Kembalinya Wisata Guci Pasca Banjir Bandang

Setelah mengalami masa yang cukup sulit akibat bencana banjir bandang pada akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026, Daya Tarik Wisata (DTW) Guci Kabupaten Tegal kembali menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pada momen libur sekolah, wisata ini mengalami peningkatan kunjungan yang sangat signifikan. Keadaan ini menjadi pemandangan langka terutama setelah peristiwa alam tersebut.

Kepadatan arus lalu lintas menuju ikon wisata Kabupaten Tegal terlihat jelas pada Minggu (5/7/2026). Kendaraan yang datang didominasi oleh mobil pribadi, bus kecil, bus besar, mobil pikap, mobil elf, dan sepeda motor. Antrean kendaraan juga terjadi di gerbang utama wisata Guci, baik yang hendak masuk maupun keluar dari kawasan wisata.

Di kawasan wisata, khususnya di parkiran pasar Guci, terlihat keramaian yang tidak biasa. Ribuan pengunjung memadati kawasan Pemandian Air Panas Pancuran 13 dan semua sudut wisata Guci kembali hidup dipadati wisatawan. Kios-kios yang sebelumnya tutup karena sepi pengunjung kini kembali buka dan ramai diminati.

Pedagang berbagai jenis barang seperti sayuran, oleh-oleh, pakaian, makanan, jajanan, minuman, mainan, sate kelinci, serta sewa kuda untuk keliling Guci semuanya ramai diminati wisatawan. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di kawasan wisata mulai pulih.

Pengunjung Didominasi dari Luar Daerah

Menurut Koordinator Lapangan DTW Guci Slamet Sahroony atau akrab disapa Sueb, momen libur sekolah ini membawa lonjakan kunjungan yang sangat signifikan. Kondisi ramai mulai terasa sejak dua minggu terakhir dan paling ramai terjadi pada Minggu (5/7/2026). Meskipun arus lalu lintas padat merayap dan mengular, namun Sueb menyebutkan bahwa kondisi tetap lancar.

Selain plat lokal, kendaraan pengunjung didominasi plat luar daerah seperti B, D, F, R, H, E, L, K, AA, dan lainnya. Kepadatan kendaraan terjadi sejak pagi hari, sekitar pukul 08.00 WIB, karena bergantian keluar dan masuk mobil. Bus besar juga banyak yang ke sini sehingga membuat suasana kembali ramai seperti sebelum banjir bandang.

Sueb menjelaskan bahwa wisatawan didominasi dari luar kota dibandingkan pengunjung lokal Kabupaten Tegal dan sekitarnya. Ramainya wisata Guci ini disebabkan oleh bertepatannya dengan libur sekolah dan diprediksi akan terus mengalami peningkatan.

Kondisi Penginapan dan Pemandian Air Panas

Tidak hanya wisata yang ramai, penginapan yang berada di kawasan Guci juga ramai dan hampir semuanya penuh. Sueb menyebutkan bahwa wisata Guci mulai dipadati dan diminati wisatawan dari berbagai daerah, tidak hanya lokal saja.

“Alhamdulilah wisata Guci aman dan nyaman dikunjungi. Selain itu air panas alami juga sudah bisa dinikmati termasuk di penginapan,” ujar Sueb.

Kondisi Pemandian Air Panas Pancuran 13

Kompleks Pancuran 13 Taman Wisata Alam (TWA) Guci terdapat dua sumber mata air panas yang mengaliri dua kolam pemandian berbeda. Pasca banjir bandang, sumber mata air Pancuran 13 tertimbun material batu dan pasir sehingga belum bisa dimanfaatkan. Saat ini, aktivitas pemandian hanya mengandalkan aliran dari mata air Cemangkung.

Menurut pengelola Pancuran 13 Heri Siswanto, mata air Cemangkung biasanya mengalir lebih deras dengan suhu yang cukup panas saat musim hujan. Saat ini, meski kondisinya belum pulih sepenuhnya, Pancuran 13 tetap diminati pengunjung.

Penjaga tempat bilas Pancuran 13 Guci, Amar, menjelaskan bahwa sumber mata air yang saat ini dialirkan menggunakan pipa paralon sebenarnya merupakan mata air Cemangkung yang sejak lama dimanfaatkan untuk kolam pemandian bagian atas. Menurut Amar, mata air utama Pancuran 13 masih berada di lokasi semula, namun tertutup material banjir seperti bebatuan dan pasir sehingga belum dapat diakses.

Amar menjelaskan bahwa kompleks Pancuran 13 memiliki beberapa kolam pemandian. Sedangkan air yang kini digunakan pengunjung mandi air panas berasal dari mata air yang sebelumnya mengaliri kolam bagian atas.

Meski hanya mengandalkan mata air Cemangkung, Amar bersyukur pengunjung masih bisa menikmati sensasi berendam air panas meski dengan sarana terbatas. “Ya sementara masih bisa dinikmati karena suhu airnya masih cukup hangat untuk berendam. Meskipun sebenarnya paling bagus adalah sumber yang di bawah yaitu mata air Pancuran 13 yang sekarang tertutup material,” terang Amar.

Adapun hingga kini, kondisi sarana dan prasarana di kawasan Pancuran 13 masih mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang dan belum seluruhnya diperbaiki. Sampai sekarang pun masuk kawasan Pancuran 13 Guci juga masih gratis pasca bencana banjir bandang.

Pengunjung hanya membayar retribusi masuk wisata Guci yang saat ini tarif masuk Senin-Jumat untuk anak-anak Rp13.000 dan dewasa Rp15 ribu per orang. Kemudian hari libur atau Sabtu-Minggu, pengunjung anak-anak tarif Rp18.000 dan dewasa Rp20.000 per orang. Tarif tersebut sesuai Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Tegal nomor 11 tahun 2023.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version