Sejarah dan Kontribusi Sutan Harhara dalam Sepak Bola Indonesia
Sutan Harhara adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah sepak bola Indonesia, terutama pada era 1970-an. Ia dikenal sebagai pemain bertahan yang mampu menyamai popularitas para pemain depan di masa itu. Kariernya tidak hanya berdampak pada klub Persija Jakarta, tetapi juga menjadi bagian dari lini pertahanan Tim Nasional Indonesia (Timnas) selama hampir delapan tahun.
Lahir pada 19 Agustus 1952, Sutan Harhara memperkuat Persija Jakarta dan Timnas Indonesia dengan posisi sebagai bek sayap. Keunggulannya dalam membaca permainan serta keberaniannya membantu serangan membuatnya menjadi sosok yang menonjol. Di masanya, popularitas pemain sepak bola biasanya didominasi oleh penyerang atau gelandang, namun Sutan Harhara menjadi pengecualian. Namanya mampu bersaing dengan bintang-bintang seperti Iswadi Idris dan lainnya.
Karier Klub dan Prestasi
Karier Sutan Harhara mulai mencuri perhatian ketika ia bergabung dari Indonesia Muda ke Jayakarta pada 1973. Ia menjadi bagian penting dalam membawa tim tersebut promosi dari Divisi II hingga Divisi Utama. Saat memperkuat Persija pada periode 1972–1979, ia sukses mempersembahkan dua gelar juara Perserikatan pada tahun 1973 dan 1975. Selain itu, ia juga turut membawa tim PON DKI Jakarta meraih gelar juara pada PON 1974.
Pilar Pertahanan Timnas
Di level internasional, Sutan Harhara menjadi bagian penting dari lini belakang Timnas Indonesia. Salah satu momen bersejarah dalam kariernya adalah saat Timnas Indonesia mengalahkan Uruguay dengan skor 2-1 pada 1974. Dalam laga tersebut, ia menjadi salah satu pemain yang menjaga kokohnya pertahanan Tim Garuda.
Pada tahun 1973, ia terpilih menjadi pemain timnas dan membela tim hingga tahun 1980. Debut pertamanya di timnas adalah ketika Timnas Indonesia menghadapi Uruguay pada tanggal 19 April 1974 di Stadion Istora Senayan. Sutan juga pernah melawan timnas Denmark, di mana ia berhasil mematikan bintang mereka, Alan Simonsen. Meski kala itu Timnas Indonesia kalah dengan skor 9-0, ini menjadi kekalahan terbesar sepanjang sejarah sebelum akhirnya rekor tersebut dipatahkan oleh Bahrain dengan skor 10-0.
Karier Kepelatihan dan PSSI
Setelah pensiun sebagai pemain, Sutan Harhara melanjutkan kiprahnya di dunia sepak bola sebagai pelatih. Sejak 1985, ia menangani sejumlah klub di Indonesia seperti Persikabo, Persikota, Persegi Gianyar, PSMS, PSIS, hingga Semen Padang. Pengalamannya yang panjang membuatnya dipercaya menjabat sebagai Direktur Teknik PSSI pada 1 Juli 2010.
Jejak Keluarga
Jejak Sutan Harhara di dunia sepak bola juga diikuti oleh sang adik, Aun Harharah, yang sempat memperkuat Tim Nasional Indonesia pada era 1980-an. Meski kariernya tidak setenar sang kakak, kehadirannya menambah warna dalam kiprah keluarga Harhara di sepak bola nasional.
Kematian dan Pemakaman
Mantan pemain Persija Jakarta era 1970-an, Sutan Harhara, meninggal dunia pada Sabtu (11/4/2026) pukul 01.29 WIB. Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka di kawasan Pamulang, Kota Tangerang Selatan. Suasana duka menyelimuti kediaman almarhum, dengan tenda hitam dipasang di bagian depan untuk menampung para pelayat.
Jenazah akan disalatkan di Masjid Daarossyifa, kemudian dimakamkan di TPU Kampung Kandang, Jakarta Selatan, usai salat Dzuhur. Almarhum lahir pada 9 Oktober 1953 dan wafat pada 11 April dalam usia 73 tahun, setelah menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum (RSU) Tangsel.
