Mitos Tanah Kediri dan Penangkapan Wali Kota Madiun Maidi
Kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang menjerat Wali Kota Madiun Maidi pada Senin (19/1/2026) kembali memicu perbincangan mengenai mitos kesakralan Tanah Kediri. Meski belum ada bukti konkret, banyak pihak percaya bahwa wilayah ini memiliki kekuatan alami yang mampu memengaruhi nasib para pejabat.
Kunjungan Maidi ke Kediri Sebelum OTT
Beberapa hari sebelum penangkapannya, Maidi melakukan kunjungan kerja ke Kota Kediri. Ia tiba di sana pada Selasa (13/1/2026) dan Rabu (14/1/2026) dalam rangka menandatangani kerja sama antardaerah dengan Pemerintah Kota Kediri. Dalam acara tersebut, Maidi menyampaikan bahwa kolaborasi antar daerah sangat penting untuk saling mendukung dalam berbagai bidang seperti pemerintahan, pembangunan, ekonomi, pariwisata, dan lingkungan.
Dalam pidatonya, ia menjelaskan bahwa potensi unggulan dari kedua kota dapat dikolaborasikan untuk meningkatkan stabilitas pasokan bahan pokok dan pengembangan ekonomi. Namun, beberapa hari setelah kunjungan tersebut, Maidi ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam operasi senyap.
Peristiwa OTT KPK yang Menggegerkan
Penyidik KPK melakukan OTT di Kota Madiun pada Senin (19/1/2026). Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengonfirmasi adanya operasi tersebut. Menurutnya, tim penyidik mengamankan 15 orang, termasuk Maidi, serta uang tunai senilai ratusan juta rupiah. OTT ini diduga terkait praktik komisi proyek dan pengelolaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) di wilayah Kota Madiun.
Setelah menjalani pemeriksaan awal di Polres Madiun, Maidi dibawa ke Jakarta pada pukul 17.00 WIB. Ia terlihat mengenakan masker, topi, dan jaket, serta tidak memberikan pernyataan apa pun kepada media.
Balai Kota Madiun Sepi Pasca OTT
Setelah OTT tersebut, suasana Balai Kota Madiun menjadi lengang. Agenda apel pagi yang rencananya diikuti oleh Maidi tidak terlaksana. Pesan di grup internal Kominfo Kota Madiun sempat menyebutkan bahwa Wali Kota akan menghadiri apel pejabat pada pukul 07.00 WIB, tetapi agenda tersebut dibatalkan.
Mitos Tanah Kediri dalam Sejarah Politik Nasional
Mitos tentang kesakralan Tanah Kediri tidak hanya terkait dengan kepala daerah. Dalam sejarah politik nasional, wilayah yang dibelah Sungai Brantas ini sering dikaitkan dengan cerita bahwa presiden atau calon presiden yang pernah berkunjung ke Kediri tidak akan menyelesaikan masa jabatannya. Fenomena ini kembali mencuri perhatian saat Pilpres 2024, di mana tidak ada calon presiden maupun wakil presiden yang melakukan kunjungan ke Kediri.
Meski alasan resmi tidak pernah dikaitkan dengan mitos, masyarakat setempat tetap meyakini adanya “pantangan tak tertulis” tersebut.
Antara Mitos, Kebetulan, dan Realitas Hukum
Apakah penangkapan Maidi benar-benar terkait dengan mitos kesakralan Tanah Kediri, atau hanya kebetulan yang berulang? Jawabannya tentu kembali pada proses hukum yang berjalan. Namun satu hal yang pasti, setiap peristiwa politik besar yang beririsan dengan Kediri selalu berhasil menghidupkan kembali cerita lama tentang Bumi Panjalu.
Mitos ini mungkin tidak pernah terbukti secara ilmiah, tetapi terus dipercaya dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kepercayaan ini bisa menjadi bagian dari budaya lokal yang memperkaya identitas masyarakat Jawa Timur.
