Perang Obor di Tegalsambi Jepara: Tradisi Budaya yang Penuh Semangat
Perempatan Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara menjadi pusat perhatian masyarakat dalam semalam, Senin (25/5/2026). Ribuan warga hadir untuk menyaksikan tradisi budaya yang sangat ekstrem dan unik bernama “Perang Obor”. Tradisi ini telah diadakan secara rutin oleh masyarakat Tegalsambi sejak lama.
Perang Obor tahun ini diperankan oleh 40 warga terpilih dari berbagai usia, mulai dari remaja hingga dewasa. Mereka menggunakan lebih dari 400 obor yang dibuat dari daun kelapa dan daun pisang kering yang diikat dengan bambu. Setiap peserta saling menghantamkan obor yang sudah dinyalakan api. Representasi perang ini berlangsung di satu titik wilayah yaitu perempatan Desa Tegalsambi.
Para peserta memakai seragam batik lurik, celana panjang, sepatu, dan topi tradisional. Beberapa di antaranya memakai topi anyaman daun pandan atau caping anyaman bambu. Salah satu peserta, Muhammad Rosidi (52), telah dua kali menjadi pemain Perang Obor. Pengalamannya pertama kali pada 2019 lalu cukup berat, karena mendapat pukulan keras dari obor yang menyebabkan ia hampir pingsan. Ia juga mengalami beberapa luka bakar di tangan, kaki, dan badan, yang kemudian diolesi minyak khusus setelah acara selesai.
Menurut Rosidi, Perang Obor adalah tradisi budaya ekstrem yang dimiliki Desa Tegalsambi. Peserta harus memiliki nyali tinggi untuk ikut serta dalam permainan ini. Tahun ini, Rosidi kembali menjadi salah satu dari 40 peserta terpilih. Ia mengatakan bahwa selama beberapa tahun terakhir, anak dan istri tidak diizinkan ikut, namun tahun ini mereka diizinkan. Ia ingin setiap tahun tetap menjadi bagian dari acara ini.
Setiap peserta bertindak totalitas dalam memainkan obor masing-masing, meskipun tidak saling mengenal. Namun, setelah acara selesai, semua peserta kembali bersaudara tanpa membawa dendam.
Awal Acara: Kirab Pusaka
Pelaksanaan tradisi budaya Perang Obor Tegalsambi dimulai dengan kirab pusaka dari rumah Kepala Desa Tegalsambi menuju titik perang, yaitu perempatan Desa Tegalsambi. Kirab dibuka dengan lantunan adzan dan iqamat, dilanjutkan dengan penyalaan dua obor dari bambu. Kirab ini juga diiringi oleh peserta perang obor yang membawa masing-masing satu obor. Setelah itu, dilanjutkan dengan ritual perang obor dan tari perang obor.
Hujan Tak Menghalangi Semangat
Tepat sebelum penyalaan api obor pertama, hujan deras mengguyur lokasi Perang Obor Tegalsambi. Meski diguyur hujan, tradisi ini tetap berlangsung meriah. Masing-masing peserta saling menghantamkan obor masing-masing. Suasana hangat pun tercipta di lokasi perang obor. Di mana nyala obor menerangi malam Tegalsambi.
Perang Obor Tegalsambi tahun ini mengangkat tema “Api Semangat Tradisi Berkobar”. Tema ini menggambarkan keberanian, semangat, dan gotong-royong masyarakat Jepara dalam menjaga tradisi budaya.
Sejarah Perang Obor
Tradisi Perang Obor Tegalsambi bermula dari perseteruan dua tokoh desa bernama Ki Gemblong dan Kiyai Babadan. Pada masa itu, Kiyai Babadan meminta bantuan Ki Gemblong untuk merawat dan menjaga ternaknya. Awalnya Ki Gemblong sanggup menjalankan amanah tersebut, namun lambat laun amanah itu mulai memudar. Ternak-ternak Kiyai Babadan menjadi kurus dan pesakitan.
Mendengar kabar itu, Kiyai Babadan menghampiri Ki Gemblong dan menghajarnya dengan obor dari pelepah daun kelapa. Ki Gemblong tidak terima dan membalas dengan perlakuan yang sama. Akhirnya terjadi perkelahian obor antara dua tokoh tersebut. Abu beterbangan ke mana-mana hingga membuat ternak-ternak Kiyai Babadan lari di kandangnya. Ironisnya, peristiwa itu justru membuat ternak Kiyai Babadan tidak pesakitan lagi dan sembuh.
Keduanya akhirnya memutuskan untuk mengakhiri pertarungan itu. Kisah dua tokoh tersebut lantas menjadi cerita rakyat turun-temurun dan diuri-uri menjadi tradisi budaya Perang Obor Tegalsambi dalam rangka mengusir roh jahat.
Hadirnya Wakil Gubernur Jawa Tengah
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maemon, hadir langsung menyaksikan bagaimana tradisi Perang Obor di Jepara digelar. Menurut dia, sebagai masyarakat yang berbudaya, sudah sepatutnya menjaga dan melestarikan setiap tradisi budaya yang ada di desa. Di mana tradisi Perang Obor Tegalsambi memiliki kisah sendiri dari leluhur di Tegalsambi dan harus bisa melestarikan warisan kakek dan nenek moyang. Supaya tetap lestari dari tahun ke tahun.
“Setiap tradisi harus dijaga dan diharapkan jadi satu destinasi wisata. Tradisi ini sudah tercatat sebagai warisan budaya tak benda (WBTB). Semoga kegiatan ini bukan hanya sebagai ritual saja, juga menambah dampak pertumbuhan ekonomi UMKM. Menjadi kegiatan yang benar-benar menarik wisatawan,” harap dia.
