Inovasi Uma Kantal: Mengubah Sisa Makanan Jadi Sumber Daya Berharga di SDN 2 Hikun
Di SDN 2 Hikun, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, dulu kondisi yang sering terjadi adalah sisa nasi, sayuran, dan potongan lauk hanya berakhir di tempat sampah. Bahan-bahan tersebut membusuk dan menimbulkan bau yang mengganggu konsentrasi belajar siswa. Hal ini menjadi motivasi bagi tiga guru untuk menciptakan inovasi bernama Uma Kantal.
Uma Kantal merupakan singkatan dari Pemanfaatan Sisa Makanan Untuk Pakan Tambahan Lele dan Akuaponik. Program ini diluncurkan sejak Januari 2025 dengan tujuan mengubah pengelolaan limbah makanan di sekolah. Sebanyak 40 persen sisa makanan dari program sarapan pagi bersama yang dulunya dibuang, kini dimanfaatkan secara efektif.
Inovasi ini melibatkan sistem aquaponik yang menghubungkan kolam lele dengan tanaman sayur. Air kolam yang mengandung kotoran ikan tidak lagi dibuang, tetapi dialirkan sebagai pupuk alami untuk tanaman seperti kangkung atau selada. Hasilnya, sekolah tidak hanya bersih dari bau sampah, tetapi juga memiliki kebun mini yang menghasilkan ikan dan sayuran segar.
Tiga ibu guru yang mengabdi di SDN 2 Hikun, yaitu Idriyanti, Elyana Sasmita, dan Hatmiati, menggagas inovasi ini. Idriyanti, guru kelas 6A dengan latar belakang S1 Pendidikan Biologi, menjelaskan bahwa program pembiasaan sarapan bersama bertujuan mempererat hubungan sosial antara siswa. Namun, dalam perjalanannya, program ini menimbulkan masalah sampah yang seringkali terabaikan.
Menurut Idriyanti, masalah bau tidak sedap justru menjadi peluang karena menunjukkan adanya bahan organik kaya nutrisi yang membusuk sia-sia. Daripada menjadi polusi udara, sisa makanan ini bisa dikelola menjadi pakan gratis berkualitas bagi ikan dan mendukung nutrisi tanaman pada media akuaponik.
Sejak Januari 2025, inovasi ini mulai dijalankan dengan mengalihkan sekitar 40 persen sisa makanan yang sebelumnya dibuang menjadi pakan berkualitas. Keberadaan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pada Oktober 2025 semakin memperkuat kebermanfaatan dari inovasi yang mereka buat.
Sisa makanan dari program pemerintah tersebut kini dikelola secara hulu ke hilir agar tidak ada yang terbuang percuma. Siswa diajarkan untuk mengumpulkan sisa sarapan, kemudian dicuci dan ditiriskan sebelum dijemur hingga benar-benar kering. Sebanyak 40 persen dari sisa makanan yang telah kering ini digunakan sebagai pakan tambahan lele dengan teknik bibis, yaitu mencampurkan cairan probiotik khusus ikan.
Uniknya, budidaya ikan lele dilakukan di dalam galon air mineral yang dimodifikasi. Pada bagian atas galon diletakkan wadah bekas nasi sebagai tempat tumbuh sayuran kangkung. Pemeliharaan sistem ini diatur sedemikian rupa, mulai dari penempatan galon di area yang terkena cahaya matahari untuk menghindari lumut, hingga penggantian 40 persen air endapan setiap tujuh hari sekali guna menghindari stres pada ikan.
Meskipun memanfaatkan sisa makanan, inovasi ini tetap memastikan pemenuhan protein bagi ikan lele melalui pemberian pakan konsentrat setiap sore.
Hasil dari penerapan Uma Kantal memberikan dampak perubahan yang sangat nyata bagi lingkungan SDN 2 Hikun. Bau busuk yang dulunya mengganggu kenyamanan belajar kini hilang total karena sisa makanan tidak lagi menumpuk di tempat sampah. Lingkungan sekolah juga menjadi lebih bersih, asri, dan bebas dari limbah organik.
Selain itu, inovasi ini memberikan pembelajaran mendalam kepada siswa mengenai ekonomi kreatif dan cara menjaga alam dengan langkah sederhana. Inovasi ini membuktikan bahwa dengan pengelolaan yang tepat, sisa makanan dapat disulap menjadi sumber daya yang berguna sekaligus membentuk kesadaran lingkungan sejak dini.
