Dunia Memasuki Zaman Baru yang Keras dan Penuh Rivalitas

Di tengah suasana dingin Munich, gemerlap Davos, dan gema parade militer di Lapangan Merah Moskow, dunia tampak sedang bergerak menuju satu kesimpulan yang sama: era lama telah berakhir. Tiga pidato dari tokoh-tokoh penting seperti Presiden Rusia Vladimir Putin, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen muncul dari panggung berbeda, dengan kepentingan yang saling bertabrakan, tetapi memperlihatkan satu kegelisahan yang sama: dunia sedang memasuki zaman baru yang keras, penuh rivalitas, dan dibentuk kembali oleh politik kekuatan besar.

Perang Ukraina sebagai Simbol Perlawanan

Putin menyampaikan pidatonya dengan nada defensif sekaligus konfrontatif. Dalam perayaan Hari Kemenangan Rusia, ia tidak sekadar mengenang kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman, tetapi juga membingkai perang Ukraina sebagai kelanjutan dari perang historis Rusia melawan ancaman eksternal. “Rusia melancarkan serangan pendahuluan sebagai tanggapan atas agresi tersebut,” kata Putin, sembari menuding NATO membangun ancaman langsung di perbatasan Rusia.

Bagi Putin, perang di Ukraina bukan sekadar konflik teritorial, melainkan pertarungan eksistensial antara Rusia dan Barat. Ia menggambarkan Amerika Serikat sebagai kekuatan yang “mengklaim keistimewaannya” setelah runtuhnya Uni Soviet dan menuduh Barat berupaya menghapus nilai-nilai tradisional Rusia. Dalam konstruksi geopolitik Kremlin, konflik Ukraina menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi Barat sekaligus upaya mempertahankan identitas Rusia sebagai kekuatan besar dunia.

Kekhawatiran Strategis Eropa

Jika Putin berbicara dengan semangat perlawanan historis, Friedrich Merz berbicara dengan nada kegelisahan strategis. Dalam Konferensi Keamanan Munich, Kanselir Jerman itu mengakui secara terbuka bahwa tatanan internasional berbasis aturan yang dibangun pasca-Perang Dunia II “sudah tidak ada lagi”. Ia melihat dunia kini kembali ditentukan oleh persaingan kekuatan besar, di mana Rusia tampil agresif, China membangun pengaruh global, dan Amerika Serikat mulai mengubah orientasi kepemimpinannya.

Merz tidak menutupi kekhawatiran Eropa terhadap perubahan itu. Ia menyebut Eropa terlalu lama hidup dalam rasa aman semu di bawah payung Amerika Serikat. “Kebebasan kita bukan lagi sesuatu yang pasti. Kebebasan kita terancam,” ujarnya. Karena itu, Merz menegaskan bahwa Jerman harus memperkuat militer, membangun industri pertahanan, dan menjadikan Bundeswehr sebagai “angkatan darat konvensional terkuat di Eropa”.

Meski demikian, berbeda dari Putin yang memosisikan Barat sebagai musuh, Merz justru berusaha menjaga hubungan transatlantik dengan Washington. Ia mengakui adanya “keretakan yang dalam” antara Eropa dan Amerika Serikat, tetapi menilai NATO tetap menjadi fondasi utama keamanan Barat. Dalam kalimat yang sangat politis, Merz mengatakan, “Kita menegaskan kebebasan kita bersama tetangga kita, dan hanya bersama tetangga kita, sekutu kita, dan mitra kita.”

Perubahan yang Tidak Terhindarkan

Nada serupa muncul dalam pidato Ursula von der Leyen di Davos, tetapi dengan pendekatan ekonomi dan kelembagaan yang lebih halus. Von der Leyen tidak berbicara tentang perang secara eksplisit seperti Putin atau Merz, tetapi hampir seluruh pidatonya dibangun di atas satu premis besar: Eropa terlalu bergantung pada pihak lain dan harus segera mandiri. “Jika perubahan ini bersifat permanen, maka Eropa juga harus berubah secara permanen,” katanya.

Berbeda dari Putin yang menekankan ancaman militer dan Merz yang berbicara tentang kekuatan pertahanan, von der Leyen melihat perang ekonomi sebagai arena utama abad ke-21. Ia berbicara tentang rantai pasok, energi, kecerdasan buatan, bahan baku strategis, hingga perdagangan global sebagai instrumen geopolitik baru.

Kanselir Jerman Friedrich Merz bersama Bundeswehr yang mengalami transformasi – (tangkapan layar)

Kata Kunci yang Sama

Menariknya, baik Putin maupun para pemimpin Eropa sama-sama menggunakan kata “kedaulatan”, “keamanan”, dan “kemerdekaan” sebagai kata kunci utama. Putin memanfaatkannya untuk membenarkan perang dan perlawanan terhadap Barat. Merz menggunakannya untuk menyerukan penguatan militer Eropa. Von der Leyen untuk mempercepat integrasi ekonomi, teknologi, dan energi Eropa.

Perbedaannya terletak pada arah politiknya: Rusia melihat dunia sebagai arena konfrontasi peradaban, sementara Eropa masih berusaha mempertahankan kerja sama internasional, meski kini dengan pendekatan yang jauh lebih realistis dan keras.

Ketakutan Baru Eropa terhadap Rusia

Selama dua dekade terakhir, banyak pemimpin Eropa percaya bahwa hubungan ekonomi dapat meredam konflik geopolitik. Gas Rusia mengalir ke rumah-rumah warga Jerman, perusahaan-perusahaan Eropa menanam investasi di Moskow, sementara Kremlin diperlakukan sebagai mitra strategis yang sulit, tetapi tetap diperlukan. Kini, keyakinan itu runtuh hampir sepenuhnya.

Perang Ukraina mengubah cara Eropa memandang Rusia, bukan lagi sebagai pemasok energi utama, melainkan ancaman keamanan paling serius sejak berakhirnya Perang Dingin. Perubahan psikologis itu tampak jelas dalam pidato para pemimpin dunia yang disampaikan sepanjang tahun ini.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen tiba untuk menghadiri pertemuan komite partai Uni Demokratik Kristen (CDU) di markas besar partai di Berlin, Jerman, 10 Juni 2024. – (EPA-EFE/CLEMENS BILAN)

Tidak Menunjukkan Tanda Mereda

Merz bahkan menegaskan ambisi yang dahulu nyaris mustahil diucapkan pemimpin Jerman pasca-Perang Dunia II: menjadikan Bundeswehr sebagai “angkatan darat konvensional terkuat di Eropa”. Pernyataan itu mencerminkan perubahan besar dalam psikologi politik Jerman. Negara yang selama puluhan tahun menahan diri dari ekspansi militer kini mulai kembali berbicara dalam bahasa kekuatan.

Nada serupa muncul dalam pidato Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Berbeda dari gaya Putin yang emosional atau Merz yang strategis, von der Leyen berbicara dengan bahasa birokratik yang tenang. Tetapi di balik nada diplomatis itu, tersimpan kesimpulan yang sama kerasnya. “Rusia tidak menunjukkan tanda-tanda mereda,” katanya dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos.

Kalimat tersebut menjelaskan mengapa Uni Eropa kini mempercepat belanja pertahanan, memperkuat industri senjata, dan mulai membangun strategi keamanan yang lebih mandiri. Dalam beberapa tahun terakhir, Eropa bergerak cepat dari “kekuatan sipil” menjadi kekuatan geopolitik yang semakin sadar militer.

Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres selama pertemuan mereka di Kremlin, di Moskow, Rusia, Selasa, 26 April 2022. – (Vladimir Astapkovich, Sputnik, Kremlin Pool P)

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version