Kegiatan Sekolah Lapang dan Demoplot SRP di Boyolali
Keprihatinan terhadap dampak ekonomi yang minim dirasakan oleh petani, sebagai penyangga utama sistem pangan nasional, menjadi dasar untuk menginisiasi pelatihan sekolah lapang, demoplot Sustainable Rice Platform (SRP), serta penguatan kelembagaan di Kabupaten Boyolali. Kegiatan ini juga dilaksanakan di empat kabupaten lainnya, yaitu Sragen dan Klaten di Jawa Tengah serta Madiun dan Ngawi di Jawa Timur.
Kegiatan sekolah lapang, demoplot, dan sesi sharing yang dilakukan di empat kabupaten tersebut merupakan hasil kerjasama antarpihak. Kali ini, kegiatan kembali sukses dilaksanakan di Boyolali setelah sebelumnya sukses di Sragen pada April 2026.
Kolaborasi dalam Pelaksanaan Kegiatan
Terlaksananya kegiatan ini tidak lepas dari kolaborasi Program Beras Tangguh (Ricesilience) yang dilaksanakan oleh Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Rikolto Indonesia, dan Preferred by Nature bersama masyarakat tani Boyolali, tepatnya di Desa Manggis.
Pelatihan sekolah lapang dan sesi berbagi pengalaman antar petani diikuti secara antusias oleh 47 peserta. Tidak hanya warga Desa Manggis, kegiatan ini juga dihadiri oleh kepala desa, perwakilan pengurus Gapoktan, Poktan, dan petugas penyuluh lapang (PPL) setempat.
Pengamatan di Lahan Demoplot
Pelatihan diawali dengan pengamatan di lahan demoplot milik Joko, petani Desa Manggis. Peserta mencatat hasil pengamatan secara mendetil dan sukarela yang dipandu oleh Rustamaji, tenaga ahli dari Rikolto.
“Saat ini kegiatan sudah sampai ke pelatihan ketiga. Kami melakukan pengamatan demoplot dan sekolah lapang. Sejauh ini kondisi tanaman masih baik serta musuh alami dari hama masih terlihat seperti kumbang, katak, dan belalang. Ini sudah fase generatif, perlu perhatian khusus dan masa krusial masuk masa pembungaan,” ujar Rustamaji.
Menurutnya, keberadaan pupuk organik cair (POC) dapat membantu mengurangi resiko hama dan penyakit.
Dukungan dari Kepala Desa
Kepala Desa Manggis, Galih Hadi Saputra, menegaskan komitmen dukungannya untuk pelatihan sekolah lapang dan sesi berbagi pengalaman yang sedang dijalankan.
“Semoga dengan adanya kegiatan ini, pertanian Desa Manggis semakin maju dan hasil panen bisa bagus. Jadi bapak ibu petani bisa mendapatkan pelajaran baru yang bisa digunakan untuk pertaniannya,” harap Galih.
Pentingnya Penerapan Pupuk Organik
Dalam sesi berbagi pengalaman, Yuwono, selaku perwakilan PPL menerangkan kepada peserta terkait pentingnya penerapan pupuk organik.
“POC itu masa efektif aplikasi 7-10 hari, beda dengan kimia lebih lama. Dosis kocor dan semprot berbeda. POC bukan hanya pupuk tapi bisa juga jadi obat hama. Jajar legowo jumlah tanaman meningkat 20 persen dari sistem tegel,” jelas dia.
Risiko Logam Berat pada Lahan
Ratih Rahmawati selaku Program Manager dari Rikolto menekankan terkait risiko kandungan logam berat pada lahan.
“Logam berat terlalu tinggi maka potensi kerdil lebih tinggi. Ini terlihat di lima kabupaten yang kami dampingi. Desa Tanjungsari sempat heboh karena dikunjungi Jokowi dan digempur kimia untuk menggenjot produksi,” paparnya.
Ratih menambahkan, pupuk kompos menjadi cara yang harus dilakukan untuk memperbaiki tanah.
Seleksi Benih dan Budidaya Berkelanjutan
Seleksi benih bisa menggunakan air garam dan telur untuk memilih benih yang baik dan berkualitas dan meminimalisir penyakit tanaman.
Fasilitator lokal dari KRKP, Siskaryanta, menyebutkan kegiatan berbagi pengalaman dan pembelajaran bersama terkait pertanian berkelanjutan ini menjadi hal yang fundamental bagi sistem pangan nasional. Kegiatan ini juga dapat diterapkan di daerah-daerah lainnya.
Persiapan Kelembagaan
“Persiapan kelembagaan menjadi fondasi dasar yang penting. Dari yang sebelumnya tidak aktif harus menjadi aktif dengan peningkatan kebermanfaatan unit usaha dan budidaya yang lebih berkelanjutan. Gotong royong menjadi hal yang krusial di dalam kelompok untuk bertransisi ke arah berkelanjutan,” tandas Siskaryanta.
Keluhan Petani dan Solusi
Kegiatan ini juga menjadi wadah untuk meluapkan keluh kesah dari para produsen pangan.
Slamet, peserta pelatihan dari Desa Ketaon, menyampaikan lahannya setiap diairi cepat surut. Terlebih lagi Ph-nya pun hanya di angka 5, tanah keras, dan banyak rumput yang timbul.
“Saat ini saya coba pakai pupuk komsa. Saya juga ada pertanyaan untuk pemerintah: kenapa bibit dikelola swasta, bukan pemerintah? Banyak kritik dari petani, bibit bantuan itu kurang baik,” keluhnya.
Kesehatan Tanah dalam Budidaya Pertanian
Kesehatan tanah memang menjadi hal yang krusial dalam praktik budidaya pertanian sawah. Pemahaman petani atas tanahnya sendiri lebih penting dibanding menggunakan anjuran jumlah yang sudah ditetapkan oleh industri.
Ini ditegaskan melalui testimoni Juju, perempuan petani dari Desa Tanjungsari yang sudah mempraktikkan SRP pada lahan garapannya.
Juju menjelaskan di Tanjungsari dilakukan praktik budidaya berkelanjutan dengan jajar legowo.
“Hasilnya terdapat lebih banyak anakan, airnya juga tidak memerlukan banyak. Lebih irit pupuk namun hasil panen lebih banyak,” terang dia.
Teknologi untuk Peningkatan Kapasitas
Untuk mendukung pemahaman yang lebih mendalam dan prediksi cuaca harian yang lebih presisi, Program Beras Tangguh mengusahakan akses terhadap teknologi yang relevan agar peningkatan kapasitas kelembagaan petani semakin baik.
Narahito (KRKP), Program Officer dari Beras Tangguh, menerangkan bahwa ada potensi kerjasama teknologi berupa automatic weather station (AWS) dengan dukungan Program Donasi Berbagi Cahaya.
Ditujukan bagi kelompok tani yang berkomitmen, aktif, dan sudah melibatkan anak muda secara inklusif dalam struktur organisasi kelompok tani.
“AWS sendiri dapat memperkirakan cuaca secara presisi, harapannya bisa membantu bapak ibu untuk menentukan waktu tandur, mupuk atau nyemprot. Sehingga menjadi lebih presisi, efisien, dan mengurangi modal produksi yang dikeluarkan,” pungkas Narahito.
