Sejarah dan Proses Pembuatan Mata Maling, Camilan Legendaris Solo
Mata Maling adalah salah satu camilan legendaris yang berasal dari Kota Solo, Jawa Tengah. Nama yang unik ini mungkin terdengar agak “nakal”, namun di baliknya tersimpan rasa dan tradisi yang begitu kaya. Konon, mata maling diberi nama demikian karena bentuknya yang mirip dengan mata merah seorang yang tak tidur semalaman seperti pencuri atau maling.
Apa Itu Mata Maling?
Mata Maling, atau dalam bahasa Jawa disebut “mata pencuri”, adalah camilan khas Solo yang terbuat dari kulit melinjo merah. Sekilas, camilan ini mirip dengan emping karena sama-sama berbahan dasar melinjo dan memiliki tekstur renyah. Namun, ada perbedaan mencolok antara keduanya: mata maling tidak memiliki rasa pahit seperti emping. Justru sebaliknya, camilan ini hadir dengan sensasi rasa pedas, manis, dan gurih yang menggugah selera.
Proses Pembuatan yang Tak Sederhana
Keistimewaan mata maling terletak pada proses pembuatannya yang memerlukan ketelatenan. Proses dimulai dari memisahkan kulit melinjo dari bijinya, kemudian dijemur hingga kering. Uniknya, penggorengan dilakukan dua kali. Setelah digoreng pertama kali dan ditiriskan selama sehari penuh untuk menghilangkan minyak, kulit melinjo kembali digoreng dengan campuran bumbu khas, seperti bawang putih, cabai, dan garam. Proses inilah yang membuat cita rasa mata maling begitu khas dan nikmat.
Tempat Beli Mata Maling di Solo
Jika kamu berkunjung ke Kota Solo, kamu bisa menemukan mata maling di berbagai lapak jajanan tradisional, terutama di sekitar gerbang utama Pasar Gede bagian timur. Alamat Pasar Gede Solo ada di Jalan Jend. Urip Sumoharjo, Sudiroprajan, Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Tak jauh dari jalan utama Solo, Jalan Slamet Riyadi juga menjadi lokasi yang populer.
Dengan harga yang cukup terjangkau, sekitar Rp10.000 per bungkus, kamu bisa menikmati camilan legendaris ini. Selain varian rasa pedas manis, tersedia juga rasa original bagi kamu yang menyukai cita rasa klasik. Tak hanya di Pasar Gede Solo, mata maling ini juga bisa kamu temukan di Pusat Oleh-Oleh Makutho Solo. Makutho Solo terkenal sebagai tempat yang menyediakan makanan ringan kering atau camilan khas Solo. Di sini ada berbagai camilan seperti karak, krupuk, abon, serundeng, intip, dan lain-lain. Lokasinya ada di Jl. Dr. Rajiman No.569, Sondakan, Laweyan, Solo, Jawa Tengah.
Sejarah Mata Maling
Sampai kini tak ada informasi soal kapan mata maling ini populer pertama kali di Solo. Meski demikian, mata maling dipercaya adalah salah satu kuliner tempo dulu. Makanan ini merupakan buah kreativitas warga Solo mengolah hasil tanaman melinjo yang melimpah selain dijadikan emping. Ya, tanaman multifungsi ini tumbuh subur di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Vietnam, Thailand, hingga Fiji dan Papua Nugini.
Buahnya berbentuk lonjong dan berukuran 1–3,5 cm, dengan daun berwarna hijau tua. Dalam budaya kuliner Indonesia, melinjo sangat populer sebagai bahan dasar emping dan sayur asem. Namun, kulitnya yang biasanya terbuang justru dimanfaatkan dengan cerdik oleh masyarakat Solo menjadi camilan bernama mata maling, sebuah inovasi yang menunjukkan bagaimana warisan kuliner lokal dapat berkembang dari hal-hal sederhana.
Melinjo juga dikenal dalam pengobatan tradisional. Daunnya dipercaya memiliki khasiat untuk mengobati anemia, meningkatkan stamina, bahkan mengatasi gigitan hewan. Di beberapa daerah, melinjo bahkan dianggap sebagai tanaman dengan nilai kesehatan tinggi, dan pernah menjadi simbol kemakmuran di Kerajaan Yogyakarta.
Sayangnya, di tengah gempuran jajanan modern, mata maling mulai jarang dikenal oleh generasi muda. Padahal, camilan ini bukan hanya sekadar makanan ringan, melainkan bagian dari identitas kuliner dan sejarah panjang Kota Solo. Pelestarian makanan tradisional seperti mata maling tak hanya soal menjaga resep, tetapi juga tentang merawat memori kolektif dan nilai-nilai kearifan lokal. Maka, saat kamu berkunjung ke Solo, jangan ketinggalan untuk mencicipi mata maling ini ya!
