Sejarah Baksos Javaretro yang Berlangsung Selama 8 Tahun
Baksos Javaretro adalah sebuah kegiatan bakti sosial yang telah berjalan selama delapan tahun. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk membantu masyarakat, tetapi juga memberikan dukungan kepada siswa difabel di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan anak yatim piatu. Sasaran dari Baksos Javaretro tidak hanya terbatas pada Kota Bandung, tetapi juga mencakup kawasan Bandung Raya serta daerah-daerah pelosok yang jauh dari pusat kota.
Kegiatan bakti sosial ini dipimpin oleh tiga putra dari keluarga besar Kopasgat, yaitu Petrus Adamsantosa, dr. I Nyoman Arya, dan A.R Ricky Wardoyo. Ketiganya memiliki latar belakang yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama dalam menjalankan kegiatan kemanusiaan ini.
Awal Mula Baksos Javaretro
Petrus Adamsantosa, salah satu putra prajurit Kopasgat, awalnya menggagas Baksos Javaretro pada tahun 2018. Pada awalnya, kegiatan ini dilakukan secara mandiri oleh Petrus sendiri. Ia memulai dengan aksi baksos kecil-kecilan di lingkungan sekitar hotel miliknya, yaitu Javaretro Hotel & Suites, yang berlokasi di kawasan Jalan Mustang, Pasteur.
Petrus memiliki jiwa sosial yang tinggi dan merasa tergerak melihat kondisi para anak berkebutuhan khusus dan anak yatim piatu yang kurang mampu. Dengan niat baik, ia memulai kegiatan baksos yang awalnya digelar setiap bulan. Namun, seiring berjalannya waktu, kegiatan ini semakin intensif dan diadakan dua kali dalam sebulan, yaitu setiap minggu Jumat dan minggu keempat atau minggu pertama setiap bulan.
Baksos Javaretro Di Tengah Pandemi
Meskipun Baksos Javaretro sempat terganggu akibat wabah pandemi Covid-19, kegiatan ini tidak sepenuhnya terhenti. Selama masa pandemi, kegiatan baksos tetap berjalan dengan memberikan paket-paket bantuan kepada anak jalanan dan mereka yang terisolasi akibat pembatasan sosial.
Peran Keluarga Besar Kopasgat
Seiring perkembangan, Baksos Javaretro kemudian melibatkan dua orang lain dari keluarga besar Kopasgat, yaitu dr. I Nyoman Arya dan A.R Ricky Wardoyo. Ketiganya memiliki latar belakang yang berbeda:
- Petrus Adamsantosa – pengusaha properti
- Dr. I Nyoman Arya – dokter umum
- A.R Ricky Wardoyo – penyelenggara klinik kesehatan
Petrus mengatakan bahwa pada awalnya, kegiatan baksos ini dijalankan secara mandiri oleh dirinya sendiri. Ia bekerja keras dan menggunakan seluruh sumber daya yang dimilikinya untuk menggelar kegiatan baksos kemanusiaan ini.
Keberagaman dan Persatuan dalam Kegiatan Baksos
Uniknya, ketiganya merupakan teman sepermainan karena ayah mereka adalah anggota Kopasgat. Sejak kecil, ketiganya tinggal di Kompleks AU Lanud Sulaiman. Aktivitas seperti bersepeda dan bermain layangan menjadi kegiatan sehari-hari mereka. Bahkan, hingga jenjang SMP, ketiganya masih sekolah di tempat yang sama, yaitu SMPN 8 Bandung (sekarang SMPN 1 Margahayu, di sebelah Lanud Sulaiman).
Baksos Javaretro telah diadakan secara rutin selama delapan tahun terakhir sejak tahun 2018. Ide untuk membantu anak-anak difabel lahir dari Petrus yang berlatar belakang pengusaha. Dr. I Nyoman Arya, lulusan Kedokteran Unjani, melakukan pemeriksaan terhadap pasien-pasien siswa SD hingga SMA penerima manfaat baksos. Sementara itu, Ricky, lulusan akademi keperawatan, mengatur perawat dan apoteker yang hadir karena mereka juga menyediakan obat gratis bagi para klien cilik mereka.
Sedangkan Petrus menyediakan sarana dan prasarana pendukung serta sarana pendidikan untuk dihadiahkan kepada para peserta baksos. Baksos ini diadakan di salah satu aset milik Petrus di bilangan Pasteur, berdekatan dengan Hotel Javaretro yang kebetulan dimiliki oleh Petrus juga.
Harapan dan Kepercayaan Terhadap TNI
Ketiga sahabat ini bangga menjadi anak-anak TNI AU dan kini bergelut dengan kegiatan kemanusiaan dengan menegakkan marwah TNI seperti yang biasa ditegakkan ayah mereka sebagai prajurit TNI AU. Ketiganya merupakan putra dari para prajurit Kopasgat yang mendedikasikan hidupnya bagi negara dan bangsa.
Dr. I Nyoman Arya adalah putra dari Serma I Made Pegeg (Purn), Petrus adalah putra dari Serma Barnabas Kariman (Purn), sedangkan Ricky dikenal sebagai putra Mayor Alfonsus Suheri (Purn). Petrus berharap citra-citra negatif TNI yang berembus belakangan tidak membuat masyarakat berpandangan negatif mengingat setitik noda jauh lebih kecil dibanding pengabdian dan jasa TNI bagi bangsa dan negara ini.
“Dalam kesatuan sudah biasa ada dugaan kekeliruan, itu sudah biasa. Namun yang harus diingat bahwa pengabdian TNI bagi bangsa, termasuk keluarga besarnya, jauh lebih besar dibanding sedikit kesalahan yang lumrah terjadi terhadap siapapun dan dimana pun, tak hanya pada TNI saja,” katanya.
