Penyumbang Inflasi Utama di Indonesia

Beras masih menjadi komoditas utama yang berkontribusi pada inflasi nasional, meskipun cadangan beras mencapai 5 juta ton. Pada tahun 2026, inflasi yang disebabkan oleh beras mencapai 4,36 persen secara year on year (yoy). Di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), beras juga turut serta dalam inflasi tahunan di Kota Balikpapan dan Kabupaten Berau.

Di Balikpapan, inflasi bulanan tercatat mengalami deflasi sebesar 0,05 persen pada April 2026, yang dipengaruhi oleh penurunan harga pangan pasca-Lebaran dan emas. Sementara itu, inflasi tahunan di Berau didominasi oleh kenaikan jasa perawatan pribadi sebesar 11,43 persen dan pangan.

Peran Beras dalam Inflasi Nasional

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), beras tetap menjadi salah satu penyumbang inflasi tertinggi. Deputi Bidang Distribusi BPS, Ateng Hartono, menyebutkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencapai 3,06 persen dengan andil 0,90 persen. Dari kelompok ini, beras mencatat inflasi sebesar 4,36 persen dengan andil 0,60 persen.

Ateng menambahkan bahwa beras masih menjadi penyumbang inflasi tertinggi di beberapa provinsi, seperti Papua Barat dan Aceh. Di Papua Barat, beras mencapai 7,82 persen dengan andil sebesar 0,53 persen, sedangkan di Aceh, beras menjadi penyumbang inflasi utama dengan angka 12,87 persen dan andil 0,73 persen.

Dinamika Inflasi di Balikpapan

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Balikpapan mencatat adanya deflasi bulanan sebesar 0,05 persen pada April 2026. Secara tahunan, inflasi kota Balikpapan tercatat sebesar 2,19 persen. Kepala BPS Kota Balikpapan, Marinda Dama Prianto, menjelaskan bahwa inflasi hingga April masih terkendali, dengan inflasi tahun kalender sebesar 1,10 persen.

Deflasi bulanan dipicu oleh penurunan harga komoditas seperti daging ayam ras, ikan layang, cabai rawit, emas perhiasan, dan bahan bakar rumah tangga. Menurutnya, penurunan harga ini disebabkan oleh normalisasi harga pasca-Lebaran dan penurunan harga emas global.

Selain itu, beberapa kelompok lain memberikan kontribusi terhadap dinamika inflasi. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi sebesar 0,98 persen, sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi sebesar 0,80 persen.

Inflasi Tahunan di Berau

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Berau melaporkan bahwa inflasi tahunan dipengaruhi oleh kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, jasa, dan kebutuhan rumah tangga. Kepala BPS Kabupaten Berau, Yudi Wahyudin, menyebutkan bahwa kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami kenaikan tertinggi sebesar 11,43 persen.

Selain itu, kelompok transportasi tercatat naik sebesar 1,08 persen, sementara kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan masing-masing mengalami kenaikan sebesar 0,18 persen dan 0,19 persen.

Tidak semua kelompok mengalami kenaikan. BPS mencatat adanya penurunan indeks harga pada beberapa sektor, seperti perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga yang mengalami deflasi sebesar 1,77 persen.

Penyumbang Inflasi di Berau

Inflasi tahunan di Berau didorong oleh sejumlah barang dan jasa utama. Komoditas seperti emas perhiasan, berbagai jenis ikan, sigaret kretek mesin (SKM), daging ayam ras, dan angkutan udara menjadi penyumbang utama. Selain itu, kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, bawang merah, serta makanan jadi seperti nasi dengan lauk dan bakso siap santap turut memberikan andil.

Beberapa komoditas justru menahan laju inflasi, seperti bayam, kangkung, kacang panjang, cabai merah, hingga bensin dan beberapa produk rumah tangga seperti detergen dan sabun cair.

Alasan Kenaikan Harga Beras

Direktur Operasional dan Pelayanan Perum Bulog, Andi Afdal, mengakui bahwa beras mengalami kenaikan harga di beberapa wilayah di Indonesia. Kenaikan harga ini disebabkan oleh kenaikan harga kemasan dan biaya angkut lantaran kenaikan BBM sebagai imbas dari ketegangan konflik Timur Tengah.

Andi menyatakan bahwa Bulog terus melakukan operasi pasar untuk menurunkan harga beras di pasar. Bulog mengklaim telah mengguyur beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan distribusi harian sebesar 7.000 per hari. Meski demikian, kenaikan harga masih terjadi di beberapa daerah.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version