Ketegangan di Timur Tengah Memuncak Setelah Serangan Udara ke Fasilitas Iran
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah serangkaian serangan udara menghantam fasilitas penting di Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung merespons dengan peringatan keras: aksi balasan akan dilakukan dengan prinsip “mata ganti mata”. Pernyataan ini muncul tak lama setelah serangan udara pada Jumat lalu yang disebut menargetkan sejumlah pusat industri strategis milik Iran.
Serangan tersebut dilaporkan berdampak serius pada sektor vital negara itu. Dua produsen baja terbesar Iran, yakni Mobarakeh Steel Company di Isfahan dan Khouzestan Steel Company, disebut mengalami kerusakan cukup parah akibat serangan tersebut. Selain itu, koalisi Amerika Serikat dan Israel juga dilaporkan menyasar pembangkit listrik nuklir sipil di wilayah Yazd dan Arak.
Situasi ini langsung memicu respons keras dari petinggi militer Iran. Komandan Angkatan Dirgantara IRGC, Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi, menilai serangan tersebut telah melewati batas yang tidak bisa lagi ditoleransi. Sebagai langkah balasan, IRGC kini disebut tengah membidik berbagai pabrik dan perusahaan di kawasan Timur Tengah yang memiliki keterkaitan modal maupun afiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ancaman ini menandai potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan. “Kali ini, persamaannya bukan lagi mata balas mata. Tunggu saja!” tegas Mousavi dalam pesan singkatnya, dikutip Press TV, Sabtu (28/3/2026) waktu setempat.
Langkah Evakuasi Darurat oleh IRGC
Demi menghindari jatuhnya korban jiwa dari pihak warga sipil, IRGC mengeluarkan instruksi evakuasi darurat. Seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan yang berafiliasi dengan AS dan “rezim Zionis” diminta segera meninggalkan tempat kerja. Selain itu, warga yang tinggal dalam radius satu kilometer dari lokasi industri tersebut diperintahkan untuk mengungsi hingga serangan balasan dilakukan.
Pernyataan IRGC ini merupakan respons langsung atas kerusakan di fasilitas Mobarakeh, produsen baja dan besi terbesar di Iran, di mana serangan mengenai bagian pembangkit listrik saat karyawan sedang bekerja. Sementara itu, serangan di Khouzestan dilaporkan melukai sedikitnya 16 orang.
Serangan terhadap fasilitas nuklir di Yazd dan Arak juga menjadi pemicu utama kemarahan Teheran, mengingat fasilitas tersebut merupakan infrastruktur sipil vital bagi ketahanan energi nasional.
Persiapan Operasi Balasan oleh IRGC
Sebagai bagian dari pembalasan, IRGC mengumumkan persiapan gelombang ke-63 dari Operasi True Promise 4. Sejauh ini, angkatan bersenjata Iran mengeklaim telah melancarkan 84 gelombang serangan terhadap aset-aset AS dan Israel di kawasan Timur Tengah sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran dan sejumlah komandan militer pada 28 Februari lalu.
Pihak IRGC menegaskan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur nasional Iran akan dijawab dengan penghancuran infrastruktur ekonomi pendukung musuh di seluruh wilayah regional.
Eskalasi Konflik yang Terus Berlanjut
Di tengah upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tampak ingin segera mengakhiri perang yang tidak populer ini, eskalasi justru terus meningkat. Sejumlah media Iran melaporkan bahwa aliansi AS-Israel kembali melancarkan serangan terbaru yang kini menyasar reaktor riset nuklir air berat dan pabrik pengolahan yellowcake atau uranium pekat pada Jumat malam.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengecam keras serangan tersebut melalui media sosial dan menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap tenggat diplomasi yang ditawarkan Amerika Serikat. Araqchi menegaskan bahwa serangan tersebut bertentangan dengan perpanjangan tenggat waktu diplomasi oleh POTUS atau Presiden Amerika Serikat, dan Iran akan menuntut harga yang mahal atas kejahatan Israel.
Pihak Teheran saat ini dilaporkan sedang mempertimbangkan lima belas poin proposal perdamaian yang dikirimkan Amerika Serikat melalui Pakistan dua hari lalu. Proposal tersebut dikabarkan mencakup tuntutan yang sangat berat, mulai dari pembongkaran program nuklir dan rudal Iran hingga penyerahan kendali atas rute perdagangan energi paling penting di dunia.
Namun, seorang pejabat senior Iran menyatakan kepada Reuters bahwa melakukan serangan berkelanjutan di saat Amerika Serikat sedang mengupayakan pembicaraan diplomasi adalah hal yang tidak dapat ditoleransi.
Perluasan Konflik ke Lebanon
Sementara itu, konflik ini juga telah merembet ke Lebanon, di mana serangan balasan Israel terhadap kelompok Hizbullah telah menyebabkan seperlima penduduk Lebanon terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka.
