Pergerakan Saham Perbankan pada Penutupan Perdagangan
Pada penutupan perdagangan hari Selasa (10/2/2026), saham emiten perbankan mengalami pergerakan yang berbeda-beda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat sebesar 99,87 poin atau 1,24 persen, mencapai posisi 8.131,74.
Saham PT Bank Tabungan Negara (persero) Tbk (BBTN) menunjukkan kenaikan sebesar 3,19% dengan harga penutupan di level Rp 1.295. Selama perdagangan, saham ini sempat menyentuh angka tertinggi sebesar Rp 1.310 dan terendah di Rp 1.265.
Selanjutnya, saham PT Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) ditutup dengan kenaikan sebesar 2% ke level Rp 5.100. Selama perdagangan, harga saham BMRI pernah menyentuh angka terendah sebesar Rp 4.990.
Sementara itu, saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) naik sebesar 1,66% ke harga tertinggi Rp 2.450. Meskipun demikian, selama perdagangan BRIS pernah menyentuh harga terendah sebesar Rp 2.390.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga mengalami kenaikan sebesar 0,27% ke harga Rp 3.780. Selama periode perdagangan, BBRI mencatatkan harga tertinggi sebesar Rp 3.790 dan harga terendah Rp 3.730.
Sedangkan saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sempat menyentuh angka tertinggi di harga Rp 4.540 dan terendah mencapai Rp 4.480 sebelum akhirnya tutup dengan koreksi sebesar 0,22% ke harga Rp 4.510.
Analisis dari Pakar Investasi
Menurut Founder Republik Investor, Hendra Wardana, penguatan IHSG hari ini menjadi sinyal penting bahwa pasar domestik mulai kembali menemukan ritme positif. “Kenaikan ini tidak bersifat semu karena didukung oleh penguatan yang merata di seluruh sektor,” ujarnya.
Meski begitu, kenaikan IHSG hari ini dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kembalinya kepercayaan investor asing. Hal ini terlihat dari data net sell investor asing yang mencatatkan angka sekitar Rp 917 miliar. Reli indeks lebih banyak digerakkan oleh investor domestik dan rotasi portofolio jangka pendek.
Hendra memprediksi bahwa IHSG masih memiliki peluang untuk menguat pada perdagangan berikutnya. Menurutnya, indeks berpeluang menguji psikologis Rp 8.200 sebagai target terdekatnya. Jika kemudian indeks bisa mencapai angka tersebut, ia memproyeksikan kalau IHSG bisa berpeluang pada penguatan lanjutan menuju resistance klasik di level Rp 8.306.
Pandangan dari Analyst Investasi
Dari segmen perbankan, Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan mencermati bahwa penundaan FTSE Russell terhadap bursa Indonesia membuat sektor perbankan cenderung fluktuatif. “Penundaan ini biasanya membuat investor, terutama asing lebih wait and see,” ujarnya.
Dalam jangka pendek, saham berpotensi terkena tekanan jual karena rotasi dan sentimen pasar. Namun, penurunannya diprediksi tidak akan terlalu dalam karena emiten bank cenderung menarik dan memiliki fundamental yang relatif solid.
Di sisi lain, menurut Ekky, sentimen yang paling memengaruhi kinerja saham emiten perbankan adalah arus dana asing. Apalagi dengan porsi kepemilikan asing di big banks yang cukup besar membuatnya mudah terdampak apabila investor asing melakukan de-risking.
Selain itu, ada faktor suku bunga, pertumbuhan kredit kualitas aset (NPL), biaya kredit, hingga potensi dividen yang biasa diperhatikan pasar. Termasuk juga dengan isu indeks global, penilaian lembaga pemerintah, dan persepsi risiko Indonesia yang membuat investor lebih selektif.
Rekomendasi Saham Perbankan
Adapun Ekky kemudian mencermati sejumlah rekomendasi saham emiten perbankan, yaitu BMRI dan BBRI sebagai pilihan utama big bank. Lalu saham lain yang menarik dicermati adalah BBTN dan BRIS.
Target harga menurut Ekky adalah BBRI sebesar Rp 4.450, BMRI sebesar Rp 5.500, BRIS sebesar Rp 2.750, dan BBTN sebesar Rp 1.450-Rp 1.500.
Begitu juga dengan Hendra yang menyarankan para investor untuk tetap mengedepankan strategi kehati-hatian yang terukur dan buy on weakness dianggap masih relevan selama IHSG bertahan di atas Rp 8.000.
