Peran Diskusi dalam Mengembangkan Partai Politik

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem NTT menegaskan pentingnya membangun politik berbasis gagasan, intelektualitas dan kritik konstruktif dalam menghadapi dinamika demokrasi dan kontestasi politik ke depan. Hal ini muncul dalam Diskusi Akhir Pekan (DIAN) keempat bertema “Partai Politik dan Konsolidasi Elektoral” yang digelar di Lantai II Gedung NasDem NTT, Kota Kupang, Sabtu (23/5/2026).

Diskusi tersebut menghadirkan tiga narasumber dari kalangan akademisi dan mahasiswa, yaitu Lazarus Ratu dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nusa Cendana (Undana), Bruno Rey Sonby Pantola, S.I.P., M.I.P., dosen FISIP Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira), serta Abner Paulus Raya Sanga, S.Sos., M.Si., dosen FISIP Undana.

Konsolidasi Elektoral dan Intelektualitas

Alex Ofong, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai NasDem NTT, menyampaikan bahwa konsolidasi elektoral tidak semata-mata berbicara soal kemenangan politik, tetapi juga kualitas demokrasi dan kapasitas intelektual partai politik dalam membaca persoalan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa forum DIAN yang kini memasuki pelaksanaan keempat diharapkan mampu membangun cara berpikir baru dalam kerja-kerja politik.

“Melalui diskusi diharapkan partai politik dalam kerja-kerjanya untuk mencapai kemenangan tidak saja fokus pada pergerakan di lapangan, tetapi juga harus memiliki mindset dan insight. Harus punya berbagai perspektif terhadap persoalan masyarakat, sehingga politisi dan aktivis tidak hanya mengejar kemenangan elektoral,” ujarnya.

Alex Ofong mengutip pandangan pengamat politik Rocky Gerung bahwa kemenangan politik harus dibangun di atas aksesibilitas, elektabilitas dan intelektualitas. Ia menekankan bahwa untuk mencapai elektoral yang bagus, partai tidak hanya mendapat kuantitas tetapi juga kualitas. Kualitas itu ditentukan oleh etika dan intelektualitas.

Keterlibatan Mahasiswa dalam Diskusi

Alex Ofong menambahkan, NasDem NTT sengaja melibatkan mahasiswa FISIP Undana yang tengah menjalani magang di DPW Partai NasDem sebagai narasumber diskusi karena dinilai memiliki basis pengetahuan komunikasi politik yang dapat memberikan kontribusi gagasan dan strategi pengembangan partai.

“NasDem sangat membutuhkan nutrisi politik. Jadi kalau ada masukan sebagai nutrisi silakan sampaikan melalui diskusi-diskusi. Kami sangat membutuhkan kritik,” ujarnya.

Pentingnya Komunikasi Politik yang Sehat

Dalam pemaparan materi, Lazarus Ratu menyoroti pentingnya pembentukan kandidat dan komunikasi politik yang sehat dalam kerja-kerja partai politik. Ia membandingkan semangat restorasi Partai NasDem dengan tagline “bersatu, berjuang dan menang” yang menurutnya harus diterjemahkan dalam kerja politik yang nyata di tengah masyarakat.

Menurut Lazarus, komunikasi politik seharusnya dibangun melalui ruang-ruang diskusi dan media yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Ia menilai masih banyak masyarakat yang belum memahami politik dan bahkan masih jauh dari kemajuan. Karena itu, partai politik memiliki tanggung jawab besar memberikan pendidikan politik kepada masyarakat.

Lazarus juga menekankan pentingnya kampanye yang demokratis dan profesional, sekaligus didukung data yang akurat mengenai kondisi dan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, partai politik harus tahu apa yang terjadi di masyarakat, termasuk apa yang dibutuhkan masyarakat. Melalui anggota DPRD yang dimiliki partai politik, harus disampaikan agar kebijakan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.

Ruang Konflik Gagasan dalam Politik

Bruno Rey Sonby Pantola menilai partai politik tidak hanya berbicara tentang basis suara dan kemenangan pemilu, tetapi juga harus menjadi ruang lahirnya ide dan gagasan. Ia menyebut politik sejatinya merupakan ruang konflik gagasan yang harus terus dihadirkan demi kepentingan masyarakat.

“Partai politik merupakan sebuah ide. Ruang politik adalah ruang konflik dengan menyimpan ide pada ruang publik lalu didiskusikan bersama,” katanya.

Menurut Bruno, komunikasi politik tidak boleh hanya bergantung pada media sosial, tetapi harus dibangun melalui dialog langsung dengan masyarakat. Ia menyoroti kecenderungan publik yang selalu mengaitkan politik dengan korupsi sehingga mengabaikan ide dan gagasan yang sebenarnya menjadi inti dari politik itu sendiri.

Realitas dalam Politik

Abner Paulus Raya Sanga menjelaskan bahwa politik merupakan etalase realitas yang harus mampu membaca kondisi nyata di tengah masyarakat. Ia menekankan bahwa pesan politik bersifat simbolik dan membutuhkan media yang tepat agar dapat dipahami masyarakat.

“Kebohongan itu ketika disampaikan berulang kali maka dianggap sebagai kebenaran. Begitulah komunikasi,” ujarnya.

Abner Paulus Raya Sanga juga menyinggung pentingnya identitas dan pencitraan dalam politik. Menurutnya, citra bersifat netral tergantung bagaimana ditempatkan dan digunakan oleh partai politik maupun figur politik itu sendiri.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

© 2026 Info Malang Raya. All rights reserved.

Exit mobile version