Ringkasan Berita:

  • Sosok Bambang Setiawan (59), seorang penjual kaca/cermin di Pejompongan, tewas dianiaya sekelompok massa diduga penyusup usai demo 27 Agustus 2026.
  • Korban sempat mengantar tetangga sakit dan hendak menyalakan lampu toko sebelum ditemukan tewas dengan luka-luka.
  • Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melayat ke rumah duka dan polisi tengah memproses kasus ini.

 

Infomalangraya.net– Bambang Setiawan (59), seorang penjual kaca di kawasan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, menjadi korban tewas dalam kericuhan yang terjadi pada Kamis (27/8/2026) malam.

Pria yang sehari-hari mencari nafkah dari usaha toko cermin ini diduga kuat tewas akibat dianiaya oleh sekelompok penyusup yang memprovokasi kerusuhan usai demonstrasi.

Tragedi tragis yang menimpa warga Bendungan Hilir ini diduga dipicu oleh masuknya massa tak dikenal ke pemukiman warga setelah aksi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di gedung DPR RI sebenarnya sudah membubarkan diri secara damai.

Detik-Detik Kericuhan dan Munculnya Penyusup di Pejompongan

Aksi demonstrasi dari massa AMPB yang menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset awalnya berlangsung damai setelah beraudiensi dengan pimpinan DPR.

Setelah DPR berjanji mengesahkan RUU tersebut paling lambat 15 Desember 2026, massa AMPB resmi membubarkan diri.

Namun, situasi mendadak memanas ketika sekelompok orang tak dikenal memicu kerusuhan di sekitar gedung DPR RI dan masuk ke kawasan permukiman.

Sebagian massa provokator tersebut kemudian terlibat bentrokan hebat dengan warga setempat.

“Memakan korban jiwa, satu orang. (Akibat penyusup) Berkelakuan seperti binatang,” kata Ketua RT 02 RW 06 Benhil, Aban Sobandi kepada Tribunnews, Jumat (28/8/2026).

Aban menilai penanganan aksi kali ini sangat berbeda karena ada pihak luar yang dengan sengaja mengadu domba warga.

“Memang penanganan demo saat ini berbeda dengan sebelumnya. Jadi, yang turun itu orang-orang (tidak diketahui) seperti (warga) diadu domba,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa massa yang masuk menyerupai anak sekolah sebelum akhirnya datang para penyusup.

“Datang kayak anak-anak pelajar, kemudian datang penyusup. Jadi kita berperang antara pendemo dengan warga. Maka timbullah yang jadi korban itu warga, bukan pendemo lagi,” jelasnya.

Sebelum bentrokan pecah, Aban mengaku telah mengamankan kelompok rentan di wilayahnya.

Lansia dan balita diungsikan ke rumah kerabat yang lokasinya jauh dari pusat kericuhan, sementara warga pria bertahan untuk berjaga.

“Kalau yang lansia memang saya ungsikan. Lansia atau yang punya balita saya ungsiin ke rumah saudaranya yang jauh,” imbuhnya.

Sosok Bambang Setiawan: Penjual Kaca yang Dikenal Baik

Sebelum menjadi korban, Bambang masih sempat berjualan cermin di tepi Jalan Pejompongan Raya.

Istri almarhum, Sudarsi (56), mengingat momen ketika ia meminta suaminya menutup toko sekitar pukul 16.30 WIB karena massa mulai memadati area tersebut.

“Saya lihat massa udah dari sana udah banyak, akhirnya saya bilang sama bapaknya, ‘Itu massa udah banyak’, saya bilang tutup. Pas dia melihat, ‘Oh ya udah, tutup’. Saya bantuinlah,” ujar Sudarsi saat ditemui di rumah duka, Jumat (28/8/2026).

Setelah merapikan barang dagangan, Bambang sempat membantu mengantar tetangganya yang sakit menuju Rumah Sakit Pelni bersama putranya.

Ia baru kembali ke rumahnya sekitar pukul 21.00 hingga 21.30 WIB.

Merasa kondisi sudah relatif aman, Bambang kembali keluar rumah menuju toko kacanya di lokasi kericuhan, tetapi setelah itu ia tak kunjung kembali.

Kronologi Bambang Tewas Usai Niat Menyalakan Lampu Toko

Putra almarhum, Yoga Noval (29), menceritakan detail perjalanan sang ayah sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia.

“Saya, bapak, dan tetangga itu bertiga. Saya antar ke rumah sakit Pelni,” ucap Yoga menceritakan momen saat mereka mengantar tetangga yang lemas.

Yoga kemudian pulang lebih dahulu dan menyarankan ayahnya untuk memberi kabar jika ingin dijemput.

“Saya bilang ke bapak, kalau mau pulang nanti kabarin saja nanti dijemput. Tetapi bapak pulang jalan kaki karena katanya tidak ada angkot,” ucapnya.

Setibanya di rumah sekitar pukul 22.00 WIB, Bambang sempat berganti pakaian sebelum berpamitan keluar rumah lagi.

“Bapak sudah ganti baju kemudian keluar katanya mau ke rumah sakit Pelni lagi,” imbuhnya.

Tak lama setelah itu, terjadi ketegangan saat seorang anak bernama Fatur ditangkap oleh massa aksi, sehingga Bambang sempat mundur dan masuk kembali ke rumah dengan selamat.

Nahas, Bambang kembali keluar rumah beberapa saat kemudian hanya untuk menghidupkan lampu di toko kaca miliknya.

“Lalu terdengar teriakan ada yang mati dua (orang). Saya bersama teman kemudian ke depan untuk mengecek, saya lihat ada darah,” terangnya.

Mengetahui hal itu, keluarga langsung bergegas mencari keberadaan Bambang di sejumlah rumah sakit di Jakarta.

Kepastian baru didapat sekitar pukul 04.00 WIB melalui sebuah video yang dikirimkan oleh kakak laki-laki Yoga.

“Sekitar pukul 4 pagi, abang saya mengirim video. Dia bilang, ‘Coba lihat, ini bapak bukan?’ Saya lihat videonya. Awalnya masih ragu, tetapi setelah saya pause dan lihat wajahnya, ternyata memang bapak,” ucap Yoga.

Jasad Bambang awalnya dievakuasi ke Rumah Sakit TNI Angkatan Laut Dr. Mintohardjo sebelum dirujuk ke RS Polri Kramat Jati.

Yoga yang mendapati kondisi jasad ayahnya penuh luka langsung membawa kabar duka tersebut ke rumah.

“Sesampainya di rumah saya langsung teriak ‘Mama, Bapak udah nggak ada,'” tandas Yoga.

Bambang Diseret dan Dipukuli Massa Penyusup

Dalam rekaman video yang beredar, terlihat sejumlah pria membawa kayu sedang menyeret dan memukuli seorang pria secara tidak manusiawi.

Keluarga korban menegaskan bahwa mereka baru mengetahui detail peristiwa keji tersebut dari video yang tersebar.

“Justru kita tahunya dari video. Kita enggak ada yang lihat jelas nih posisi mayat ini, posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita nggak tahu,” tuturnya.

Ketua RT setempat, Aban Sobandi, juga mengonfirmasi informasi tersebut berdasarkan kesaksian warga yang merekam kejadian.

“(Bambang) Digeret-geret,” ucap Aban memperjelas perlakuan kejam yang diterima korban.

Setelah menjalani proses identifikasi di RS Polri, jenazah Bambang disemayamkan di rumah duka Bendungan Hilir dan direncanakan dimakamkan di TPU Kemanggisan.

Gubernur DKI Pramono Anung Melayat

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menunjukkan rasa simpati dengan melayat langsung ke rumah duka almarhum Bambang Setiawan pada Jumat (29/8/2026) malam.

Kedatangan Pramono disambut langsung oleh istri almarhum dan kedua putranya untuk menerima ucapan duka cita secara mendalam.

Selain melayat almarhum Bambang, Pramono juga menjenguk Fathur, seorang siswa SMA yang turut menjadi korban pengeroyokan oleh orang tak dikenal dalam insiden tersebut.

Siswa SMA bernama Fathur tersebut langsung dievakuasi menggunakan ambulans menuju rumah sakit guna mendapatkan penanganan medis intensif.

Sementara itu, pihak Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya memberikan penjelasan terkait proses penanganan korban saat kerusuhan terjadi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyatakan petugas sempat mengevakuasi korban yang ditemukan pingsan di lokasi.

“Rumah sakit terdekat adalah rumah sakit Mintohardjo. Dibawa ke rumah sakit, tapi pada saat penanganan di rumah sakit, yang bersangkutan meninggal dunia,” ucap Budi dalam konferensi pers pada Jumat (28/8/2026).

“Selanjutnya dibawa sekitar 23.30 atau 24.00 dibawa menuju Rumah Sakit Polri Kramatjati untuk dilakukan identifikasi.”

Pihak kepolisian mengonfirmasi telah bertemu dengan anak kandung korban, namun keluarga memutuskan untuk menolak prosedur otopsi terhadap jasad almarhum. (Tribun Network/ Kompas.com/ Infomalangraya.net)

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version