Prospek Kinerja ITMG di Tengah Perubahan Regulasi dan Dinamika Pasar

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatat penurunan laba bersih pada kuartal I tahun 2026. Namun, prospek kinerja perusahaan terlihat lebih optimis mengingat relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batubara yang diharapkan menjadi katalis pendorong kinerja ke depan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai bahwa prospek kinerja ITMG pada kuartal III tahun 2026 berpotensi solid. Hal ini didukung oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Relaksasi RKAB yang mulai berlaku sejak Juli 2026, yang membuka ruang untuk peningkatan volume produksi.
  • Harga batubara ekspor yang masih kondusif di kisaran US$ 120 – US$ 130 per ton.
  • Keunggulan cash cost terendah di industri yang menjaga margin tetap kompetitif.

Selain itu, wacana kenaikan harga DMO dari US$ 70 per ton yang stagnan sejak tahun 2018 juga menjadi katalis langsung. Selain itu, ketegangan geopolitik yang menjaga permintaan batubara termal Asia tetap solid juga turut memengaruhi proyeksi kinerja ITMG.

Namun, Abida juga menyebutkan tiga tantangan utama yang dihadapi ITMG, yaitu:

  • Normalisasi harga batubara global seiring permintaan China yang masih volatile.
  • Kewajiban DMO 25% – 30% pada harga US$70/ton yang membatasi realisasi harga jual rata-rata (ASP) gabungan.
  • Pelemahan rupiah yang menaikkan biaya operasional meski sebagian dikompensasi pendapatan ekspor berdenominasi dolar.

Peran Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI)

Axell Ebenhaezer, Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, menyoroti pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), yang akan bertindak sebagai perantara dalam mengekspor komoditas utama, termasuk batubara. Meskipun pemerintah bersikeras bahwa DSI hanya akan mengelola dan mengawasi proses ekspor untuk memperketat tata kelola, masih ada kekhawatiran bahwa model ekspor “satu pintu” ini menimbulkan risiko serius seperti monopoli perdagangan, inefisiensi operasional, dan potensi korupsi.

“Kebijakan ini berpotensi mengurangi daya saing batubara Indonesia di pasar internasional dan menekan margin keuntungan pelaku sektor swasta,” ujar Axell dalam risetnya pada 22 Juni 2026.

Implementasi Regulasi Ekspor Batubara

Ryan Santoso, Analis Ciptadana Sekuritas Asia, menjelaskan bahwa dua fase regulasi ekspor tersebut membawa risiko yang sangat berbeda. Pada fase transisi (1 Juni – 31 Agustus 2026), transaksi masih akan dilakukan langsung dengan pembeli luar negeri; hanya dokumentasinya yang disalurkan melalui DSI, yang bertindak sebagai penilai dan perantara. Fase ini sebagian besar bersifat administratif dan tidak mempengaruhi keuangan perusahaan.

Namun, pada fase kedua (1 September 2026 dan seterusnya), DSI diharapkan mengambil alih seluruh kontrak transaksi, menjadi pihak lawan langsung yang membeli dari produsen domestik dan menjual ke luar negeri.

“Kami melihat pemberlakuan harga batubara acuan (HBA) akan menaikkan harga jual rata-rata (ASP) ITMG, tetapi DSI kemungkinan akan mendapatkan margin. Kedua, pengalihan pembayaran melalui BUMN baru dapat mengubah waktu penyelesaian,” jelas Ryan dalam risetnya pada 25 Mei 2026.

Dinamika Pasar dan Kinerja ITMG

Meskipun pasar batubara yang diangkut melalui laut telah menguat setelah konflik AS-Iran, yang mengganggu pasokan LNG dan meningkatkan permintaan substitusi batubara, fokus pasar secara bertahap bergeser melampaui perkiraan pendapatan dan momentum harga batubara. Investor kini lebih memperhatikan detail implementasi gerbang ekspor baru tersebut.

Axell menilai bahwa harga jual rata-rata (ASP) ITMG pada kuartal pertama tahun 2026 meningkat 6% secara kuartalan menjadi US$ 79,4 per ton karena volatilitas minyak pada semester pertama tahun 2026 mendorong permintaan batubara. ASP tetap kuat untuk kuartal kedua dan mungkin hingga kuartal ketiga meskipun terjadi penurunan ketegangan baru-baru ini di Timur Tengah.

Sebelumnya, NH Korindo Sekuritas telah memodelkan produksi batubara hasil tambang sendiri milik ITMG yang menghadapi kontraksi signifikan akibat pengetatan produksi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) batubara. Namun, apa yang ditunjukkan pada kuartal pertama tahun 2026 adalah bahwa infrastruktur perdagangan dan pencampuran ITMG — yang dibangun selama bertahun-tahun melalui pembelian batubara pihak ketiga — dapat secara kredibel mengisi sebagian besar kekurangan produksi.

Rekomendasi Analis dan Proyeksi Kinerja

Axell memproyeksikan pendapatan dan laba bersih ITMG tahun 2026 masing-masing sebesar Rp 33,3 triliun dan Rp 3,54 triliun. Adapun pada tahun 2025, ITMG mengantongi pendapatan Rp 31 triliun dan laba bersih Rp 3,14 triliun.

Axell merekomendasikan overweight saham ITMG dengan target harga Rp 25.250 per saham. Sementara Ryan dan Abida merekomendasikan buy saham ITMG dengan target harga masing-masing Rp 34.200 per saham dan Rp 27.300 per saham.

Risiko yang Perlu Diperhatikan

Adapun risiko yang perlu dicermati adalah risiko ketidakpastian alokasi RKAB, penurunan harga batubara akibat de-eskalasi Timur Tengah, dan implementasi ekspor melalui DSI.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version