Perayaan Dharma Santi Nasional Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948/2026

Perayaan Dharma Santi Nasional dalam rangka Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948/2026 dengan tema Vasudhaiva Kutumbakam, Satu Bumi Satu Keluarga, Nusantara Harmoni Indonesia Maju digelar di Art Center Denpasar, Bali, pada Jumat, 17 April 2026. Acara ini menjadi momen penting untuk memperkuat persaudaraan antar umat beragama serta menjaga harmoni dalam kehidupan sehari-hari.

Acara dimulai dengan penyampaian Dharma Wacana oleh Ida Pedanda Gede Made Putra Kekeran. Selanjutnya dilanjutkan dengan pembacaan Sloka oleh Juara 1 Pasangan Pembaca Sloka Dewasa Putri dari Kegiatan Utasawa Dharma Gita Tingkat Provinsi Bali Tahun 2025. Acara ini dihadiri oleh ribuan peserta yang antusias, dengan jumlah kurang lebih 5.500 orang hadir secara langsung.

Ketua Umum Panitia Dharma Santhi Nasional Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 Tahun 2026 Masehi, MARSDA TNI (Purn.) Dr. (Cand.) I Made Susila menyampaikan bahwa tema Dharma Santi tahun ini mengingatkan semangat universal dan memperkuat persaudaraan antar umat manusia. Ia juga menekankan pentingnya menjaga harmoni antar umat beragama serta merawat bumi sebagai rumah bersama.

Tujuan utama dari acara ini adalah mempererat tali persaudaraan antar umat, saling memaafkan, serta meningkatkan kerukunan umat beragama di seluruh Indonesia. Dharma Santi juga menjadi momentum untuk refleksi diri dan introspeksi mendalam, serta implementasi ajaran agama Hindu dalam kehidupan sehari-hari.

Made Susila menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat Hindu di Indonesia, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah atas dukungan yang diberikan. Ia berharap perayaan ini dapat menjadi contoh dalam menjaga nilai-nilai luhur dan harmoni dalam masyarakat.

Pesan dari Wakil Menteri Kebudayaan

Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha menyampaikan bahwa Nyepi bukan sekadar perayaan di tengah dunia yang riuh dan serba cepat. Ia menekankan bahwa Nyepi mengajarkan kita untuk menepi dan kembali ke dalam diri sendiri. Dalam keheningan, manusia diajak bertanya tentang siapa diri kita, kemana kita menuju, serta bagaimana kita memperlakukan sesama dan hubungan kita dengan alam semesta.

Giring mengungkapkan bahwa setiap pagi ia tidak pernah lepas dari meditasi dan mendalami Bhagavad Gita. Ia menemukan ajaran-ajaran yang sangat relevan dengan makna Nyepi. Dalam konteks Indonesia saat ini, semangat Nyepi dapat dilihat dalam berbagai kebijakan dan program pembangunan nasional yang diarahkan untuk kepentingan masyarakat luas.

Ia menyebutkan inisiatif seperti MBG, sekolah rakyat, sekolah Garuda, serta gerakan asri (aman, sehat, resik, dan indah) menunjukkan pentingnya membangun kehidupan yang tertib, sehat, dan selaras dengan lingkungan. Semangat ini sejalan dengan makna Nyepi yang menekankan pengendalian diri, kesederhanaan, dan keharmonisan dengan alam.

Giring juga menyampaikan terima kasih kepada nenek moyang dan para leluhur Bali yang telah mewariskan nilai-nilai leluhur seperti Tri Hita Karana. Ia menilai masyarakat Bali telah memberikan contoh nyata dalam menjaga lingkungan, jauh sebelum banyak negara lain mulai mendorong kesadaran lingkungan melalui gerakan seperti Earth Hour.

Pernyataan dari Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan

Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan, Prof. Pratikno menjelaskan bahwa memegang teguh nilai-nilai luhur tidak mudah karena selalu dihadapi dengan berbagai macam kebisingan dan informasi yang terus-menerus. Ia menyampaikan bahwa banyak hal yang kita terima, tetapi jarang yang sempat kita cerna. Tanpa sadar, kita sering larut dalam hiruk pikuk dunia tanpa kesempatan untuk hening.

Melalui Nyepi, kita diajak untuk memulihkan kejernihan, menata perhatian, dan tidak larut dalam kebisingan dunia. Ia menekankan bahwa berhenti sejenak adalah hal yang sulit di zaman sekarang. Berhenti untuk hening, melihat ke dalam, dan menata kembali hubungan kita dengan diri sendiri, sesama manusia, alam, dan Tuhan.

Sambutan Presiden RI Prabowo Subianto

Presiden RI, Prabowo Subianto turut memberikan sambutan secara virtual. Ia menyampaikan selamat merayakan Dharma Santi 2026 kepada seluruh umat Hindu di Tanah Air. Ia juga meminta maaf karena tidak dapat hadir secara langsung dalam acara tersebut.

Prabowo menekankan bahwa Dharma Santi adalah momentum untuk saling memaafkan, memperkuat persaudaraan, dan meneguhkan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan kita. Setelah Nyepi, kita melangkah bersama dalam semangat harmoni, kedamaian, dan persatuan dengan nilai Tat Twam Asi, yaitu hidup saling menghormati dan hidup seimbang.

Ia percaya bahwa Umat Hindu Indonesia akan terus menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni sosial, persatuan nasional, dan membangun Indonesia yang adil, makmur, serta berdiri tegak di atas kaki sendiri. Bagi umat Hindu, ia mengajak untuk senantiasa meneguhkan dan memegang kuat Tri Hita Karana.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version