per saham jika trafik dan sentimen pasar membaik. Secara fundamental, bisnisnya masih defensif dan punya posisi dominan di sektor jalan tol, namun pergerakan saham masih perlu memperhitungkan tekanan laba bersih dan beban utang.
Abida menyatakan bahwa libur panjang yang menumpuk di semester I membuat pertumbuhan semester II secara tahunannya nanti bisa lebih moderat, tetapi kinerja absolut akan tetap terjaga. Katalis positif JSMR berasal dari kontribusi penuh kenaikan tarif pada kuartal IV 2025 yang baru optimal tahun ini dan pembukaan ruas baru yang memperluas basis pendapatan.
Namun, tantangan untuk Jasa Marga masih cukup berat lantaran kenaikan BI Rate yang mempertebal beban bunga JSMR yang sudah besar, ditambah pelemahan rupiah yang menaikkan biaya utang dolar Amerika Serikat (AS). Perbaikan margin di lingkungan suku bunga tinggi ini akan terbatas, sehingga pertumbuhan profitabilitas lebih bertumpu pada ekspansi trafik dan efektivitas kenaikan tarif.
Wafi menambahkan, sentimen positif kinerja JSMR berasal dari penyesuaian tarif tol; operasional ruas tol baru (Probolinggo–Banyuwangi, Solo–Yogyakarta), dan potensi pivot suku bunga Bank Indonesia (BI rate) yang bisa meringankan beban bunga. Sentimen negatifnya berasal dari tergerusnya daya beli yang bisa menekan volume non-logistik, proporsi masyarakat yang tidak mudik naik, serta BI rate tetap di 5,25% yang akan memperberat cost of debt. Margin JSMR berpotensi membaik karena tarif tol yang naik dan permintaan inelastis, tapi peningkatannya gradual.
Wafi merekomendasikan beli untuk JSMR dengan target harga Rp 4.500 per saham.
