Infomalangraya.net.CO.ID – JAKARTA.
Perubahan Strategi Bisnis TOBA Menuju Portofolio Berkelanjutan
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) terus menunjukkan komitmennya untuk beralih menuju bisnis hijau dalam beberapa tahun terakhir. Emiten dengan kode saham TOBA ini mulai mengurangi ketergantungan pada batubara dan mempercepat ekspansi bisnis berkelanjutan. Langkah ini tidak hanya mengubah arah bisnis, tetapi juga merombak struktur pendapatan perusahaan. Kontribusi batubara yang sebelumnya dominan kini mulai menyusut secara bertahap.
Dalam laporan kinerja tahun buku 2025, TOBA membukukan EBITDA disesuaikan positif sebesar US$ 47,2 juta dengan posisi saldo kas mencapai US$ 102,3 juta atau meningkat 15% dari posisi tahun sebelumnya. Pendapatan dari segmen pengelolaan limbah memberikan kontribusi sebesar US$ 155,4 juta, sedangkan pendapatan dari segmen pertambangan dan perdagangan batubara mencapai US$ 194,6 juta.
Dari sisi bottom line, TOBA membukukan rugi bersih sebesar US$ 162 juta. Hal ini terjadi karena penurunan harga batubara dunia sepanjang 2025 serta kerugian non kas tidak berulang akibat divestasi PLTU sebesar US$ 97 juta.
Pergeseran Arah Strategi Bisnis
Direktur TBS Energi Utama Juli Oktarina menjelaskan bahwa proporsi kontribusi pendapatan dari segmen pertambangan dan perdagangan batubara turun dari 81% menjadi 51%. Ini mencerminkan arah strategis TBS untuk secara bertahap menurunkan eksposur terhadap batubara sekaligus mempercepat pergeseran menuju portofolio yang lebih berkelanjutan.
“Strategi ini diambil dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang untuk mempercepat pertumbuhan pilar bisnis pengolahan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik,” ujarnya. Menurutnya, diversifikasi bisnis relevan di tengah eskalasi ketegangan geopolitik yang memberikan tekanan pada pasar energi global.
“Strategi bisnis yang berfokus pada pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik menjadi peluang krusial bagi ketahanan energi nasional karena memberikan fleksibilitas,” tambah Juli.
Transformasi melalui Repositioning dan Akuisisi
Transformasi ini juga tercermin dari langkah strategic repositioning yang dilakukan sepanjang 2025. TOBA menata ulang portofolio untuk memperkuat fondasi keuangan sekaligus mengarahkan bisnis ke sektor rendah karbon. Langkah tersebut dilakukan secara terukur guna meningkatkan kualitas neraca dan menciptakan struktur bisnis yang lebih resilien.
Salah satu tonggak penting dalam transformasi ini adalah penyelesaian akuisisi Sembcorp Environment pada 2025. Aksi korporasi ini memperkuat posisi TOBA sebagai pemain utama pengelolaan limbah di kawasan Singapura.
Juli menjelaskan bahwa transformasi ini tidak hanya mengandalkan pertumbuhan organik, tetapi juga membuka peluang ekspansi anorganik. TOBA terus mengeksplorasi kemitraan strategis untuk mempercepat pertumbuhan.
“Sebagai bisnis, kita terus mengeksplorasi opportunity dengan potential partner, tapi per hari ini belum ada kerja sama yang berjalan,” ujarnya.
Potensi Bisnis Hijau yang Menjanjikan
Juli menegaskan bahwa bisnis hijau ditargetkan mampu menggantikan kontribusi penuh dari batubara dan PLTU. Namun, pencapaian tersebut membutuhkan waktu dalam fase transisi.
“Ke depan bisnis waste management, renewable energy, dan EV diharapkan bisa menggantikan EBITDA dari batubara, meskipun membutuhkan waktu,” jelas Juli dalam paparannya.
Perusahaan juga menilai valuasi bisnis hijau jauh lebih menarik dibandingkan bisnis fosil. Pergeseran ini menjadi salah satu daya tarik bagi investor global.
“Dulu satu dolar EBITDA dari batubara dihargai tiga sampai empat kali, sekarang dari bisnis hijau bisa 10 sampai 12 kali,” kata Juli.
Pengembangan Proyek Energi Terbarukan dan Kendaraan Listrik
Di sisi operasional, TOBA juga mempercepat pengembangan proyek energi terbarukan. Salah satunya adalah proyek pembangkit listrik tenaga surya terapung di Batam yang ditargetkan beroperasi pada 2026. Selain itu, perusahaan juga mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga bayu dalam pipeline. Ekspansi ini menjadi bagian dari diversifikasi sumber energi bersih.
Di sektor kendaraan listrik, TOBA mulai memperluas ekosistem melalui deployment unit EV dan pengembangan stasiun penukaran baterai. Langkah ini diharapkan memperkuat posisi di bisnis mobilitas hijau.
Juli menilai kenaikan harga energi fosil justru menjadi katalis percepatan transisi energi. Kondisi ini mendorong peralihan menuju solusi energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Dengan kondisi ini, masyarakat bisa mulai beralih ke energi listrik karena lebih hemat dan ramah lingkungan,” katanya.
Perlindungan terhadap Fluktuasi Rupiah
Eksposur terhadap nilai tukar dinilai relatif terjaga karena sebagian besar pendapatan berbasis dolar AS dan dolar Singapura. Menurutnya, hal tersebut memberikan perlindungan terhadap fluktuasi rupiah.
TOBA juga terus mengembangkan roadmap jangka panjang melalui inisiatif TBS2030. Targetnya adalah mencapai netral karbon pada 2030 sejalan dengan visi keberlanjutan TBS Energi.
Dalam implementasinya, TOBA telah menurunkan emisi karbon melalui divestasi dua unit PLTU. Langkah ini berkontribusi signifikan dalam mengurangi jejak karbon perusahaan.
Selain itu, TOBA juga telah meluncurkan Climate Transition Plan sebagai panduan dekarbonisasi operasional. Inisiatif ini mempertegas komitmen TOBA dalam menjalankan transformasi hijau.
