Kehidupan Hendri, Peternak Sapi yang Berhasil Membawa Nama Desa Mislak ke Tingkat Nasional

Di tengah suasana pagi yang tenang di kandang sederhana di Desa Mislak, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat, terdengar suara lenguhan keras yang memecah kesunyian. Di tengah kerumunan sapi lainnya, seorang sapi limosin berukuran jumbo tampak berdiri tegap dengan tubuh yang sangat besar dan bobot hampir mencapai satu ton. Sapi ini bernama “Boy”, yang menjadi pusat perhatian masyarakat setelah dibeli oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk kurban Idul Adha 2026.

Bagi Hendri, peternak lokal yang tinggal di desa tersebut, momen ini bukan hanya sekadar transaksi bernilai ratusan juta rupiah, tetapi juga penghargaan terbesar dalam perjalanan hidupnya sebagai peternak sapi rakyat.

“Rasanya campur aduk, terkejut sekaligus bangga. Saya tidak menyangka sapi dari kandang sederhana seperti ini bisa dipilih jadi sapi Presiden,” ujar Hendri saat ditemui di kandangnya, Jumat (15/5/2026).

Sebuah Perjalanan Keras yang Berbuah Keberhasilan

Hendri bukanlah peternak besar dengan lahan luas dan puluhan pekerja. Ia hanyalah warga desa biasa yang mulai serius menekuni usaha peternakan sapi sekitar empat tahun terakhir. Awalnya, ia hanya memiliki sedikit modal dan keterbatasan pengalaman. Namun, ketekunan dan semangat pantang menyerah membuatnya berhasil membangun kandang sederhana di samping rumahnya.

Awalnya, penjualan sapi kurban belum terlalu ramai. Hendri mengaku bahwa pada masa awal merintis usaha, ia hanya mampu menjual dua ekor sapi saja selama Idul Adha. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa suatu hari nanti, salah satu sapinya akan dipilih menjadi hewan kurban Presiden.

Kemudian, pada tahun lalu, salah satu sapinya terpilih menjadi hewan kurban Presiden. Kepercayaan itu kembali datang pada 2026, bahkan dengan nilai dan ukuran sapi yang jauh lebih besar.

Si Boy, Sapi Jumbo yang Menjadi Kebanggaan Bangka Barat

Di antara belasan sapi yang dipelihara Hendri, “Boy” menjadi yang paling mencuri perhatian. Sapi jenis limosin berwarna cokelat gelap itu memiliki postur besar dengan otot menonjol dan bobot mendekati satu ton. Butuh dua orang dewasa untuk menggiring Boy keluar dari kandang karena ukuran tubuhnya yang sangat besar.

Hendri menceritakan bahwa Boy pertama kali dibeli dari Lampung sekitar satu tahun tujuh bulan lalu. Saat itu bobotnya baru sekitar 480 kilogram dengan harga Rp27 juta. Dengan perawatan intensif dan pola pakan khusus, berat Boy melonjak drastis hingga diperkirakan mencapai lebih dari 980 kilogram.

Pola Makan Khusus untuk Menjaga Kondisi Tubuh Boy

Untuk menjaga kondisi tubuh Boy tetap prima, Hendri menerapkan pola makan khusus. Dalam sehari, Boy diberi makan tiga kali, yakni pagi, siang, dan malam. Pakan utamanya berupa campuran konsentrat, bungkil kedelai, mahong atau dedak gandum, kulit ubi, serta onggok atau ampas tahu.

“Kalau rumput cuma sedikit, paling sekitar 25 persen saja,” jelasnya. Menurut Hendri, sapi limosin tersebut bisa mengalami kenaikan berat badan hingga lebih dari satu kilogram setiap hari.

Harga yang Menggiurkan dan Popularitas yang Melonjak

Popularitas Boy semakin melejit setelah dipastikan dibeli Presiden Prabowo untuk kurban Idul Adha di Bangka Barat. Sapi jumbo tersebut dibanderol dengan harga Rp110 juta dan rencananya akan dikurbankan di Masjid Darul Abror, Desa Air Lintang, Kecamatan Tempilang.

Proses seleksi ketat dilalui oleh Boy sebelum akhirnya dipilih sebagai hewan kurban Presiden. Salah satu syarat utama adalah memiliki bobot di atas 900 kilogram. Selain itu, Boy juga telah menjalani pemeriksaan kesehatan dan uji laboratorium sebelum dipastikan layak menjadi hewan kurban Presiden.

Banjir Pembeli dan Penjualan yang Meningkat Drastis

Keberhasilan Boy menjadi sapi Presiden ternyata membawa berkah besar bagi usaha peternakan Hendri. Kandang sederhana miliknya mendadak ramai didatangi pembeli dari berbagai wilayah di Bangka Barat. Masyarakat penasaran melihat langsung sapi Presiden sekaligus tertarik membeli sapi lain di kandang Hendri.

Dari total 15 sapi yang dimiliki, kini hanya tersisa lima ekor. Sebanyak 10 sapi lainnya sudah laku terjual dalam waktu singkat. Harga sapi yang tersisa kini berkisar Rp25 juta hingga Rp45 juta tergantung ukuran dan jenisnya.

Rencana Masa Depan yang Ambisius

Meski telah menikmati hasil besar, Hendri tidak ingin cepat puas. Ia berencana memutar kembali keuntungan penjualan sapi untuk membeli bibit sapi baru dan memperbesar peternakannya. Bahkan, ia sudah menyiapkan satu ekor sapi limosin lain yang digadang-gadang menjadi calon sapi Presiden tahun depan. Saat ini bobot sapi tersebut diperkirakan sudah mencapai 400 hingga 500 kilogram.

“Sudah disiapkan juga buat tahun depan. Mudah-mudahan bisa terpilih lagi,” katanya penuh harap.

Inspirasi dari Desa Mislak

Kisah Hendri menjadi bukti bahwa kerja keras dan ketekunan bisa membawa peternak lokal meraih pencapaian besar. Dari kandang sederhana di pelosok Bangka Barat, namanya kini dikenal luas setelah dua tahun berturut-turut sapinya dipilih menjadi hewan kurban Presiden Republik Indonesia. Bagi warga sekitar, keberhasilan Hendri juga menjadi kebanggaan tersendiri karena mampu mengangkat nama Desa Mislak hingga tingkat nasional.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

© 2026 Info Malang Raya. All rights reserved.

Exit mobile version