Penelusuran Sejarah Mengungkap Tempat Lahir Bung Karno

Perdebatan mengenai tempat dan tahun kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, kembali mencuat setelah sejumlah penelusur sejarah di Jombang memaparkan temuan arsip yang mereka yakini memiliki nilai pembuktian kuat. Selama ini, Ir. Soekarno disebut lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada tanggal 6 Juni 1901. Namun, kini perdebatan itu menunjukkan bahwa sejumlah dokumen disebut mengarah pada Ploso, Jombang sebagai lokasi kelahiran Bung Karno pada 6 Juni 1902.

Para peneliti menilai arsip keluarga, dokumen administrasi pendidikan, hingga catatan mutasi ayah Bung Karno lebih kuat dijadikan rujukan dibandingkan sejumlah literatur yang selama ini populer. Meski demikian, pembahasan mengenai tempat dan tahun kelahiran Bung Karno masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.

Dokumen Primer Dibandingkan dengan Buku Biografi

Kajian tersebut kembali membuka diskusi tentang narasi kelahiran Bung Karno yang selama ini banyak merujuk pada sejumlah literatur, termasuk buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams. Buku biografi yang terbit pada 1966 itu selama ini menjadi salah satu referensi populer mengenai perjalanan hidup Presiden pertama Republik Indonesia tersebut.

Namun, dua penelusur sejarah asal Jombang menilai dokumen primer, arsip keluarga, serta dokumen administrasi pendidikan memiliki bobot pembuktian yang lebih kuat dalam menelusuri fakta sejarah. Dokumen-dokumen itu disebut mencantumkan tanggal lahir Bung Karno pada 6 Juni 1902 dan mengarah pada Ploso sebagai lokasi kelahirannya.

Penelusur sejarah Jombang, Arif Yulianto atau Cak Arif, mengatakan tulisan tangan ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodihardjo, menjadi salah satu dokumen penting yang perlu diperhatikan dalam perdebatan tersebut. Menurutnya, dokumen tulisan tangan Raden Soekeni mencantumkan tanggal lahir Bung Karno pada 6 Juni 1902. Data serupa, kata dia, juga tercatat dalam dokumen pendaftaran Bung Karno saat melanjutkan pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS), yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Cak Arif menilai dokumen primer memiliki bobot historis lebih kuat dibandingkan buku biografi yang diterbitkan beberapa dekade setelah peristiwa kelahiran Bung Karno. Ia juga mengkritisi salah satu bagian dalam buku karya Cindy Adams yang mengisahkan rencana memudakan usia Bung Karno saat berpindah sekolah. Menurutnya, kronologi dalam narasi tersebut tidak sesuai dengan perjalanan pendidikan Bung Karno.

“Jika ditelusuri dari riwayat pendidikannya, pada usia sekitar 14 tahun Bung Karno sudah belajar di HBS Surabaya. Sementara cerita mengenai pemudaan usia disebut terjadi ketika masih berada di Mojokerto. Menurut saya, kronologinya tidak cocok,” ucapnya saat dikonfirmasi terpisah oleh Infomalangraya.net, Minggu (5/7/2026).

Selain itu, ia menilai sejumlah fakta sejarah lain, seperti riwayat Bung Karno pernah tinggal dan bersekolah di Ploso maupun Sidoarjo, belum termuat dalam buku tersebut. Karena itu, menurutnya, buku biografi tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk mengoreksi dokumen primer.

Arsip Mutasi Raden Soekeni Disebut Mengarah ke Ploso

Sementara itu, penulis buku Titik Nol Soekarno Ploso 1902, Binhad Nurrohmat, menyampaikan terdapat sejumlah arsip yang menurutnya mendukung kesimpulan bahwa Bung Karno lahir di Ploso pada 6 Juni 1902. Ia menyebut salah satunya adalah surat keputusan mutasi Raden Soekeni ke Ploso tertanggal 28 Desember 1901. Berdasarkan dokumen itu, Raden Soekeni mulai bertugas sebagai mantri guru di Ploso pada akhir 1901.

“Enam bulan setelah mulai bertugas di Ploso, tepatnya 6 Juni 1902, Bung Karno lahir. Itu sesuai dengan data yang kami temukan,” kata Binhad. Binhad juga mengutip tulisan tangan Raden Soekeni yang mencantumkan tanggal lahir Bung Karno pada 6 Juni 1902. Menurutnya, catatan tersebut sejalan dengan dokumen pendaftaran Bung Karno di THS.

Selain dokumen keluarga, Binhad turut mengacu pada catatan letusan Gunung Kelud tahun 1902 dalam sejumlah literatur geologi sebagai bagian dari konteks sejarah pada masa itu. Ia menjelaskan, Ploso ketika itu masih berada dalam wilayah administrasi Karesidenan Surabaya. Karena itu, penyebutan “Surabaya” dalam sejumlah sumber sejarah tidak selalu merujuk pada wilayah Kota Surabaya seperti saat ini.

Perdebatan Tempat Lahir Bung Karno Masih Terbuka

Meski sejumlah arsip disebut mengarah pada Ploso sebagai tempat kelahiran Bung Karno, perdebatan mengenai tempat maupun tahun kelahiran Presiden pertama RI itu masih menjadi pembahasan di kalangan peneliti sejarah. Sejumlah literatur, termasuk buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams, masih digunakan sebagai salah satu referensi.

Namun, sejumlah peneliti lain menilai dokumen primer, arsip keluarga, dan dokumen administrasi memiliki nilai pembuktian yang lebih kuat dalam menelusuri sejarah kelahiran Bung Karno.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version