Pengembangan Sistem Anti-Drone Berbasis Kecerdasan Buatan
Lockheed Martin, sebuah perusahaan pertahanan Amerika Serikat, telah mengumumkan pengembangan sistem anti-drone generasi terbaru yang didasarkan pada kecerdasan buatan (AI). Sistem ini dirancang untuk memburu dan menghancurkan kawanan drone musuh secara otomatis. CEO Lockheed Martin, Jim Taiclet, menjelaskan bahwa sistem bernama Sanctum mampu mendeteksi drone yang datang, menganalisis tingkat ancamannya, hingga memprediksi arah pergerakannya sebelum dicegat atau dilumpuhkan.
“Kami memasukkan berbagai teknologi ke dalam sistem kami,” kata Taiclet kepada FOX Business beberapa waktu lalu. Menurutnya, teknologi tersebut dirancang untuk menghadapi ancaman peperangan modern yang semakin didominasi oleh penggunaan drone murah dan serangan kawanan pesawat tanpa awak.
Sistem AI Sanctum memungkinkan pertahanan udara bekerja lebih cepat dan efisien dalam menghadapi banyak target sekaligus. “Teknologi ini pada dasarnya mampu menghancurkan rudal balistik yang mengancam rakyat, pangkalan militer, maupun sekutu kami,” ujarnya.
Selain Sanctum, Lockheed Martin juga mengembangkan sistem bernama MORFIUS, yakni drone pencegat yang mampu mendekati drone musuh berukuran kecil dan melumpuhkannya menggunakan pulsa gelombang mikro berdaya tinggi. Teknologi tersebut memungkinkan satu sistem menyerang banyak drone dalam satu operasi tanpa harus menembakkan rudal konvensional.
“Drone yang kami buat dengan bantuan AI ini memungkinkan kami menyerang hingga 50 drone berbeda dalam satu misi tanpa menembakkan senjata apa pun,” kata Taiclet.
Lockheed Martin juga menggandeng Nvidia untuk mendukung pengembangan teknologi AI tersebut. Nvidia memasok unit pemrosesan grafis (GPU) yang digunakan untuk mendukung sistem keamanan nasional berbasis kecerdasan buatan.
Ancaman Serangan Kawanan Drone
Militer Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir semakin khawatir terhadap ancaman serangan kawanan drone atau swarm drone yang dinilai mampu mengubah wajah peperangan modern. Kekhawatiran ini muncul karena drone berbiaya murah kini dapat digunakan dalam jumlah besar untuk menyerang pangkalan militer, kapal perang, bandara, hingga infrastruktur strategis dengan efektivitas tinggi.
Berbeda dengan ancaman tradisional seperti jet tempur atau rudal balistik yang jumlahnya terbatas dan mudah dilacak radar, serangan swarm drone bekerja dengan konsep membanjiri sistem pertahanan menggunakan puluhan bahkan ratusan drone kecil secara bersamaan. Strategi ini dapat membuat sistem pertahanan udara kewalahan karena harus menghadapi terlalu banyak target dalam waktu singkat.
Ancaman tersebut semakin nyata setelah berbagai konflik modern menunjukkan efektivitas drone murah di medan perang. Dalam perang Ukraina, misalnya, drone digunakan untuk menyerang tank, gudang amunisi, kapal perang, hingga fasilitas energi dengan biaya jauh lebih murah dibanding sistem persenjataan konvensional.
Era Senjata Gelombang Mikro
Perkembangan teknologi perang modern kini tidak lagi hanya bergantung pada rudal dan peluru konvensional. Militer Amerika Serikat mulai memasuki era baru persenjataan berbasis energi, termasuk teknologi gelombang mikro berdaya tinggi atau high-power microwave weapon yang dirancang untuk melumpuhkan drone tanpa harus menghancurkannya dengan rudal.
Salah satu sistem yang menjadi perhatian adalah MORFIUS, teknologi anti-drone yang dikembangkan Lockheed Martin. Berbeda dengan sistem pertahanan udara tradisional, MORFIUS tidak mengandalkan ledakan atau proyektil untuk menjatuhkan target. Sistem ini bekerja dengan mendekati kawanan drone musuh lalu memancarkan pulsa gelombang mikro berenergi tinggi yang mampu merusak sistem elektronik drone secara instan.
Setelah satu target dilumpuhkan, sistem dapat langsung berpindah ke target berikutnya tanpa perlu mengisi ulang amunisi seperti rudal konvensional. Teknologi tersebut dinilai sangat penting menghadapi ancaman swarm drone atau serangan drone massal yang kini menjadi tantangan baru dalam peperangan modern.
Perlombaan Global Teknologi Anti-Drone
Perkembangan drone tempur dalam berbagai konflik modern mendorong negara-negara besar dunia memasuki perlombaan baru: pengembangan teknologi anti-drone. Tidak hanya Amerika Serikat, negara seperti China, Rusia, Turki, hingga aliansi NATO kini berlomba menciptakan sistem pertahanan yang mampu menghadapi ancaman drone dan serangan swarm drone dalam skala besar.
China menjadi salah satu negara yang agresif mengembangkan teknologi anti-drone. Beijing memperkenalkan berbagai sistem laser, perang elektronik, dan senjata gelombang mikro untuk melindungi pangkalan militer maupun fasilitas strategis. China juga mengembangkan sistem berbasis kecerdasan buatan yang mampu mendeteksi dan melacak kawanan drone secara otomatis.
Sementara itu, Rusia memperkuat teknologi peperangan elektronik atau electronic warfare untuk mengganggu navigasi dan komunikasi drone musuh. Dalam perang Ukraina, Moskow banyak menggunakan jammer dan sistem gangguan sinyal untuk melumpuhkan drone pengintai maupun drone serang.
Di sisi lain, Turki muncul sebagai salah satu pemain baru yang sangat agresif dalam pengembangan drone dan sistem anti-drone. Setelah sukses mengekspor drone Bayraktar ke berbagai negara, Ankara kini memperluas pengembangan teknologi pertahanan udara dan drone laut tanpa awak.
NATO kini menghadapi tantangan besar untuk menyesuaikan doktrin militernya terhadap era peperangan drone. Aliansi Barat tersebut memperkuat latihan anti-drone, integrasi radar modern, serta pengembangan senjata laser dan microwave untuk melindungi pangkalan maupun armada militernya.
Perlombaan global ini menunjukkan bahwa dominasi militer abad ke-21 tidak lagi hanya ditentukan jumlah tank, kapal induk, atau jet tempur. Kemampuan menghadapi drone murah dan serangan otonom kini menjadi faktor utama kekuatan pertahanan sebuah negara.
