Komentar Rocky Gerung dan Anies Baswedan Terkait Teror yang Menimpa Ketua BEM UGM
Pengamat politik sekaligus mantan dosen Universitas Indonesia (UI), Rocky Gerung, memberikan pernyataannya mengenai teror yang dialami Tiyo Ardianto, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia menegaskan bahwa Tiyo tidak perlu takut dengan ancaman yang diterimanya. Teror ini muncul setelah Tiyo menyampaikan kritik tajam terhadap pemerintah terkait kasus anak bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Beberapa pihak juga memberikan tanggapan atas kejadian ini, termasuk mantan Gubernur DKI Jakarta sekaligus mantan Ketua Senat Mahasiswa UGM, Anies Baswedan. Saat menghadiri Diskusi Intelektual Muslim di Masjid Ulil Albab UII Yogyakarta, Jumat (20/2/2026), ia menekankan pentingnya melindungi kebebasan berpendapat. Oleh karena itu, ia meminta Tiyo untuk melapor ke polisi agar pelaku teror dapat dicari.
Rocky Gerung memberikan analisisnya mengenai teror yang dialami Tiyo Ardianto. Tiyo mengaku diteror setelah menyuarakan isu anak bunuh diri di NTT. Bentuk-bentuk teror yang diterimanya antara lain penguntitan, penyebaran isu tidak benar, hingga ancaman pembunuhan. Rocky Gerung yakin bahwa aksi teror ini tidak berasal dari lingkaran pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Jika dia (Tiyo) diancam, saya tidak percaya yang mengancam adalah presiden. Itu tidak mungkin,” katanya dalam wawancara yang dikutip dari kanal YouTube Rocky GerungOfficial, Sabtu (21/2/2026). Ia menuding bahwa pelaku teror berasal dari kelompok the fifth column atau koloni kelima. Kelompok ini memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan sendiri.
“Mereka ingin mengambil keuntungan dengan menyebar teror pada si ketua BEM ini. Saya kira ketua BEM tidak perlu takut bahwa yang dia alami itu biasa dan semua orang mengambil risiko dalam upaya menegakkan demokrasi,” ujar Rocky Gerung.
Kritik Akademik dan Peran Tiyo Ardianto
Rocky Gerung juga menilai bahwa pernyataan Tiyo semata-mata berdasarkan data dan bukan dari kebencian personal terhadap Presiden Prabowo. Ketua BEM UGM tersebut ingin menyampaikan pendapatnya dari sudut pandang seorang mahasiswa, tanpa niat makar. Tiyo hanya menggunakan haknya dalam berdemokrasi, yakni menyampaikan pendapat.
“Sekali lagi, ini adalah pendapat akademis dengan menguji data dan memperhatikan opini publik. Teman ini (Tiyo) proporsional dalam menyampaikan hal tersebut dalam kapasitasnya sebagai manusia akademis.”
Rocky Gerung menegaskan bahwa pikiran mahasiswa tidak ada hubungannya dengan makar atau kebencian personal. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah tidak perlu ‘kepanasan’ menghadapi kritik dari Ketua BEM UGM.
Isu ini menjadi polemik karena ada pihak lain yang membuat suasana semakin keruh. “Pemerintah jangan terlalu tegang menghadapi ini. Saya kira yang membuat pemerintah tegang justru karena ada pihak lain yang ingin mengompori supaya ketua BEM ini ditangkap atau dianiaya sehingga terjadi krisis politik,” tambahnya.
Tiyo dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV menegaskan bahwa kritiknya bukan karena benci terhadap Pemerintahan Prabowo. “Sebenarnya tidak ada yang membenci Bapak. Kita hanya membenci imajinasi terhadap Indonesia yang harus hancur karena apa yang Bapak lakukan atau mungkin Bapak tidak sadar sedang melakukan sesuatu.”
“Bapak saya kira harus rendah hati untuk belajar. Bapak harus rendah hati untuk sadar. Kerendahan hati itu penting agar telinganya menjadi terbuka,” katanya.
Respons Istana dan Pemilihan Kata dalam Berpendapat
Istana Kepresidenan merespons kabar adanya tindakan teror yang dialami Tiyo Ardianto setelah melontarkan kritik keras terhadap kasus anak bunuh diri di NTT. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan bahwa meskipun kritik adalah hal yang konstitusional, penyampaiannya harus tetap mengedepankan etika dan adab.
“Menyampaikan kritik atau masukan itu selalu kami sampaikan bahwa itu sah-sah saja. Nah, tetapi tentu kita mengimbau kepada semuanya untuk menyampaikan segala sesuatu itu dengan penuh tanggung jawab juga, serta mengedepankan etika, adab, dan adat-adat ketimuran,” ujar Prasetyo Hadi di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (18/2/2026).
Sebagai sesama alumni UGM yang pernah aktif di BEM, Prasetyo mengingatkan pentingnya pemilihan diksi dalam berpendapat. Ia meminta para aktivis mahasiswa untuk menghindari kata-kata yang dianggap tidak sopan. “Penyampaian pendapatnya enggak ada masalah, tapi caranya itu juga perlu menjadi pelajaran bagi kita semua. Misalnya, hindarilah menggunakan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik. Ini berlaku untuk siapa pun, tidak hanya untuk adik saya yang dari BEM UGM,” lanjutnya.
Mengenai ancaman teror, intimidasi pesan singkat, hingga penguntitan yang dialami Ketua BEM UGM dan keluarganya, Prasetyo mengaku belum mengetahui secara pasti siapa pelakunya. Namun, ia memastikan bahwa konstitusi tetap menjamin kebebasan berpendapat.
“Kalau teror kita enggak tahulah siapa yang meneror ya. Tapi kalau berkenaan dengan apa yang disampaikan konstitusi, kan menjamin kebebasan berpendapatnya. Maka sekali lagi yang bisa kita sarankan ya sampaikanlah dengan arif caranya, jalurnya yang bijak dan pemilihan diksi mungkin juga itu penting,” ujarnya.
Prasetyo menekankan bahwa pemilihan kata yang tepat sangat penting agar masukan yang diberikan mahasiswa bisa menjadi bahan pembelajaran yang konstruktif bagi pemerintah. Terkait desakan agar negara memberikan atensi khusus terhadap keselamatan para aktivis yang diteror, Mensesneg menjanjikan akan melakukan pengecekan lebih lanjut.
“Ya nanti kita cek lah,” ucapnya.





