Peran Asprisindo dalam Menekan Tarif Resiprokal ke Amerika Serikat

Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo) menunjukkan dukungan terhadap upaya pemerintah dalam menekan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap produk alas kaki. Dalam pernyataannya, Direktur Eksekutif Asprisindo Yoseph Billie Dosiwoda menyampaikan bahwa tarif resiprokal harus diupayakan lebih rendah, bahkan bisa mencapai 0 persen, dibandingkan dengan angka saat ini sebesar 19 persen.

Yoseph menginginkan agar tarif yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump terhadap produk lokal lebih rendah dibandingkan negara-negara pesaing seperti Vietnam, Kamboja, Pakistan, Bangladesh, India, dan Tiongkok. Ia juga menjelaskan alasan-alasan penting mengapa pengurangan tarif resiprokal sangat diperlukan.

Alasan Pengurangan Tarif Resiprokal

Pertama, masalah pengupahan. Yoseph memberi contoh bahwa Vietnam selama dua tahun terakhir tidak menaikkan upah pekerja. Hal ini menunjukkan bahwa biaya tenaga kerja di negara tersebut relatif stabil dan dapat menjadi acuan bagi Indonesia.

Urgensi kedua adalah tingginya biaya produksi, termasuk harga listrik dan gas, impor bahan baku, sertifikasi mesin, serta pajak pertambahan nilai (PPN). Biaya-biaya ini memengaruhi daya saing industri alas kaki Indonesia di pasar global.

Yang ketiga adalah potensi perluasan pasar di luar Amerika Serikat. Yoseph menyoroti perjanjian dagang antara Indonesia dan negara lainnya, seperti IEU-CEPA, yang memberikan bebas tarif impor tetapi belum berlaku hingga 2027. Ini menjadi peluang untuk meningkatkan ekspor ke pasar-pasar baru.

Dampak Tarif Trump pada Industri Alas Kaki

Yoseph menjelaskan kondisi industri alas kaki ketika tarif Trump sebesar 19 persen mulai berlaku pada 7 Agustus 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor alas kaki ke Amerika pada periode Agustus-September 2025 turun menjadi 23,14 persen. Dampak dari tarif ini menyebabkan penurunan pesanan, yang berujung pada ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

Penurunan jumlah pesanan, ujar Yoseph, mengancam produktivitas industri. Meskipun PHK sudah terjadi di sektor lain seperti tekstil, para pelaku industri alas kaki ingin menghindari fenomena ini. Oleh karena itu, Yoseph menekankan bahwa tarif resiprokal yang lebih rendah dibandingkan negara pesaing sangat diperlukan untuk menjaga produktivitas dan serapan tenaga kerja.

Perkembangan Kesepakatan Tarif Dagang

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Haratarto menyampaikan bahwa kesepakatan tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat ditargetkan selesai pada awal 2026. Ia berharap Presiden Prabowo dan Presiden AS Donald Trump dapat menandatangani dokumen Agreement on Reciprocal Tariff (ART) pada akhir Januari 2026.

Airlangga menyampaikan perkembangan ini setelah bertemu dengan Ambassador Jamieson Greer dari United States Trade Representative (USTR). Saat ini, pihak Amerika sedang menyiapkan waktu yang tepat untuk rencana pertemuan antara kedua pemimpin tersebut.

Anastasya Lavenia Yudi berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version