Polemik Penilaian dalam LCC 4 Pilar Kalbar: Dampak Psikologis dan Kritik Publik
Insiden penilaian dewan juri dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Kalimantan Barat (Kalbar) memicu perdebatan luas di media sosial. Kejadian ini berawal dari protes yang dilakukan peserta SMAN 1 Pontianak terhadap keputusan juri yang dinilai tidak adil. Video yang menunjukkan protes tersebut viral dan mengundang banyak komentar dari warganet.
Peristiwa yang Menjadi Sorotan
Dalam video yang beredar, seorang peserta dari Regu C SMAN 1 Pontianak menyampaikan protes karena merasa jawaban mereka sama dengan jawaban dari regu lain, namun mendapat pengurangan nilai. Jawaban yang diberikan oleh Regu C dan Regu B memiliki substansi yang sama, tetapi hanya Regu B yang mendapatkan nilai penuh.
Kejadian ini memicu tudingan adanya ketidakadilan dalam sistem penilaian. Dewan juri, yang terdiri dari Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI Dyastasita WB dan Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI Indri Wahyuni, menjelaskan bahwa penilaian didasarkan pada artikulasi dan penyampaian jawaban yang jelas.
Dampak Psikologis terhadap Pelajar
Psikolog Klinis Istiqomah menilai situasi ini bisa memengaruhi cara pandang siswa terhadap sistem kompetisi dan figur orang dewasa. Ia mengkhawatirkan dampak negatif terhadap mental pelajar, terutama ketika mereka menjadi sorotan publik di usia yang masih rentan secara psikologis.
Istiqomah menekankan pentingnya pendampingan dari sekolah dan orang tua agar kondisi emosional pelajar tetap terjaga. Fokusnya bukan lagi pada kemenangan atau kekalahan, tetapi pada validasi perasaan siswa bahwa apa yang mereka rasakan itu sah dan mereka lebih berharga daripada sekadar skor lomba atau komentar netizen.
Tanggapan dari MPR RI
Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman meminta maaf atas kelalaian dewan juri. Ia menyatakan bahwa MPR RI akan menindaklanjuti peristiwa tersebut dan melakukan evaluasi keseluruhan kinerja dewan juri serta sistem perlombaan.
MPR RI juga menonaktifkan dewan juri dan pembawa acara atau MC dalam kegiatan tersebut. Pernyataan resmi dari MPR RI melalui akun Instagram menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut dan menegaskan bahwa kegiatan pendidikan harus menjunjung sportivitas, objektivitas, dan keadilan.
Evaluasi Mekanisme Penilaian
Sekretariat Jenderal MPR RI memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penilaian, sistem verifikasi jawaban peserta, hingga tata kelola keberatan dalam perlombaan. Tujuannya adalah untuk memastikan pelaksanaan ke depan lebih transparan dan akuntabel.
Kesimpulan
Insiden ini menjadi pengingat penting tentang pentingnya objektivitas dalam sistem penilaian. Selain itu, dampak psikologis terhadap pelajar juga menjadi perhatian utama. Dengan adanya evaluasi dan perbaikan, diharapkan kejadian serupa tidak terulang dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem kompetisi dapat dipulihkan.
