Keluhan pada Saraf Tepi yang Sering Diabaikan
Keluhan pada saraf tepi sering kali tidak langsung dikenali oleh pasien. Banyak dari mereka datang dengan masalah nyeri yang menjalar, baal, kesemutan, rasa seperti tersetrum, kelemahan atau gangguan gerak pada area leher, bahu, lengan, tangan, maupun tungkai. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk beraktivitas dan hidup mandiri.
Untuk menangani kondisi tersebut, salah satu prosedur yang dilakukan adalah peripheral nerve surgery. Siloam Hospitals TB Simatupang menyediakan layanan ini yang melibatkan dokter spesialis bedah saraf, anestesiologi dan terapi intensif, serta kedokteran fisik dan rehabilitasi guna mendukung penanganan yang lebih komprehensif, aman, dan berorientasi pada pemulihan pasien.
Fungsi Saraf Tepi
Saraf tepi atau saraf perifer adalah jaringan yang menghubungkan otak dan sumsum tulang belakang dengan berbagai bagian tubuh. Fungsinya mencakup pengiriman rasa sentuhan, panas, dingin, dan nyeri, sekaligus meneruskan perintah untuk bergerak.
“Saraf tepi ibaratnya kabel yang menghubungkan antara sistem saraf pusat, yaitu jaringan otak, sumsum tulang belakang, dengan seluruh organ tubuh kita. Jadi saraf tepi ini membuat pesan dari otak menuju ke seluruh jaringan tubuh dan mengirimnya balik dari seluruh organ tubuh kembali ke otak,” ujar Kepala Staf Medik Fungsional Neuroscience Siloam Hospitals TB Simatupang, Dr. dr. Ferry Senjaya, Sp.BS, IFAANS di Jakarta, pada Rabu (19/8).
Bila saraf mengalami tekanan atau cedera, penghantaran sinyal tersebut dapat terganggu. Contohnya, ketika saraf mengalami cedera—misalnya karena kecelakaan, luka sayat, patah tulang, terjepit, tumor, atau komplikasi operasi—pasien dapat mengalami:
- Tangan/kaki menjadi lemah atau tidak bisa digerakkan.
- Mati rasa atau kesemutan.
- Nyeri seperti terbakar atau tersengat listrik.
- Kehilangan fungsi tertentu, misalnya drop hand atau kesulitan menggenggam.
Keluhan yang Berkaitan dengan Saraf Tepi
Pada tahap awal, keluhan di bahu dan lengan sering dianggap sebagai masalah otot, sendi, atau pegal biasa. Padahal, tidak semua berasal dari sendi atau otot.
Dalam kondisi tertentu, keluhan tersebut dapat berkaitan dengan gangguan saraf tepi, misalnya cedera saraf akibat trauma, gangguan pada pleksus brakialis, penjepitan saraf di area tertentu, nyeri saraf kronis, maupun tumor saraf tepi.
Keluhan pada saraf tepi memerlukan pemeriksaan menyeluruh, di mana pemeriksaan dapat menemukan cedera saraf, gangguan pleksus brakialis, tekanan pada saraf tertentu atau pertumbuhan jaringan di sekitar saraf. Temuan tersebut dinilai bersama dengan keluhan dan perubahan fungsi pasien sebelum penanganan ditentukan.
Definisi Bedah Saraf Tepi
Beda saraf perifer atau saraf tepi adalah prosedur operasi untuk memperbaiki, melepaskan, menyambungkan, atau mengalihkan saraf yang mengalami kerusakan di luar otak dan sumsum tulang belakang.
Menurut Dr. Ferry, dalam kondisi tertentu, saraf dapat diperbaiki melalui operasi mikro dengan menyambungkan kembali ujung saraf, menggunakan nerve graft/conduit, melakukan neurolisis untuk membebaskan saraf yang terjepit atau terbungkus jaringan parut, serta nerve transfer—mengalihkan saraf yang masih berfungsi untuk membantu menghidupkan kembali otot yang kehilangan persarafan.
Lebih lanjut Dr. Ferry menjelaskan, pada cedera saraf, waktu diagnosis dan rujukan menjadi sangat penting. Keterlambatan diagnosis dan rujukan masih menjadi salah satu hambatan dalam penanganan cedera saraf perifer, sementara cedera saraf bersifat kompleks dan time-sensitive.
“Karena sifatnya yang cukup kompleks, untuk memaksimalkan clinical outcome, kami bekerja sama dengan dokter anestesiologi dan terapi intensif serta kedokteran fisik dan rehabilitasi,” imbuhnya.
Pemantauan Pasien Secara Menyeluruh
Pada tindakan bedah saraf perifer atau saraf tepi tertentu yang relatif tidak kompleks dan membutuhkan komunikasi serta umpan balik dari pasien selama operasi, salah satu teknik yang dapat digunakan adalah conscious sedation. Dengan teknik ini, pasien berada dalam kondisi rileks dan nyaman, tetap dapat berkomunikasi dengan baik, serta mendapatkan pengendalian nyeri yang optimal selama prosedur.
Selama prosedur, kondisi pasien dipantau secara menyeluruh dan berkesinambungan, termasuk kedalaman sedasi, fungsi motorik, serta tanda-tanda vital, menggunakan perangkat monitoring yang lengkap dan sesuai standar keselamatan pasien.
“Selain memastikan keamanan selama operasi, kami juga memberikan perhatian khusus terhadap penanganan nyeri setelah operasi. Untuk penanganan nyeri, ada berbagai modalitas yang dapat diberikan sesuai kebutuhan pasien, termasuk patient-controlled analgesia (PCA), peripheral nerve block, dan berbagai pendekatan multimodal lainnya,” dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Andreas Willianto, Sp.An-TI mengatakan.
Penanganan nyeri yang optimal diharapkan dapat membantu pasien bergerak lebih dini, mempercepat proses pemulihan dan memungkinkan mereka kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.
Siloam Hospitals TB Simatupang memiliki acute pain service (APS) yang terstruktur, terdiri dari dokter spesialis anestesi dan perawat yang terlatih dalam penatalaksanaan nyeri akut, serta didukung oleh pelayanan yang tersedia 24/7.
