Proyeksi Peningkatan Utilisasi Industri Keramik Nasional
Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) memproyeksikan tingkat utilisasi dan volume produksi industri keramik nasional akan kembali meningkat pada tahun ini. Target yang ditetapkan adalah tingkat utilisasi sebesar 80% pada tahun 2026. Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto menjelaskan bahwa dengan estimasi tersebut, volume produksi akan meningkat sebesar 13,17% menjadi sekitar 537 juta meter persegi.
Tren peningkatan tingkat utilisasi terlihat dari performa pada akhir tahun 2025. Pada kuartal IV-2025, rata-rata utilisasi naik secara bulanan dari Oktober (75%), November (76%) hingga Desember (78%). Asaki bahkan melihat potensi tingkat utilisasi bisa mencapai level 90%, jika permintaan pasar dalam negeri meningkat signifikan.
Pasar domestik menjadi andalan bagi para produsen keramik karena kontribusi ekspor masih kecil, sekitar 3% hingga 4% dari total produksi. Edy menyoroti Program 3 juta unit rumah yang berpotensi mendongkrak utilisasi keramik hingga ke level 96%. “Asaki mengharapkan realisasi program tersebut di tahun 2026, yang bisa mendongkrak kenaikan tingkat utilisasi produksi secara signifikan dari target 80% ke angka 96%,” ujar Edy.
Capaian dan Tantangan Industri Keramik Tahun 2025
Tingkat utilisasi dan volume produksi industri keramik membaik pada tahun lalu. Rata-rata utilisasi meningkat dari 66% pada tahun 2024 menjadi 73% pada 2025. Peningkatan utilisasi ini mendongkrak volume produksi sekitar 62 juta m² menjadi 474,5 juta m² sepanjang tahun lalu. Hasil tersebut mencerminkan pertumbuhan sekitar 15% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Sebagai catatan, Indonesia adalah satu-satunya negara produsen keramik baik di Asia, Eropa maupun Amerika yang mampu mencatat pertumbuhan tingkat utilisasi produksi dan kapasitas produksi pada tahun 2025,” kata Edy.
Edy menyoroti beberapa faktor yang mendorong kinerja industri keramik pada tahun 2025, terutama dukungan dari kebijakan pro-industri yang menahan derasnya produk impor. Kebijakan proteksi tersebut mencakup anti-dumping, safeguard keramik dan Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib. Kebijakan proteksi untuk industri keramik telah memantik skema kerja sama Original Equipment Manufacturing (OEM) antara importir dengan produsen keramik lokal. Skema OEM membawa para importir bekerja sama dengan pabrik dalam negeri untuk memproduksi keramik dengan merek sendiri.
Meski meningkat ketimbang capaian tahun 2024, tingkat utilisasi industri keramik pada 2025 masih belum optimal sesuai rentang target Asaki pada level 70% – 75%. Edy pun menyoroti persoalan pasokan dan harga gas industri.
Tantangan yang Menghambat Industri Keramik
Kendala yang menjadi sorotan adalah keadaan kahar (force majeure) yang membuat pasokan gas di Jawa Bagian Barat tersendat pada pertengahan hingga akhir Agustus 2025. Edy mengungkapkan, rata-rata industri keramik yang menerima pasokan sesuai Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar US$ 7 per MMBTU hanya sekitar 60% di Jawa Bagian Barat. Sementara di Jawa Bagian Timur hanya 50% – 55%. Selebihnya, industri harus membayar surcharge dengan harga sekitar US$ 15,4 per MMBTU.
Selain harga gas dari sisi operasional, gangguan dari produk impor masih membayangi industri keramik. Asaki mencatat ada lonjakan impor yang signifikan dari Malaysia dengan kenaikan sekitar 210%, India (55%) dan Vietnam (32%). Asaki akan bekerja sama dengan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) untuk menginisiasi penyelidikan dumping oleh India. Selain itu, Asaki sedang mengumpulkan data terkait indikasi transhipment produk China melalui Malaysia.
Tantangan lainnya adalah kelancaran pasokan bahan baku, terutama pasca pencabutan sejumlah izin di Jawa Barat. “Asaki juga membutuhkan perhatian Pemerintah perihal kelancaran dan kecukupan bahan baku tanah untuk produksi keramik,” tandas Edy.
