Kehidupan Syamsun Ramli: Dari Keterpurukan Hingga Meraih Pendidikan Tinggi
Syamsun Ramli, seorang pria berusia 48 tahun, memiliki kisah hidup yang luar biasa. Ia mengalami kelumpuhan (paraplegia) akibat jatuh dari ketinggian 17 meter saat sedang latihan panjat tebing di masa kuliah. Namun, ia tidak pernah menyerah dan berhasil bangkit dari trauma serta keterpurukan fisik selama bertahun-tahun.
Meskipun sempat ingin berhenti kuliah dan menganggur selama 8 tahun karena kondisi fisiknya, bantuan dari dokter yang mengoperasinya serta dukungan istri membuatnya mampu menyelesaikan pendidikan S1, S2, hingga kini menempuh S3 di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kecelakaan yang Mengubah Segalanya
Sebenarnya, Syamsun lahir normal dan tidak memiliki riwayat penyakit serius. Namun, kecelakaan yang terjadi pada semester 2 sebagai mahasiswa Teknik Sipil di Universitas Brawijaya (UB) mengubah segalanya. Saat itu, ia sedang mengikuti latihan panjat tebing untuk persiapan ekspedisi anggota organisasi mahasiswa (ormawa) pecinta alam. Tiba-tiba, ia terjatuh dari ketinggian sekitar 17 meter.
Akibat kecelakaan tersebut, empat ruas tulang belakang Syamsun di bagian torakal (T5–T8) terganggu. Hal ini menyebabkan paraplegia atau kelumpuhan pada tubuh bagian bawah. Di awal kondisi, Syamsun enggan menggunakan kursi roda. Namun, seiring waktu, ia menyadari bahwa masih diberi hidup adalah anugerah Tuhan.
“Setelah dipikirkan lama, ini adalah anugerah Tuhan. Saya diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki diri,” ujar Syamsun.
Perjuangan Selama 10 Tahun
Selama hampir 10 tahun, Syamsun lumpuh. Ia bergantung pada bantuan orang lain untuk duduk, berpindah tempat, dan menjalani aktivitas sehari-hari. Ibunya setiap hari melatihnya berjalan dengan harapan sang anak dapat kembali berjalan.
Pada awalnya, Syamsun hampir memutuskan untuk berhenti kuliah karena keterbatasan biaya. Namun, Tjuk Risantoso, dokter yang mengoperasi tulang belakangnya, menegurnya. Dokter Tjuk kemudian membantu membiayai kuliahnya dengan satu syarat, Syamsun harus menyelesaikan kuliah tepat waktu.
Ternyata, Syamsun mampu menyelesaikan studinya hanya terpaut beberapa bulan dari target yang diberikan. “Beliau bukan hanya menyelamatkan fisik saya, tapi juga masa depan saya,” kenang Syamsun.
8 Tahun Menganggur dan Berjuang
Lulus S1 bukan berarti mudah mendapatkan pekerjaan. Syamsun selalu jujur dalam isi lamaran bahwa dirinya adalah pengguna kursi roda dan memastikan hal tersebut tidak akan mengganggu profesionalitas. Nyatanya, butuh waktu delapan tahun bagi Syamsun untuk mendapatkan pekerjaan.
Ia bekerja sebagai Site Engineer dan Desainer di CV. Tiga Pilar, Malang. Tugasnya memastikan rancangan benar-benar dapat terbangun. Pengalaman kerja memperkaya pemahamannya tentang hubungan antara desain, struktur, dan kebutuhan manusia.
Syamsun juga memulai karier sebagai dosen arsitektur di Universitas Ibrahimy, Situbondo.
Menempuh S3 dengan Beasiswa LPDP
Pada jenjang S2, Syamsun mengambil Program Studi Arsitektur Lingkungan Binaan. Kini, ia menempuh studi S3 jurusan Arsitektur di ITB. Ia merupakan penerima Beasiswa Penyandang Disabilitas dari LPDP.
“Kalau tanpa Beasiswa dari LPDP mungkin akan sangat berat,” tutur Syamsun. Penelitiannya menuju gelar Doktor sekarang berfokus pada sistem struktur penahan gempa untuk bangunan bertingkat yang berkelanjutan.
Baginya, pendidikan adalah jalan yang membantunya bangkit. Dari proses belajar, ia menemukan kembali arah, harapan, dan keyakinan bahwa dirinya tetap mampu berkembang serta berkontribusi.
“Kalau saya tidak sekolah, mungkin saya tidak punya kehidupan seperti sekarang. Pendidikan itu ikhtiar utama,” tuturnya.
Kekuatan dari Istri
Dalam kehidupan pribadi, Syamsun memiliki istri bernama Sri Nursiani yang menjadi kekuatannya. Sejak masa kuliah, Sri setia mendampingi, membantu aktivitasnya dalam berbagai fase perjuangan sulit.





