Perjalanan Pariwisata: Dari Kebutuhan Rohani ke Agama Baru

Pada abad pertengahan, orang berwisata karena alasan keagamaan, sedangkan kini orang berwisata karena pariwisata adalah agamanya. Kata-kata yang diucapkan oleh Dr. Robert Runcie, Uskup Agung Canterbury (1980-1990), menggambarkan perubahan mendasar dalam motivasi seseorang untuk melakukan perjalanan. Hal ini menunjukkan bahwa sekarang, wisata tidak hanya sekadar kegiatan rekreasi, tetapi juga menjadi cara untuk mencari makna hidup dan pengalaman spiritual.

Pariwisata Spiritual dan Ziarah

Pariwisata agama mencakup dua aspek utama, yaitu wisata spiritual ziarah dan wisata spiritual alam. Wisata ziarah biasanya melibatkan perjalanan ke tempat-tempat suci atau sakral sesuai dengan keyakinan seseorang. Di masa lalu, peziarah sering kali menerima bantuan dari masyarakat lokal, seperti tempat istirahat (hospice). Namun, dewasa ini, pariwisata spiritual ziarah telah berkembang menjadi industri yang lebih terstruktur, dengan dukungan dari berbagai sektor usaha seperti akomodasi, transportasi, dan restoran.

Wisata spiritual ziarah bisa berupa pilgrimage—perjalanan ke objek atau even rohani dengan niat untuk beribadah—atau religious sightseeing, yaitu tamasya ke destinasi rohani tanpa niat untuk berdoa. Di NTT, masih banyak obyek dan daya tarik wisata ziarah yang belum mendapat perhatian dan pengelolaan yang optimal.

Wisata Spiritual Alam

Di sisi lain, wisata spiritual alam merujuk pada pengalaman spiritual yang diperoleh dari alam dan budaya. Daya tarik alam dan budaya tidak hanya dilihat dari aspek naturalnya, tetapi juga dari nilai-nilai supernatural yang terkandung di dalamnya. Contohnya, Kelimutu di Lio-Ende, Reba di Ngada, dan Gunung Mutis di Timor memiliki narasi mitos dan legenda yang memengaruhi pola pikir dan tingkah laku religius masyarakat setempat.

Agama Pariwisata

Agama pariwisata mengacu pada sikap dan tindakan yang memperlakukan fenomena pariwisata sebagai suatu berhala yang menarik manusia mengabdikan diri sepenuhnya demi kenikmatan hidup. Hal ini dapat terwujud dalam dua bentuk, yaitu mekanisme kerja industri pariwisata dan proses ritualisasi pariwisata.

Industri pariwisata menyediakan berbagai fasilitas bagi wisatawan, seperti atraksi alam dan budaya, fasilitas amenities (hotel, restoran, cafe), aksesibilitas (transportasi, jalan raya), serta layanan pendukung (bank, cinderamata). Iklan-iklan pariwisata sering kali menampilkan gambaran romantis dan eksotis, sehingga memberikan kesan bahwa pariwisata adalah sebuah pengalaman “escape” dari tekanan kehidupan sehari-hari.

Ritualisasi Pariwisata

Dalam ritualisasi pariwisata, berwisata dipandang sebagai suatu perayaan ritual kehidupan. MacCannel, seorang ahli ilmu pariwisata, menyebut fenomena ini sebagai rite de passage, yaitu peralihan daur hidup. Wisatawan meninggalkan pengalaman hidup sehari-hari mereka, lalu beralih ke pengalaman baru yang sangat berbeda, dan akhirnya pulang kembali dengan status sosial yang berubah.

Selain itu, dalam ritual sosial, perjalanan wisata dihayati sebagai simbol status sosial. Pietro Scarduelli, antropolog Italia, mengamati para turis yang datang ke Tanah Toraja, Sulawesi, tertarik pada kebudayaan menguburkan orang mati (mortuary tourism). Mereka mencari pengalaman eksotik dan unik, yang kemudian menjadi simbol prestise sosial.

Kesimpulan

Pengalaman berwisata sebagai escape ke paradise dan sebagai perjalanan sakral ritual inilah yang dimaksud oleh Dr. Robert Runcie dalam pernyataannya: “now they are tourists because tourism is their religion”. Pariwisata kini menjadi semacam agama baru, di mana manusia dapat mencapai kota surgawi di dunia. Baik wisatawan maupun tuan rumah dan investor terlibat di dalamnya.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version