Pengalaman Traumatis Orang Tua Siswa Akibat Keracunan MBG

Salmen Sihite, seorang orang tua siswa SMK 1 Berastagi, mengungkapkan pengalamannya yang traumatis setelah putrinya dirawat di ruang PICU akibat keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia meminta agar program tersebut ditutup karena menimbulkan risiko yang sangat berbahaya bagi kesehatan siswa.

Pengalaman Keluarga yang Menyedihkan

Putri Salmen, Krismas Dayanti Br Sihite, adalah salah satu dari ratusan siswa yang terkena keracunan MBG. Kejadian ini terjadi pada Kamis (12/8/2026) setelah siswa-siswa menyantap makanan dari program MBG. Setelah makan, Krismas mengalami gejala seperti nyeri perut dan pusing yang cukup parah. Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit dan akhirnya masuk ke ruang PICU.

Salmen mengaku sangat trauma dengan kejadian ini. Ia tidak lagi ingin anaknya makan MBG, bahkan meminta agar program tersebut dihentikan. “Lebih baik bawa bekal sendiri dari rumah, meskipun hanya ikan asin, daripada makan menu mewah tapi malah berujung petaka,” ujarnya.

Proses Pemulihan Anak

Setelah tiga hari dirawat di ruang PICU, kondisi Krismas mulai membaik. Meski masih dalam pemantauan medis, ia sudah bisa berbicara dan makan. Namun, Salmen tetap merasa cemas. Ia belum mendapatkan informasi pasti tentang kapan anaknya bisa pulang.

“Masih ada rasa takut. Saya harap anak saya cepat pulih dan segera kembali ke sekolah,” katanya.

Awal Kejadian dan Penelusuran Kondisi Anak

Salmen mengatakan bahwa awalnya ia tidak tahu jika anaknya terkena keracunan. Ia hanya mendengar kabar dari adiknya bahwa beberapa siswa di sekolahnya mengalami gejala serupa. Karena panik dan khawatir, ia langsung pergi ke sekolah untuk mencari anaknya.

Namun, ia tidak menemukan Krismas di sekolah. Setelah mencari ke beberapa rumah sakit, akhirnya ia menemukan anaknya di Rumah Sakit Efarina Karo. Di sana, Krismas masih bisa berbicara, meski mengeluh sakit perut dan tenggorokan.

Perjalanan ke Rumah Sakit Umum Haji Medan

Setelah dirawat di Rumah Sakit Efarina Karo, kondisi Krismas semakin memburuk. Ia sempat mengalami penurunan kesadaran dan harus dipindahkan ke Rumah Sakit Umum Haji Medan. Selama tiga hari di ruang PICU, keluarga terus menunggu kabar baik.

Salmen mengungkapkan bahwa ia tidak pernah menanyakan hasil medis anaknya secara detail. Yang ia pedulikan hanyalah kesembuhan sang anak. “Yang penting dia segera pulih. Kami serahkan sepenuhnya kepada dokter,” katanya.

Kebiasaan Anak Sebelum Keracunan

Krismas sebelumnya tidak memiliki riwayat alergi atau penyakit apa pun. Ia bahkan jarang ke klinik atau dokter. Hal ini membuat Salmen semakin heran dan khawatir. “Jangankan alergi, sampai ke klinik pun tidak pernah,” ujarnya.

Meski begitu, ia bersyukur karena kondisi anaknya mulai membaik. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu perawatan anaknya.

Penyebab Keracunan MBG

Menurut informasi yang diperoleh, keracunan MBG diduga disebabkan oleh ikan yang tidak dimasukkan ke freezer selama 10–12 jam. Kepala BGN, Sudaryono, menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan investigasi secara transparan dan menutup dapur serta mencopot kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Ia juga menegaskan bahwa pejabat yang tidak mampu mengelola bahan makanan dengan baik lebih baik mundur. “Ini kebodohan dan kelalaian yang sangat serius,” tegasnya.

Kesimpulan

Kasus keracunan MBG ini menjadi peringatan bagi pihak sekolah dan pemerintah daerah untuk lebih teliti dalam mengelola program makanan bergizi gratis. Dengan adanya insiden ini, banyak orang tua siswa mulai mempertanyakan kualitas dan keamanan makanan yang diberikan di sekolah-sekolah. Semoga kejadian ini dapat menjadi pelajaran berharga agar tidak terulang kembali.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version