Praka Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI yang Gugur dalam Misi Perdamaian di Lebanon
Praka Farizal Rhomadhon, seorang prajurit TNI dari Kodam Iskandar Muda (IM), gugur dalam menjalankan tugasnya di Lebanon pada Senin (30/3/2026). Ia merupakan bagian dari Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti (Yonif 113/JS) yang bermarkas di Bireuen, Aceh. Pada April 2025, ia ditugaskan dalam misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai bagian dari pasukan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon.
Praka Farizal meninggal dunia setelah terkena serangan artileri yang diduga berasal dari Israel Defense Forces (IDF), saat bertugas di wilayah Indobatt UNP 7-1, Desa Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan. Ia menjadi anggota Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S UNIFIL. Penugasan tersebut menjadi bentuk kehormatan sekaligus tanggung jawab besar sebagai bagian dari kontribusi Indonesia dalam menjaga stabilitas dan perdamaian global.
Profil Singkat Praka Farizal Rhomadhon
Praka Farizal lahir di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 3 Januari 1998. Ia tumbuh menjadi sosok prajurit muda yang berdedikasi. Selama masa karier militernya, ia pernah menerima tanda kehormatan berupa Satyalancana Dharma Nusa (SL Dharma Nusa) serta Satyalancana Kesetiaan VIII Tahun. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas loyalitas, disiplin, dan pengabdian tanpa cacat dalam menjalankan tugas sebagai prajurit TNI.
Dalam perjalanan karier militernya, ia terakhir menjabat sebagai Taban Provost 1 Ru Provost Kima, posisi jabatan operasional untuk menjaga disiplin dan tata tertib di lingkungan Kompi Markas satuan Yonif. Semangat pengabdian itu membawanya mendapat kepercayaan menjalankan misi internasional sebagai penjaga perdamaian dunia.
Di balik tugasnya sebagai prajurit, Praka Farizal adalah seorang suami dan ayah yang penuh kasih. Ia menikah dengan Fafa Nur Azila pada 4 Juli 2023, dan dari pernikahan tersebut dikaruniai seorang putri bernama Shanaya Almahyra Elshanu yang lahir pada 6 Mei 2024. Keluarga kecilnya selama ini tinggal di Asrama Militer Kima Yonif 113/Jaya Sakti di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Aceh.
Kepergian Praka Farizal meninggalkan luka mendalam bagi istri dan anaknya yang masih kecil berusia 1,5 tahun. Kepergiannya menjadi duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi institusi TNI dan bangsa Indonesia. Pengabdian itu harus berakhir tragis. Praka Farizal Rhomadhon meninggal dunia pada usia 28 tahun akibat serangan militer Israel di Lebanon yang mengenai kontingen Indonesia di dekat wilayah Adchit Al Qusayr.
Kronologi Serangan di Lebanon
Seorang pasukan perdamaian Republik Indonesia (RI) yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) gugur akibat serangan proyektil pada Minggu (29/3/2026) waktu setempat. Dilansir dari situs Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Minggu (29/3/2026), sebuah proyektil meledak di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan.
Sebagai informasi, insiden tersebut terjadi di tengah-tengah meningkatnya konflik bersenjata antara Israel dan Hizbullah. Kemudian, PBB menyatakan bahwa seorang pasukan perdamaian UNIFIL lainnya mengalami luka serius akibat ledakan tersebut dan kini dirawat di rumah sakit. UNIFIL tidak mengetahui asal-usul proyektil tersebut hingga menyebabkan seorang pasukan perdamaian PBB gugur dan telah meluncurkan penyelidikan untuk menentukan penyebabnya.
Tanggapan dari PBB dan Pemerintah Indonesia
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres secara tegas mengecam insiden yang menewaskan seorang anggota pasukan perdamaian Indonesia UNIFIL tersebut. Guterres menginformasikan bahwa seorang pasukan penjaga perdamaian yang mengalami luka serius dalam insiden tersebut juga berasal dari Indonesia.
“Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga, teman, dan rekan-rekan anggota pasukan penjaga perdamaian yang meninggal dunia, serta kepada Indonesia,” kata Guterres melalui akun X pribadinya, Senin (30/3/2026).
“Saya mendoakan agar anggota pasukan penjaga perdamaian yang terluka segera pulih sepenuhnya,” sambungnya. Dia menambahkan, insiden itu adalah salah satu dari sejumlah insiden baru-baru ini yang telah mengancam keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian.
Begitupun, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya seorang pasukan perdamaian dari Indonesia tersebut. Kemlu menyebutkan bahwa ada tiga personel lainnya yang ikut terluka dalam serangan artileri pada Minggu (29/3/2026). Indonesia pun mengecam keras insiden tersebut dan menyerukan dilakukannya penyelidikan yang menyeluruh dan transparan.
“Kami memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada personel yang gugur atas dedikasi dan pengabdiannya bagi perdamaian dan keamanan internasional,” bunyi keterangan Kemlu dilansir dari akun X resminya, Senin (30/3/2026).
“Doa dan simpati kami bersama keluarga yang ditinggalkan, serta mendoakan pemulihan sepenuhnya bagi personel yang terluka,” imbuhnya. Saat ini, pihaknya bekerja sama dengan UNIFIL untuk memastikan proses repatriasi jenazah dilakukan sesegera mungkin dan memberikan perawatan medis kepada mereka yang terluka.





